Ungkap Kejayaan Rock Hingga Cerita Konser di GOR Pulosari

25
new malang pos
Arief Wibisono merampungkan buku ‘Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90’. Buku tersebut jadi kado HUT Kota Malang tahun ini.

Arief Wibisono Hadirkan Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang

NewMalangPos – Arief Wibisono butuh waktu  9 tahun demi menghasilkan literasi penting tentang sejarah musik di Kota Malang. Kaum milenial diajak masuk dalam lorong waktu masa jaya atmosfer musik rock di Kota Malang. Bahkan cerita beken tentang tempat konser di GOR Pulosari yang kini sudah tak ada bakal diceritakan ulang.

Pria yang akrab disapa Bison ini sudah lama berkecimpung di dunia musik. Mulai dari promotor konser, manager roadshow musik hingga memiliki Event Organizer (EO) dilakoninya. Banyak pengalaman membuatnya terpanggil menulis buku ‘Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90’.

Buku setebal 120 halaman berisi tentang profil-profil band asal Malang hingga lokasi historis musik Kota Malang ini memang belum diluncurkan secara resmi. Bison menjadikan buku ini sebagai kado bagi Kota Malang.

“Ya 9 tahun buku ini mengendap. Karena cari sponsor juga dan dibantu MMI (Museum Musik Indonesia) juga akhirnya bisa selesai. Rencananya lannunching pas hari jadi Kota Malang. Tanggal 1 April nanti. Saya siapkan ini sebagai kado untuk HUT Kota Malang,” papar pria kelahiran 1976 ini.

Bison mulai mengumpulkan bahan-bahan tulisannya sejak tahun 2012 lalu. Saat itu mengorek-ngorek kembali dokumen-dokumen lama. Mulai dari foto konser, pamphlet, selebaran konser musik atau festival musik Kota Malang di era 1990-an.

Ya, Bison memang sejak dulu menyukai musik. Khususnya musik rock. Di era tahun 60-an, Musik rock berjaya di Kota Malang.  “Zaman saya SMP dan SMA saya suka nonton konser musik. Di Malang atau di luar. Saya dulu suka ngirim surat ke band-band itu jadi koresponden,” kata alumnus jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Merdeka (Unmer) Malang ini.

Saat ia giat mengikuti konser dan menikmati sajian music, Bison mengumpulkan banyak foto dan dokumen.  Ia menceritakan di era 1990-an setiap konser musik, khususnya konser musik rock, penonton diberikan semacam buku saku berukruan kecil.

Buku kecil ini isinya profil kelompok-kelompok band yang akan manggung. Ia setia mengumpulkannya. Paling banyak dia dapat saat event festival rock. Pada tahun 1990-an rutin digelar sebagai salah satu event musik rock terbesar di Indonesia.

“Terkadang saya menyusup sebentar ke backstage (belakang panggung) agar bisa dapat foto bareng atau ketemu band idola,” kenang Bison.

Selain dari mengikuti konser, ia juga menjadikan hasil korespondensi (surat menyurat) sebagai bahan dalam buku  yang ditulisnya. Beberapa di antaranya surat menyurat dengan Slank dan Whizzkid. Bison sempat bertanya mengenai pengalaman hingga kapan tur berikutnya dan next project dari band-band tersebut.

“Karena sering koresponden itu pas masuk kuliah saya ikut juga ke unit kegiatan mahasiswa menulis atau pers kampus. Kalau di Unmer, namanya UKPM (Unit Kegiatan Pers Mahasiswa) Civitas. Saat di situ saya sering liputan konser. Saya juga masuk tim yang mendatangkan Tri Utami, Djaduk Ferianto (alm), Butet Kertaradjasa ke kampus waktu itu tahun 1997,” ungkapnya.

Alumnus SMPN 12 Malang ini saat kuliah tergabung dalam Badan Perwakilan Mahasiwa, akan tetapi juga harus bertugas sebagai jurnalis kampus. Kedua tugas ini ia lakoni bersama, hasil tulisan konser diterbitkan di koran kampus.

Dokumen ini juga yang dijadikan referensi saat ia menulis buku. Pengalaman lain seperti menjadi manager roadshow vokalis Elpamas, Baruna Priyotomo di sekitar Tahun 2012 silam, juga dijadikan inspirasi.

“Saya ingin sejarah kejayaan musik di Kota Malang tidak hilang. Banyak kenangannya, memang harus ada yang mengabadikannya. Buku ini tujuannya agar sejarah ini tidak hilang,” tandas Bison.

Tidak hanya profil band di era tahun 1960 hingga tahun 1990-aan, beberapa sejarah mengenai lokasi historis musik di Kota Malang juga ditulisnya. Di antaranya lokasi konser musik yang kini sudah tidak ada lagi atau beralih fungsi yakni Gedung Cendrawasih (sekarang Gedung Kesenian Gajayana) dan GOR Pulosari (sekarang Giant Supermarket di Jalan Kawi)/

Sebelum ini, pada tahun 2017 lalu, Bison juga menulis buku biografi musisi legendaris Pungky Deaz, vokalis band Indonesia yang terkenal di era 80-an, Power Metal. Selanjutnya Bison juga tengah menyiapkan peluncuran buku-buku selanjutnya. “Ini saya juga mau menulis buku sejarah lainnya. Next akan ada sejarah Bentoel Band dan juga Ogle Eyes. Masih disiapkan. Lalu ini juga lagi proses untuk menulis buku sejarah RPH (Rumah Potong Hewan). Intinya segala tentang Kota Malang saya ingin tulis,” pungkas pemilik EO Bison Rock Entertainment ini. (Sisca Angelina/van)