UMM Gelar Vaksinasi Tahap Pertama

14
new malang pos
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang mengikuti agenda vaksinasi di tahap pertama

NewMalangPos – Perguruan tinggi bergerak cepat dalam penanganan pandemi Covid-19. Terlebih pemerintah telah merencanakan belajar tatap muka atau luring pada Juli 2021 mendatang. Maka sebagai langkah awal, jajaran pimpinan beserta dosen dan karyawan kampus bersiap lebih dulu. Salah satunya melaksanakan vaksinasi.

Seperti yang telah dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada 4-6 Maret lalu, UMM telah melangsungkan vaksinasi tahap pertama dengan memberikan 300 vaksin bagi dosen dan karyawan. Agenda tersebut digelar di Universitas Muhammadiyah Malang Medical Centre.

Kepala Bagian Kepegawaian UMM, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa sebenarnya pemegang otoritas program vaksinasi adalah pemerintah. Oleh karenanya UMM mengajukan agenda vaksinasi bagi dosen dan karyawan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang.

Ada sekitar 300 vaksin yang sudah diterima. Sebanyak 240 diantaranya telah digunakan pada tiga hari pertama pelaksanaan. “Mengingat hanya ada 300 vaksin, maka pimpinan universitas harus mengambil keputusan siapa yang didahulukan,” ujarnya.

Vaksinasi untuk gelombang pertama melibatkan rektor dan jajarannya. Pimpinan universitas didahulukan karena harus mengawal jalannya organisasi.

Kemudian dilanjutkan pemberian vaksin kepada pimpinan fakultas serta para staf di bidang 1, 2, 3, dan 4. “Para staf admin di lingkup fakultas juga didahulukan. Pasalnya, mereka juga memberikan pelayanan langsung kepada mahasiswa,” kata dia.

Zakarija menambahkan, dalam waktu dekat akan ada 300 vaksin. Rencananya akan diperuntukkan bagi sekretaris prodi, kepala laboratorium, dosen senior dan juga satpam. “InsyaAllah akan ada 300 tambahan vaksin lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Satgas COVID-19 UMM, dr. Thontowi Djauhari, NS., M.Kes., juga menjelaskan bahwa UMM berinisiatif untuk mengajukan program vaksinasi. Ada dua tahapan dalam memberikan vaksinasi.

Jarak antara kedua tahap tersebut sekitar 14 sampai dengan 15 hari. Sampai saat ini pihaknya belum menemukan efek samping yang berbahaya. “Beberapa memang merasa mengantuk dan lapar. Ada juga yang mengeluh pusing, tapi itu efek yang tidak berbahaya,” terangnya.

Dokter Rumah Sakit (RS) UMM tersebut juga menyebutkan kendala yang dihadapi. Salah satunya kurang akuratnya informasi yang diperoleh masyarakat, sehingga banyak asumsi-asumsi yang salah terkait vaksinasi.

Ia juga berharap agar vaksinasi yang dilakukan dapat meminimalisir penularan Covid-19 di kemudian hari. Meski ia akui bahwa vaksin SINOVAC ini tingkat efikasinya belum terlalu tinggi, yakni sekitar 65 persen. “Kita semua berharap upaya vaksinasi ini memberikan hasil yang menggembirakan,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Hj. Nurul Zuriah, M.Si selaku Kepala Divisi Penelitian DPPM UMM membagikan pengalamannya saat menerima vaksin. Awalnya ia harus melalui proses screening terlebih dahulu sebelum dilakukan vaksinasi.

Tim medis menanyakan riwayat penyakit yang mungkin pernah dialami. Terutama penyakit komorbid. Seperti asma, jantung atau paru-paru. “Tentu saja saya berharap vaksinasi ini bisa meningkatkan kinerja karena membuat kami merasa aman dan nyaman. Mudah-mudahan penademi bisa segera berlalu,” harapnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Dimas Prasetyo, S.Pd., staf International Relation Office (IRO). Ia mengatakan bahwa rasanya tidak jauh berbeda dengan suntikan biasa. Ia juga menganggap bahwa vaksinasi ini adalah bentuk ikhtiar untuk terus menjaga kesehatan. “Setelah 14 hari, kami akan menerima tahap vaksinasi yang kedua,” ucapnya. (imm/ggs)