Begini 8 Oknum Polisi Rekayasa ‘Ganja Tak Bertuan’ Berujung 20 Tahun Bui

NMP
Foto: PN Medan vonis 8 oknum polisi dalam kasus rekayasa penemuan ganja tak bertuan (Datuk Haris Molana/detikcom/Newmalangpos).

NewMalangPosPengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan vonis terhadap 8 oknum polisi dan satu orang sipil di Sumatera Utara (Sumut) terkait kasus penemuan ganja tak bertuan. Mereka divonis 10 hingga 20 tahun penjara.

Dikutip dari dakwaan dalam situs PN Medan, Kasus ini terdaftar dengan nomor perkara 2441/pid.sus/2020/PN Medan dengan terdakwa Witno Suwito. Dalam kasus ini, Witno merupakan mantan anggota Polres Padangsidimpuan dengan pangkat Bripka.

Rekayasa tersebut berawal pada Jumat, 28 Februari 2020, sekitar pukul 10.00 WIB. Kasat Narkoba Polres Padangsidimpuan AKP Charles Jhonson Panjaitan mengumpulkan anggotanya terdiri dari terdakwa Aiptu Martua Pandapotan, Bripka Andi Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, Brigadir Amdani Damanik, dan Briptu Rory Mirryam Sihite.

Kemudian Kasat Reskrim memberikan arahan kepada anggotanya untuk menangkap terhadap peredaran gelap narkoba di wilayah hukum Polres Padangsidimpuan. Setelah menerima arahan, anggota bubar untuk mencari target operasional (TO).

Pada pukul 13.30 WIB, terdakwa Witno Suwitno menghubungi HP milik Bripka Andi Pranata dan menyuruh untuk bertemu dengannya di sebuah warung makan di belakang City Walk. Sekitar pukul 13.40 WIB keduanya bertemu. Saat itu Witno mengajak Andi menuju Kampung Darek, Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan.

Keduanya menuju lokasi menggunakan mobil yang dikemudikan Andi. Tiba di lokasi, Witno turun dari mobil dan bertemu beberapa warga yang belum dikenalnya di pinggir jalan, depan Gang Dame 5. Dia mengatakan wilayah tersebut akan digerebek dan diperiksa terkait kasus narkoba dari rumah ke rumah.

Setelah itu Witno kembali ke mobil dan meminta Andi melajukan mobil menuju Tomyam Muslim yang berada di Gang Dame Kampung Darek. Di lokasi tersebut, Witno dihubungi Edi Santoso alias Edi Ramos yang merupakan DPO.

Edi Ramos berkata kepada Witno ingin menyerahkan ganja miliknya yang berada di Kampung Darek. Dia memberi syarat agar dirinya dan Edi Anto Ritonga alias Gaya tak ditangkap. Edi Ramos mengaku ingin memberikan ganja tersebut karena takut terjadi penggerebekan di Kampung Darek.

Witno setuju dan meminta nomor telepon Gaya. Witno lalu membuat janji bertemu dengan Gaya di Gunung Kampung Darek. Witno bersama Andi pun menuju Kampung Darek, Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan. Tapi mereka turun dari mobil karena mobil tak bisa naik ke bukit.

Witno lalu menghubungi Brigadir Amdani Damanik dan meminta untuk menemuinya. Pukul 14.40 WIB, Brigadir Amdani Damanik tiba di lokasi mengendarai sepeda motor. Mereka lalu pergi ke sebuah bukit yang berada di Kampung Darek sesuai perkataan Gaya. Tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 WIB, mereka ditemui Gaya.

Gaya mengatakan bersedia menunjukkan ganja tersebut asal tak ditangkap. Witno diajak ke sebuah rumah yang berada di bukit tersebut.

“Kemudian Edi Anto Ritonga alias Gaya bersama Kucok (DPO) langsung mengeluarkan 4 buah karung plastik yang berisi narkotika jenis daun ganja kering dari dalam rumah Kucok. Lalu meletakkan karung plastik yang berisi narkotika jenis daun ganja kering tersebut di pinggir jalan,” kata JPU.

Setelah itu Witno mengatakan petugas bakal melakukan razia narkoba lagi dari rumah ke rumah. Dia lalu menghubungi Aiptu Martua Pandapotan untuk meminta datang pakai mobil ke Gunung Kampung Darek karena ada barang bukti ganja.

Melansir Detik News, pada pukul 16.00 WIB, Martua bersama Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap tiba di depan rumah Kucok dengan mengendarai mobil. Lalu Kucok dan Gaya memasukkan 4 karung berisi ganja ke mobil.

Setelah itu Gaya turun dari gunung menuju jalan besar Gang Dame yang diikuti mobil yang ditumpangi Martua Pandapotan bersama Dedi Azwar. Sedangkan Witno dan Amdani Damanik mengikuti dari belakang.

Setibanya di sebuah simpang yang berada di Gang Dame, Gaya memberhentikan mobil tersebut dan menyuruh masuk ke sebuah gang kecil. Kemudian, mobil tersebut masuk dengan cara mundur ke belakang rumah. Lalu Gaya bersama Kocuk menaikkan karung plastik yang berisi ganja. Karena mobil sudah penuh, Gaya bersama Kocuk memasukkan 5 karung plastik berisi ganja ke mobil lain.

