UKM ‘Kampus Kedua’

new malang pos
Abdul Halim Pemred New Malang Pos

NewMalangPos – Rhenald Kasali guru besar di Fakultas Ekonomi UI memberi nilai yang ‘aneh’  kepada mahasiswanya untuk mata kuliah Pemasaran Internasional. Rhenald menugaskan semua mahasiswanya berpetualang ke negara lain dengan bahasa dan latar budaya yang sangat berbeda. Spanyol, Peru, atau Brasil, misalnya. Mereka wajib berpetualang ke luar negeri untuk belajar menghadapi kesulitan di dunia nyata. Mereka harus ‘survive‘ di tempat baru, sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Nilai A diberikan Rhenald untuk mahasiswa yang berhasil menyelesaikan tantangan itu selama 7-10 hari dengan biaya sendiri, mulai dari tiket, biaya hidup dan biaya paspor. Tak diizinkan seperser pun menggunakan uang dari orang tua atau pihak lain. Nilai B atau C akan didapat mahasiswa yang berhasil berangkat dengan dana sendiri, dengan segala persiapan sendiri ke negara yang terhitung populer, Australia, misalnya.

Sementara yang ke Malaysia, Brunei atau Singapura yang berbahasa Melayu dan mirip dengan Indonesia, kemungkinan besar mahasiswa akan mendapat nilai E, alias tidak lulus. Apakah tugas dari sang profesor itu berlebihan? Ternyata tidak. Semua mahasiswa yang dilepas ‘sendirian’ itu, berhasil selamat pulang ke tanah air dan menceritakan pengalamannya di kelas. Bahkan pengalaman itu menjadi buku 30 Paspor di Kelas Profesor.

Metode pembelajaran yang ditawarkan Rhenald pendiri Rumah Perubahan itu memang unik. Bukan tidak percaya pada kurikulum kampus, tapi ia mencoba sesuatu yang beda. Mengajarkan mahasiswa menyelesaikan sendiri kesulitan dan tantangan di luar ruang kelas bahkan kampus untuk bekal masa depan yang makin penuh persaingan.

Menurut Rhenald, semua orang perlu ditantang menyelesaikan ujian hidup yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan. Prestasi tidak akan pernah tercapai jika hanya mengandalkan ceramah di dalam kelas atau nilai-nilai di atas kertas.

Baca Juga :  Tidak Mudik, Ungkap Rasa Rindu Lewat Banner

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus – kampus juga merupakan ruang belajar yang menawarkan tantangan dan cara berpikir beda untuk menemukan solusinya. Semua kampus menyadari kebutuhan adanya UKM. Dan semua UKM diakomodir. Dibangunkan tempat khusus, namanya Student Center. Pusat kegiatan mahasiswa.

Bahkan ada hari khusus untuk semua kegiatan mahasiswa di kampus. Namanya Student Day. Bermacam-macam jenis UKM. Ada yang basicnya olahraga, seni budaya, hobi, musik, dan lainnya. Mahasiswa benar-benar dimanjakan dengan beragam pilihan kegiatan agar mereka mengeksplore segala minat dan bakatnya serta kerja kerasnya.

UKM-UKM tersebut merupakan pelengkap dari adanya rutinitas akademik dan organisasi intra kampus. Mulai Himpunan Mahasiswa Jurusan, Senat Mahasiswa Fakultas hingga Badan Eksekutif Mahasiswa. Bila masih kurang, mahasiswa yang doyan berorganisasi dan belajar karir politik juga mengikuti organisasi ekstra kampus sesuai keinginannya. Ada HMI, IMM, PMII, GMNI, PMKRI dan lainnya.  

Bisa dibilang UKM merupakan ‘kampus kedua’ bagi mahasiswa dan organisasi ekstra adalah ‘kampus ketiga’ nya. Mereka yang aktif di tiga kampus itu berarti sempurna akademik, organisasinya serta pengalamannya. Artinya mereka berani menempuh tantangan-tantangan dengan mengikuti ‘mata kuliah-mata kuliah’ di UKM-UKM dan organisasi ekstra kampus yang kelak menjadi bekal berharga di masa depan. Dunia kerja dan hidup bermasyarakat secara nyata. Karena itu, setiap UKM punya pola pendidikan dan latihan yang beragam untuk menjadikan anggotanya kuat fisik dan mentalnya secara matang.

