Diduga Curi Ban, Bos Automotive Dipolisikan

NEW MALANG POS, MALANG – Ferry Hardanto, bos Ferso Automotive Malang dipolisikan. Dia diduga mempreteli sparepart atau suku cadang mobil Hilux Double Cabin. “Kita laporkan penggelapan,” kata Nur Hadi, SH, penasehat hukum korban. Kasus ini terjadi sekitar tahun 2017.

Saat itu kliennya, mengenalkan salah satu penjual mobil, sebut saja Dodik, kepada Ferry. Setelahkesepakatan jual-beli, ditengah jalan, Ferry tiba-tiba membatalkan pembelian mobil itu dengan beberapa alasan. Padahal sebagian uang pelunasan, Rp 70 juta sudah diterima oleh Dodik.

Sebagian uang tersebut telah terpakai untuk kehidupan sehari-hari. “Klien saya ini yang mengenalkan penjual kepada si pembeli akhirnya dia merasa ikut bertanggungjawab. Akhirnya klien saya memberikan jaminan mobilnya Hilux Doubel Cabin itu kepada si pembeli,” ungkap dia.

Alasannya, agar uang Rp 70 juta yang nyantol itu segera dikembalikan. “Kalau tanggungjawab itu bukan pada klien saya. Dia hanya mengenalkan saja,” jelas Nur Hadi. September 2017, Dodik dan Ferry melakukan kesepakatan mekanisme pembayaran. Ketika ada mekanisme pembayaran itu, Dodik sudah memberikan sekitar Rp 10 juta.

Selanjutnya, kesepakatan setiap bulannya harus membayar bunga jika tidak bisa membayar sesuai yang sudah disepakati. “Setelah mereka berdua sepakat, akhirnya klien saya ini mengambil mobilnya di garasi Ferso Automotive. Di sana, mobil tersebut sekitar mulai Maret sampai Agustus 2017.

“Saat itu diambilnya sore, namun keesokan harinya klien saya baru sadar dan melihat mobilnya sudah berubah. Diduga moulding roof dibongkar, lalu 4 ban beserta velg risingnya diganti standar, dan beberapa sparepart diganti. Lebih jelasnya, ditanyakan kepada pihak kepolisian saja,” pungkas Nur Hadi.

Pembongkaran itu juga dibenarkan mantan pegawai Ferso Automotive, Stevanus Handoko. Ia diperintahkan langsung Ferry untuk memindahkan beberapa sparepart dari mobil Hilux tersebut. Dirasa tidak ada itikad baik untuk minta maaf dan mengembalikan hak yang bukan miliknya, maka Nur Hadi beserta kliennya melakukan somasi. Ketika somasi tersebut tidak ditanggapi maka laporan ke kepolisian.

Nur Hadi berharap tersangka segera ditahan demi keadilan, sebab secara subjektif. Menurutnya kepolisian punya hak dimana apabila dikhawatirkan tersangka kabur atau menghilangkan barang bukti.

“Sudah ditahan. Masih dalam proses penyidikan. Mohon maaf jika ini untuk keperluan pemberitaan saya tidak bisa jawab, langsung ke Kasat Reskrim saja ya,” terang Kanit I Pidum Satreskrim Poltresta Malang Kota, Ipda Didik Triwahyu. (mar)