Warga Kampung Damai Ngaglik Keluhkan Pencemaran Sungai Kebo

9
ikan mati. (NMP-M.Firman)

Sebabkan Bau Tidak Sedap dan Puluhan Ikan Mati

KOTA BATU, NewMalangPos – Bau tak sedap menguar di sepanjang aliran Sungai Kebo di RW 2, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Hal tersebut sudah berlangsung sekitar dua tahun ini. Namun yang parah terjadi dalam beberapa hari ini.

Bau tak sedap tersebut berdampak dan mengganggu warga di sepanjang sungai tersebut. Bahkan tak hanya bau tak sedap, tapi air sungai tersebut juga tampak tercemar hingga berwarna hijau dan menyebabkan kolam ikan milik warga yang menggunakan air sungai Kebo banyak yang mati.

Lebih parahnya lagi, sungai tersebut juga berdekatan dengan sumber mata air (belik,red) yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mandi dan mencuci. Sehingga membuat warga khawatir jika nantinya air sungai mencemari sumber air.

Baca Juga: Catat! Warga di Wilayah Aglomerasi Malang, Aman dari Penyekatan

Arif Kurniawan salah satu warga RW 2, Kelurahan Ngaglik menyampaikan keluhan tersebut. Ia menduga pencemaran air Sungai Kebo akibat menjadi tempat pembuangan limbah (kotoran,red) ternak di sekitar Desa Pesanggrahan. Tepatnya yang ada di belakang Puskesmas Batu.

“Ini sudah lama terjadi. Tapi bau sangat menyengat baru terjadi beberapa waktu ini. Selain bau menyengat, kualitas air sungai yang sangat keruh menyebabkan ikan yang dirawat warga dengan menggunakan air Sungai Kebo banyak yang mati,” ujar Arif kepada New Malang Pos, Selasa (4/5) siang.

Lebih lanjut, ia juga menerangkan, bahwa aliran sungai Kebo tersebut selama ini dimanfaatkan oleh warga untuk mengaliri lahan pertanian di daerah Kelurahan Sisir. Kemudian berakhir di Sungai Brantas yang mengaliri 14 Kota/Kabupaten di Jawa Timur.

Baca Juga: Tak Bawa Surat Sehat Covid, 13 Kendaran Luar Kota Putar Balik

“Dengan permasalahan ini kami berharap pemerintah bisa mencarikan solusi. Sehingga Sungai Kebo kualitas airnya bisa membaik,” harapnya.

Ia juga menerangkan bahwa masyarakat sudah sering mengadukan secara lisan masalah ini ke pihak Kelurahan Ngaglik dan dinas terkait. Tetapi belum ada tindak lanjut.

Ditambahkan oleh Didik Harianto yang merupakan peternak ikan di Kampung Damai, RW 2 Kelurahan Ngaglik juga menyampaikan kegelisahan tersebut. Ia menyampaikan akibat dari aliran sungai yang telah tercemar tersebut mengakibatkan ikan yang ia pelihara mati.

“Ini paling parah. Setiap hari ikan yang saya pelihara dengan menggunakan air Sungai Kebo seperti nila, tawas, dan koi mati. Beberapa hari ini sudah puluhan ikan yang mati. Jika dihitung-hitung kerugian ya lumayan. Dengan per kilogram bisa terjual Rp 30 ribu,” keluhnya. (eri/ley)