Namun duka tiba-tiba datang, akhir pekan lalu. Dua mahasiswa UIN Maliki Malang meninggal saat mengikuti Penerimaan dan Pembaitan Anggota Baru (PPAB) UKM Pencak Silat Pagar Nusa. Moh Faisal Lathiful Fakhri, mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah angkatan 2020 asal Lamongan dan Mifta Rizki Pratama asal Bandung, mahasiswa Jurusan Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Baca Juga :  Yuk, Daftar Serbuan Vaksin Covid-19 Kota Malang! Jatahnya 25 Ribu Dosis

Kabar sedih ini seolah membuka tabir di tengah pandemi, bahwa meski kebijakan kuliah digelar secara daring, namun masih ada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang digelar secara luring di luaran. Bisa jadi, mahasiswa-mahasiswa kampus lain juga melakukan hal yang sama. Ini yang harus menjadi pengawasan dan kontrol ketat semua pihak, mulai otoritas kampus, orang tua dan pejabat terkait serta masyarakat.

Sejatinya setiap kegiatan sudah pasti ada prosedurnya. Ada Standart Operasional Prosedurnya (SOP). Di masa normal, setiap UKM yang melakukan kegiatan, baik di dalam kampus maupun di luar, pasti harus mengantongi izin dari kampus. Surat izin itu sebagai bekal untuk melakukan kegiatan di luar dan permohonan izin tempat sekaligus perizinan ke pihak keamanan, polsek atau Polres.

Apalagi sekarang di masa Covid, tentu perizinan lebih ketat lagi. Ada Satgas Covid-19 yang memang mempunyai kuasa untuk memberikan izin atau tidak sebuah kegiatan digelar di masa pandemi ini. Semua pihak harus patuh dan disiplin. Kelalaian sedikit saja bisa mengakibatkan kecelakaan dan musibah. Dan contohnya sudah ada.

Penegasan Kapolres Batu AKBP Catur C Wibowo yang mengatakan kegiatan PPAB UKM Pencak Silat Pagar Nusa UIN Maliki di Coban Rais Kota Batu, tidak berizin membuat semua pihak terhenyak. Apalagi kemudian sampai menimbulkan korban jiwa. Dua orang sekaligus. Kok bisa tidak ada izin? Ini yang menjadi pertanyaan besar semua pihak.

Tentu ini tidak hanya menampar UKM dan kampus UIN Maliki sendiri, tapi juga UKM di kampus-kampus lain. Jangan sampai kejadian nahas yang menimpa UKM Pencak Silat Pagar Nusa UIN ini menjadi preseden buruk bagi UKM yang lainnya. Traumatik akibat meninggalnya Faisal dan Mifta, dua mahasiswa yang mencoba melengkapi pengalaman akademiknya namun berakhir tragis, tidak hanya akan dirasakan kedua orang tua masing-masing, tapi semua mahasiswa yang mengikuti kegiatan UKM di semua kampus, orang tua, dan civitas akademika.

Baca Juga :  PKPOT Bagikan Beras Bagi Masyarakat Isoman

Tidak adanya izin kegiatan membuat siapa yang bertanggungjawab jadi susah diidentifikasi. Pihak kampus UIN menyatakan UKM tidak ada izin dan mengakui kecolongan. Kepolisian juga sama mengakui tidak ada izin dan pemberitahuan. Termasuk pengelola Coban Rais juga tidak mendapatkan laporan kejadian mahasiswa meninggal. Mereka kaget saat media menginformasi pada, Minggu (7/3). Padahal dua mahasiswa itu sudah meninggal sejak Sabtu (6/3) secara berurutan.

Sampai tadi malam, sedikitnya sudah 31 saksi diperiksa Polres Malang. Polisi juga masih menunggu hasil resmi dari medis penyebab kematian dua korban. Meski sebelumnya ditegaskan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan, namun polisi tetap akan mengusut kasus ini hingga tuntas. Pihak keluarga menolak dilakukan otopsi. Tapi mereka sudah menyatakan siap bila di kemudian hari dibutuhkan otopsi jenazah korban yang sudah dimakamkan.

Semoga ke depan, apapun kegiatannya, baik di kampus maupun di luar kampus, SOP harus dijunjung tinggi. Perizinan hukumnya wajib, tidak boleh dilanggar. Kegiatan diklat dan sejenisnya harus didampingi tim medis dan mendapat surat izin dan pernyataan dari orang tua. Sebab bila urusan hilangnya nyawa, polisi bisa menerapkan unsur kelalaian, pada pihak yang harus bertanggungjawab.(*)