Setelah itu, Martua dan Dedi Azwar mengendarai mobil yang sudah dimasukkan ganja. Sementara Witno, Andi naik mobil Jazz. Sedangkan Amdani mengendarai sepeda motor langsung menuju Posko Sahran Motor di Jalan Padangsidimpuan-Sibolga, Desa Sigiring-Giring, Kota Padangsidimpuan. Gaya dan Kucok tetap di kampung tersebut.

Setibanya di posko, Witno, Martua, Andi, Dedi Azwar, dan Damanik turun dari mobil. Witno melihat Bripka Rudi Hartono dan Brigadir Antoni Fresdy Lubis serta Briptu Rorry Mirryam Sihite telah berada di dalam Posko Sahran Motor tersebut.

Kemudian mereka merencanakan agar ganja di dalam karung tersebut dijadikan barang temuan yang dipimpin oleh Aiptu Martua Pandapotan selaku Kanit Reserse Satuan Narkoba Polres Kota Padangsidimpuan. Rekayasa lalu diatur Martua.

“Lalu terdakwa berkata kepada Aiptu Martua Pandapotan ‘aku nggak sanggup berpikir lagi’. Lalu Aiptu Martua Pandapotan berkata ‘ya udah tenang aja, Abang’. Lalu Aiptu Martua Pandapotan langsung mengatur tempat di mana akan ditemukannya ganja kering tersebut namun belum ada disepakati tempat akan ditemukannnya,” katanya.

Singkat cerita, mereka kemudian menuju ke Pos Lantas Pijor Koling dan makan. Setelah itu Rudi Hartono menjelaskan bahwa tempat akan ditemukannya ganja kering tersebut di area perkebunan PTPN III, Desa Tarutung Baru, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara.

Selanjutnya, mereka menuju PTPN III. Rudi Hartono dan Antoni Fresdy mengendarai sepeda motor langsung menuju lokasi yang diikuti oleh mobil Terios. Sementara mobil Jazz tak dapat menuju lokasi karena jalannya turunan terjal.

“Kemudian terdakwa bersama Brigadir Amdani Damanik pun turun dari dalam mobil Honda Jazz yang dikendarai Bripka Andi Pranata dan berjalan sekira 200 meter menuju lokasi tempat yang telah ditentukan. Sedangkan Bripka Andi Pranata tinggal di dalam mobil Honda Jazz. Kemudian sekira pukul 21.00 WIB, terdakwa bersama Brigadir Amdani Damanik sampai di Area Perkebunan PTPN-III Desa Tarutung Baru Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara tersebut,” kata dia.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Kasat Reserse Narkoba Polres Kota Padangsidimpuan tiba di lokasi bersama mobil patroli Sabhara dan mobil SPK Polres Kota Padangsidimpuan. Lalu 14 buah karung plastik yang berisi ganja dinaikkan ke dalam mobil patroli dan dibawa ke kantor Polres Kota Padangsidimpuan.

“Sedangkan terdakwa masih berada di lokasi. Sekira pukul 22.30 WIB, terdakwa menghubungi HP milik Bripka Andi Pranata lalu terdakwa berkata kepada Bripka Andi Pranata ‘kau berada di mana?’. Lalu Bripka Andi Pranata menjawab ‘di Polres’.” terangnya.

Sekitar pukul 23.30 WIB, Witno, Martua, Dedi, Amdani dan Rorry tiba di Polres Kota Padangsidimpuan. Mereka melihat 19 karung plastik yang berisi ganja kering yang telah diambil dari Gaya telah diamankan di ruang Satuan Reserse Narkoba Polres Kota Padangsidimpuan.

Pada Senin, 2 Maret 2020, 19 karung berisi ganja tersebut ditimbang dan diketahui beratnya 327 kg. Kasus rekayasa tersebut lalu terbongkar.

Mereka kemudian diamankan lalu disidangkan di PN Medan. Kedelapan oknum tersebut telah divonis bersama salah satu warga sipil. Mereka divonis bervariasi mulai 10 hingga 20 tahun penjara.

Putusan yang paling berat, dijatuhkan kepada terdakwa Bripka Witno Suwito dan seorang warga sipil bernama Edy Anto Ritonga alias Gaya. Mereka masing-masing divonis pidana 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

“Menjatuhi terdakwa Witno Suwito dengan pidana penjara selama 20 tahun, denda Rp 1 milyar, apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan,” kata hakim.

Putusan itu lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan yang diberikan jaksa dengan tuntutan hukuman mati.

Kemudian terdakwa Aiptu Martua Pandapotan Batubara (eks Kanit IV Sat Narkoba Polres Padangsidimpuan) divonis 13 tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sebelumnya, Aiptu Martua dituntut pidana penjara seumur hidup.

Kemudian 6 terdakwa lainnya yaitu, Briptu Rory Mirryam Sihite, Bripka Andy Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, dan Brigadir Amdani Damanik. Awalnya, mereka dituntut 20 tahun penjara. Mereka kemudian masing-masing divonis pidana 10 tahun penjara.

Mereka juga dituntut membayar denda masing-masing sebesar Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sedangkan Brigadir Amdani Damanik subsidernya 3 bulan kurungan. (jbr/jbr/Dtk)