Uswah

NEW MALANG POS – Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik, QS. 33: 21).

Untuk bisa mencintai dan meneladani kehidupan Nabi Muhammad secara benar, tentu harus mempelajari serta mengkaji sepak terjang beliau semasa hidupnya. Orang-orang Arab pada zaman jahiliyah, yakni umat yang berselisih, terlantar, musyrik, penganut paganisme, suka berperang dan saling membunuh.

Ketika Nabi Muhammad Rasulullah SAW diutus menjadi rasul, beliau memperbaiki kebobrokan akhlak, sebagaimana Sabdanya; “innamaa bu’itstu li utammima makaarimal akhlaaq.

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Allah pun memuji keluhuran akhlak beliau sebagaimana tergambar dalam QS. 95:4; “Sesungguhnya engkau (Wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”

Beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul di suatu tempat yang masyarakatnya mengalami degradasi akhlak (moral-susila) yang luar biasa. Kaum Quraisy di Makkah suka mabuk-mabukan, berjudi, dan mengundi nasib adalah sebagian kerusakan akhlaknya. Karena kondisi moral yang demikian rusak, maka mereka disebut sebagai masyarakat jahiliyah dan jauh dari nilai-nilai ketauhidan.

Mereka seperti binatang, saling berperang hanya gara-gara urusan seekor kambing. Saling memutuskan silaturahim, sujud kepada berhala dan menyembah patung. Ketika Rasulullah SAW diutus, beliau membebaskan mereka dan menjadikan mereka menjadi hamba Allah.

Banyak kisah bertaburan tentang keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW, dari Anas bin Malik RA beliau berkata; “Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lalu dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para Sahabat ketika itu meneriakinya dan berkeinginan untuk mencegahnya, namun Rasulullah SAW, dengan penuh bijaksana bersabda; “Jangan kalian putuskan kencingnya”, Maka tatkala orang tersebut selesai dari kencingnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena air kencing itu disiram dengan satu ember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan bersabda kepadanya; “Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun ia dipersiapkan untuk salat dan membaca Alquran dan dzikrullah.” (HR. Bukhari Muslim).

Baca Juga :  Upacara HUT Ke-76 TNI, Terpusat di Madivif 2 Kostrad Virtual Dan Terbatas

Dalam riwayat Imam bin Hambal, orang Badui itu berkata: “Ya Allah, sayangilah saya dan Muhammad dan janganlah engkau sayangi seorang pun.” Rasulullah SAW dihadapkan pada kepedihan, ketabahan, kesabaran, dan ujian agar menjadi teladan bagi manusia.

Hasrat Cinta
Rasulullah SAW pernah patah gigi depannya, kepalanya terluka, terjatuh dari kudanya, kehormatan, dan keluhurannya terlukai dan dihina, para sahabatnya dibunuh, dan menderita di perang Uhud. Namun, semua itu merupakan jalan untuk meninggikan kedudukan yang dipilih Allah untuknya menurut Aidh Al Qarni (2014: 54).

Itulah dimensi manusiawi Rasulullah Muhammad SAW yang bisa mengalami peristiwa sebagaimana yang dialami seorang manusia biasa (QS. 18:110). Tafsir QS. 18:110, dapat dijelaskan bahwa Tuhan sesembahan kalian yang benar adalah Tuhan yang Esa tiada sekutu bagi-Nya, yaitu Allah.

Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan yang sesuai dengan syariatnya, disertai keikhlasan dalam melakukannya, dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Sebagai idola dan teladan dalam segala aspek kehidupan. Beliau tidak hanya berperan sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai guru atau konselor, panglima perang, kepala negara, arsitek peradaban, suami, dan ayah teladan.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika seorang Michael H. Hart, pengarang The 100; A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad di peringkat pertama manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah. Di bawah beliau bertengger Isaac Newton (peringkat dua), Yesus (peringkat tiga), Siddharta Gautama (peringkat empat), Kong Hu Cu (peringkat lima), dan masih banyak tokoh dunia lainnya. Salah satu cara meneladani beliau adalah dengan mencintainya melebihi cinta kita kepada kedua orang tua, anak, dan semua manusia.

