Weekend Story, Menulis Puluhan Buku

Malang, NewMalangPosSetiap 2 April diperingati sebagai Hari Buku Anak Sedunia. Harusnya ini momentum hidupkan dunia literasi untuk anak-anak. Perbanyaklah karya buku, terutama bacaan anak-anak. Miyosi Margi Utami sudah memulainya.

Membentuk Peradaban

Miyosi, sapaan akrab Miyosi Margi Utami memengaruhi anak-anak agar memperkaya literasi melalui karyanya. Warga Grand Mutiara Regency, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu ini produktif menghasilkan buku bacaan anak-anak.  Ia sudah menerbitkan puluhan buku.

“Aku suka menulis sejak bisa baca. Tapi baru serius menekuni untuk benar-benar membuat karya pada tahun 2009 setelah menikah,” ujar Miyosi kepada New Malang Pos.

Menulis membuat alumnus SMAN 3 Malang ini merasa tetap hidup dan berguna selamanya. Selain melalui buku, karya Miyosi bisa diakses di blog pribadinya, www.miyosiariefiansyah.com.

“Bagi ku membaca membuat kita tahu banyak sisi lain kehidupan. Sedangkan menulis melatih kita berani menyampaikan gagasan. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Dua kegiatan tersebut melatih kepekaan dan kepedulian kita sebagai manusia,” beber ibu satu anak ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, melangkah sebagi penulis dimulai dengan hal remeh temeh. Seperti saat mengurus kebutuhan administrasi di institusi pemerintah, perjalanannya ke suatu tempat, hingga pengalamannya menjadi seorang ibu dan mengurus anak. Ya, memulai dari hal ringan kemudian berbobot menjadi sebuah karya.

Baca Juga :  PPKM Darurat Diperpanjang JTP Group Tutup Sampai 31 Juli

Namun demikian tak sedikit rintangan yang harus dihadapi. Bahkan dicemooh orang lain lantaran menganggap menulis adalah pekerjaan orang yang nganggur. Namun itu tak membuatnya patah semangat. Justru sebaliknya. 

“Dari situlah saya ingin lebih melakukan sosialisasi lagi bahwa menulis itu menyenangkan. Siapa pun bisa kalau mau. Kalau toh bukan untuk tujuan komersial, setidaknya menulis bisa sebagai teman perjalanan hidup,” beber alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini. 

“Melalui tulisan saya membayangkan cucu dan cicit saya kelak bisa mengenal saya dengan dekat. Walau mungkin secara fisik enggak bisa, ya salah satunya dengan membaca tulisan-tulisan saya,” sambung Miyosi.

Istri Ryan Ariefiansyah ini mengenang karya pertama yang berhasil cetak adalah antologi 24 Jam bersama Forum Lingkar Pena. Sedangkan buku anak yang paling menarik yang pernah ditulis berjudul “sportif”.

Ia menjelaskan kenapa suka buku tersebut. Karena di dalamnya berisi tentang ajakan kepada anak-anak sportif sejak dini. “Simpelnya mengakui kehebatan orang lain, mau belajar untuk lebih baik. Itu yang harus kita tanamkan pada anak-anak usia dini,” imbuhnya.

Di sisi lain dengan menulis, Miyosi mengungkapkan juga menjadi penghasilan tambahan. Hal lainnya juga pengalaman dan teman baru. Tapi menurutnya dua hal terakhir itu yang tak ternilai.

Baca Juga :  Uji Publik Calon Sekda Harus Transparan

Sedangkan teknis penulisan, untuk satu buku bisa seminggu hingga dua minggu. Itu bisa dibilang cepat. Yang lama proses pengumpulan datanya. Proses pengumpulan data bahkan bisa berbulan-bulan, bahkan tahun. Karena untuk literatur sangat beragam. Mulai dari buku, wawancara ahli, pengamatan dan pengalaman.

“Saya tidak mau hanya sekadar menulis. Proses pengumpulan data bisa berbulan-bulan bahkan tahun. Ini agar apa yang saya kerjakan tak sekadar merangkai kata menjadi kalimat. Namun memiliki pesan dan bermanfaat bagi pembaca,” katanya.

Memang benar, dengan karya yang memiliki bobot, ia tak perlu susah payah menerbitkan buku. Sejauh ini buku-buku karyanya lebih banyak diterbitkan oleh penerbit mayor sepeti Gramedia.  

“Tapi yang jelas tujuannya saya menulis karena ingin ‘ngeracun’ orang-orang bahwa menulis itu jelas ada gunanya, mudah, membentuk peradaban bangsa. Terakhir siapa pun bisa menulis,” paparnya.

Melalui tangan dingin Miyosi, banyak buku telah diterbitkan. Buku yang ditulis bersama suami  ada enam buku, buku solo sebanyak 15, buku duo bersama teman enam, buku antologi 15 karya, buku bersama tim sebanyak enam, dan khusus tentang cerita anak ada sembilan karya.

Baca Juga :  Disporapar Kota Malang Serahkan Alat Olahraga ke 6 Kelurahan

Ajak Hidupi Dunia Literasi di Batu

Menemani suami menyelesaikan pendidikan S2 di Jepang selama 426 hari tak sekadar menunaikan kewajiban. Namun jadi wadah baginya menyusun sebuah buku tentang Negeri Sakura tersebut.

“Rencana dalam waktu dekat ini saya akan kembali menerbitkan buku. Tepatnya tentang pengalaman dan perjalanan saya di Jepang. Isinya berdasarkan pengalaman pribadi saya,” ungkap Miyosi Margi Utami.

Tepat di bulan Maret, bulan dimana ia dan keluarga harus balik dari Negeri Sakura tercinta.Pengalaman itu ia bagikan melalui karyanya karena banyak teman-temannya yang meminta.

“Yang jelas, ada begitu kenangan indah yang akan terus melekat sampai kapan pun. Tak cukup jika harus dijelaskan di sini saking banyaknya. Karena itu saya ingin bagi pengalaman saya,” terangnya.

Tak hanya itu, sepulang dari Jepang ia juga punya rencana mengajak rekan-rekan sekitarnya untuk menulis buku yang berkualitas. “Jadi sepulang dari Jepang saya juga akan mengajak rekan-rekan untuk berbagi pengalaman dan giat menulis untuk melahirkan karya berkualitas. Kalau bisa pulang ke kampung halaman dan kemudian ajak anak-anak muda untuk menulis dan menghidupi dunia literasi di Kota Batu,” pungkasnya.  (eri/van)

artikel Pilihan