Wisuda

new malang pos

NewMalangPos – Sebentar lagi umat Islam menyambut hari raya Idul Fitri, sebagai hari  kesyukuran dan kegembiraan bagi kaum muslimin. Karena di bulan ramadan yang penuh rahmat, berkah, maghfiroh, dan dijanjikan Allah terbebas dari api neraka, sedang dilakukan oleh kaum muslimin sebagai bentuk penghambaannya. “Hablum minallah” mengabdi, dan berbakti kepada Allah dengan cara melaksanakan ibadah puasa di siang hari, dan melaksanakan berbagai paket amalan ibadah di malam hari, atas dasar ikhlas, patuh, tunduk dan mengharap ridha Allah semata. Kemudian diakhiri dengan menunaikan zakat fitrah (QS. at-Taubah, 3) “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, karena dengan zakat itu Kami membersihkan dan mensucikan mereka.”

          Zakat yang dikeluarkan, merupakan salah satu upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan mewujudkan rasa kemanusiaan, solidaritas, dan kesetiakawanan sosial terhadap sesama umat. Dari zakat, diharapkan menggugah gairah kerja, kesetiakawanan umat, solidaritas sosial, kemudian menuju kesadaran individu untuk bekerja keras dan cerdas, menuju masyarakat adil yang berkemakmuran, dan kemakmuran yang berkeadilan.

          Dengan melaksanakan puasa dan zakat, berarti lengkaplah diri manusia dalam mensucikan diri dari jiwa dan sifat-sifat keji, kotor, baik nafsu tamak, kikir, sombong, iri hati, dengki, dan segala moral yang rendah. Maka sungguh berbahagialah orang-orang yang patuh dan taat melaksanakan perintah Allah (QS. al-’Ala, 14-15) “Sesungguhnya sangat berbahagialah orang membersihkan diri, dan dia mengingat nama Tuhan-Nya lantas dia menegakkan sholat.”

Baca Juga :  KPK Awasi Fasum Fasos

          Kesucian inilah yang terkandung dalam rahasia Idul Fitri yang sebentar lagi disambut kaum muslimin dengan rasa gembira, saling memaafkan kekhilafan di antara sesamanya yang telah lalu, sehingga hamba Allah seakan-akan kembali kepada asal kejadiannya yang suci.

Piagam

          Hari Raya Fitri adalah hari yang penuh kebahagiaan, karena di antara mereka yang terpilih untuk diwisuda oleh Allah SWT, dengan derajat muttaqin dan menerima piagam-piagam atau penghargaan yang dibagikan-Nya, seperti Sabda Rasulullah SAW; ”Apabila terjadi hari raya Idul Fitri, malaikat menyambut di pintu-pintu jalan. Mereka menyerukan wahai orang-orang Islam, berangkatlah pagi-pagi menuju Tuhan yang maha murah, yang menebarkan kebajikan, yang memberi pahala sebanyak-banyaknya. Kalian telah diperintahkan salat malam, maka telah kalian laksanakan, kalian telah diperintahkan puasa pada siang hari, dan telah kalian kerjakan. Dan kalian telah mematuhi Tuhan kalian, maka terimalah piagam hadiahnya. Maka apabila mereka telah selesai salat (Idul Fitri) ada malaikat yang memanggil: ingatlah bahwa Tuhan kalian telah mengampuni dosa-dosa kalian. Kembalilah ke tempat tinggal kalian sebagai orang-orang yang mendapat kebenaran jalan hidup. Hari ini adalah hari pemberian anugerah (wisuda). Di langit pun hari ini dinamai “Yaumul Ja’izah” (hari pemberian anugerah).

Saleh Sosial dan Ritual

          Modal ibadah puasa yang telah dilaksanakan kaum muslimin, perlu dijadikan sarana untuk mengabdikan diri kepada Allah, dan pengabdian sosial untuk meningkatkan kualitas hidup, dan untuk menghadapi setidaknya 4 hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia.

Baca Juga :  Rumah Mewah, Ridho Sudah Lama Menghilang

          Pertama,  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga manusia sulit mengendalikan dan tahu-tahu kita telah berada di dalamnya. Sebagai contoh kemajuan iptek dengan teknologi internet of things, sudah sulit mengendalikan terutama berita yang bersifat pornografi, berbagai model manipulasi gambar, berita hoaks, pembobolan bank dan sebagaianya,    Kedua,pengaruh revolusi informasi,mempengaruhi padapandangan, sikap, dan perilaku manusia baik secara individu maupun kelompok. Sebagai contoh menguatnya informasi audio visual seperti televisi, internet, handphone, dan video game menurut ahli informasi telah membawa keuntungan bagi manusia, tetapi juga menimbulkan masalah dalam dunia pendidikan. Di majalah al-Kahfi yang diterbitkan di Arab Saudi bahwa video game banyak menurunkan minat baca anak, waktunya tersita dengan asyik bermain video game.

          Ketiga, derasnya perubahan sosial-ekonomi, dan budaya, yang sering menyeret manusia untuk berbuat nekat, misalnya banyak anak-anak sekolah yang kadang masih berseragam sekolah berada di Mall. Mereka melihat barang-barang yang mereka sukai tetapi ia tidak memiliki uang, sehingga menawarkan dirinya kepada orang lain yang berduit. Begitu pula perubahan sosial politik; yang membawa kehidupan masyarakat pandai melakukan transaksional dengan imbalan materi, dan lain sebagainya. 

Baca Juga :  Sakit Hati, Tuduh Ayah Selingkuh dengan Mantan Istri

          Keempat,degradasi kehidupan moral yang sulit terbendung, terutama di kalangan generasi muda, yang suka meniru tanpa seleksi. Dulu anak sekolah yang nilainya baik, moralitasnya baik pula, tetapi sekarang nilai prestasi ujiannya baik tetapi moralitasnya belum bisa dipertanggung jawabkan secara baik pula. 

          Untuk itu, orang beriman harusnya mampu membuat perubahan atau peningkatan perilaku positif dalam lingkungan pribadi maupun lingkungan sosial. Sebagai buah puasa ramadan. Puasa bukan menahan makan  dan minum, lalu ramai-ramai berbuka ketika maghrib tiba, kemudian tarawih dan membagi-bagikan sekantong beras zakat fitrah di akhir ramadan, dan tidak mampu mengendalikan empat hal yang sangat berpengaruh di atas, baik pola pikir, tutur kata, sikap dan perilaku tidak lebih baik, bahkan lebih jelek dibanding dengan sebelum puasa.

          Puasa dianggapnya sebagai ibadah formal yang mekanis, sehingga esensi ajarannya terlupakan. Puasa lebih banyak diyakini, dan diamalkan semata-mata sebagai ritus formal, yang secara rutin setahun sekali, dan diyakini hanya memiliki dimensi samawi, sehingga tidak punya dampak sosial yang dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat.

          Padahal taqwa sebagai tujuan puasa menurut Alquran, mempunyai dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi seseorang tidak dapat disebut taqwa jika hanya mempunyai keshalehan sosial tanpa diimbangi keshalehan ritual. Seseorang baru disebut shaleh jika memiliki kedua-duanya, shaleh sosial sekaligus shaleh ritual.(*)