WALHI Tuding Proyek Jembatan Kaca di Kawasan Bromo Tak Punya Etika Lingkungan dan Budaya

Lahan yang sudah mengalami pembersihan dipersiapkan investor untuk proyek wisata dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). (Dokumentasi Walhi Jatim/IST)

MALANG, New Malang Pos – Rencana pembangunan proyek pendukung sarana wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menuai kritik. Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (WALHI Jatim) menilai, pembangunan jembatan kaca dapat mengancam kelestarian ekologi dan adat. Walhi menekankan agar membuka studi rancangan kawasan dan Amdal.

Manajer Kampanye Walhi Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mengatakan, ada ancaman degradasi lingkungan sebagai salah satu turunan bencana ekologis dari efek proyek tersebut. Wisata yang menekankan pada wisata massal (banyak pengunjung) akan mendorong kerentanan kawasan, karena mereka memadati suatu tempat dan semakin banyak wisatawan maka akan memicu pembangunan fasilitas lain.

“Perlahan tapi pasti kawasan yang seharusnya terjaga berubah konsepnya sebagai area perlindungan dan berubah menjadi area ekonomi,” ujar Wahyu Eka saat dikonfirmasi, Selasa (28/9).

Baca Juga :  Mahasiswa UIN Malang Meninggal Saat Ikuti PPAB Pencak Silat di Coban Rais

Wahyu menyebut rencana pembangunan tersebut tidak memiliki etika lingkungan dan budaya. Karena turut mendorong transformasi masyarakat adat.

“Dampaknya, mereka beberapa kehilangan keterikatannya dengan nilai spiritual dan alam. Sehingga perubahan tersebut akan memicu pola ekstraksi atas alam, di mana orang menganggap bahwa kawasan perlindungan hanya dimaknai sebagai kawasan ekonomi,” tuturnya.

Ia menambahkan, meski disebut berada di ruang usaha dalam zona pemanfaatan, pembangunan wahana dan sarana pendukung wisata di Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo itu tetap harus memperhatikan kaidah konservasi. Ini mesti dilakukan karena lokasi wahana itu berada di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Baca Juga :  Rumah Semipermanen Dibangun, Bantuan Terus Mengalir

Proyek tersebut bagian dari mega proyek KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) sesuai Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2011 yang salah satu idenya adalah menciptakan 10 bali baru.

Seperti diketahui, rencana pembangunan wahana di Jemplang menjadi perhatian khalayak. Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur juga menyoroti rencana itu dengan mengatakan, taman nasional yang ditujukan untuk menjaga kawasan dan melindungi keanekaragaman hayati itu telah diubah.

Pria yang akrab disapa Biber ini menjelaskan, konservasi secara harfiah adalah menjaga, merawat dan melindungi. Namun, jika aktivitas ekonomi diutamanakan apalagi berbasis ekstraksi seperti wisata massal. Maka secara ide pun sudah tidak sesuai makna harfiah dari konservasi.

Baca Juga :  Lepas Pakaian Sampai Bugil, Tewas di Samping Wendit

“Secara ide konservasi yang ekosentris sekali sudah gagal, alias cacat sejak dari ide,” ucapnya.

Baginya, selama ini prinsip partisipasi masyarakat tidak dilakukan secara penuh, seperti pemetaan zonasi dari sudut pandang masyarakat.

“Mungkin klaimnya sudah, tapi mungkin hanya perwakilan tidak menyeluruh. Maka dari itu kami meminta TNBTS membuka studi rancangan kawasan TNBTS beserta rencana KSPN. Serta dokumen Amdal atau perizinan usaha yg telah disepakati di sana, sebagai bahan kajian publik, agar informasi umum seperti itu diketahui oleh masyarakat,” tutupnya. (tyo/bua)

artikel Pilihan