Baca Juga :  Marketing – Jurnalis, Enjoy Saja !

Rasulullah bersabda; “Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya (HR. Bukhari). Hal ini bukan berarti ada peluang untuk mengabaikan kedua orang tua dan keluarganya, hasrat cinta kepada kedua orang tua dan keluarganya dengan cara selalu menyenangkan dan membahagiakan dengan batas-batas syari’at agama, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Memegang Prinsip
Nabi Muhammad SAW terkenal sebagai seorang yang memegang teguh pada prinsip shiddiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Pertama, shiddiq artinya benar, memiliki kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan serta perbuatan berdasarkan ajaran Islam.

Ucapan dan perbuatannya selalu sejalan tidak ada yang berbeda. Dalam dunia kerja kejujuran ditampilkan dalam bentuk kesungguhan dan ketepatan. Baik tepat waktu, tepat janji dan pelayanan, transparansi laporan mengakui kekurangan (tidak ditutup- tutupi) untuk kemudian diperbaiki secara terus menerus. Dalam QS. 53: 4-5 yang artinya “Dan tiadalah yang diucapkan (Nabi Muhammad) itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya”, dan “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.’’

Kedua, fathanah berarti mengerti, memahami (cerdas) secara mendalam, segala hal yang telah menjadi kewajibannya. Sikap ini apabila dikembangkan dapat menimbulkan kreativitas dan inovasi untuk berbuat segala sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Begitu pula cara mengambil keputusan dilakukan dengan baik dan benar, maupun mempertimbangkan segala aspek yang diimbangi pengetahuan ilmu agama sehingga dapat bekerja secara profesional. Dalam QS. 95:5, bahwa “Manusia sebagai makhluk yang (cerdas) ciptaan Tuhan yang paling sempurna.”

Ketiga, amanah artinya benar-benar dapat dipercaya, memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan dan menyadari setiap tugas dan kewajibannya masing-masing. Amanah ditunjukkan dengan sikap terbuka, jujur, memberikan pelayanan kepada masyarakat secara optimal, sifat amanah selalu mengembangkan proses berpikir yang selalu produktif, berpikir untuk selalu membangun dan visioner.

Baca Juga :  Ada Gilang di Dua Arema, Tegaskan Bukan Merger, Profesional Sponsor

Amanah dapat diartikan sebagai terpercaya dan dapat dipercaya. Jika dalam mengemban tugas seorang manusia harus dapat bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, sehingga timbullah kepercayaan dari masyarakat dan masyarakat tidak akan perlu lagi mempertanyakan kinerja seseorang yang bersungguh-sungguh melayani masyarakat sesuai dengan ekspektasinya. Dalam QS. 7: 68 yang artinya “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.”

Keempat, tabligh artinya mengajak orang lain dengan menyampaikan dan memberi contoh untuk melaksanakan sifat-sifat terpuji kepada masyarakat. Sehingga dalam pelayanan kepada siapapun dapat menjadi suri teladan yang baik bagi masyarakat. Dalam QS. 10:25 yang artinya “Allah menyeru manusia ke dalam Darussalam (Surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).

Empat prinsip di atas perlu dilakukan secara istiqomah walaupun banyak tantangan untuk mewujudkannya. Istiqomah dalam kebaikan diimplementasikan dengan keteguhan hati, sabar, ulet, sehingga akan menghasilkan sesuatu yang optimal apabila dilakukan secara terus menerus. Dalam QS. 41: 30 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ”Rabb kami ialah Allah kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Istiqomah adalah tidak menyelewengkan tanggung jawab untuk kepentingan pribadi.

Sikap teguh dan pendirian yang kuat tidak mudah tergoyahkan oleh godaan apapun, dan dalam suasana bagaimanapun, baik datangnya dari diri sendiri maupun dari luar dirinya, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ilahiah dan insaniah.(*)

artikel Pilihan