Tukul

NEW MALANG POS – Tukul Arwana menjadi fenomena tersendiri dalam dunia panggung komedi Indonesia pada dekade 2010. Acaranya ‘’Empat Mata’’ menjadi acara talk show komedi yang paling digemari penonton teve, dengan rating menembus dua digit.

Gaya lawakan Tukul sangat khas, memadukan kecerdasan dan kedunguan. Ia bergaya pin-pin-bo alias pintar-pintar bodoh. Dia memakai laptop untuk membaca pointers daftar pertanyaan kepada tamunya. Ia polos, membaca daftar pertanyaan apa adanya. Kepolosan itu malah membuatnya lucu.

Pembicaraan lalu berkembang ngalor-ngidul. Sangat sering Tukul meroasting tamunya sampai terpanggang menjadi merah-hitam. Kalau sudah begitu, Tukul langsung mengalihkan pembicaraan ke topik berikut yang sudah disiapkan di laptop, sambil mengatakan, ‘’Kembali ke laptop.’’

Jargon ini menjadi sangat populer dan identik dengan Tukul. Beberapa diksi yang diucapkan Tukul—seperti katrok–menjadi kosakata baru yang populer. Tukul juga memopulerkan istilah ‘’kristalisasi keringat’’, dan beberapa istilah lucu lainnya.
Tukul menertawakan sendiri bentuk bibirnya yang mancung mirip moncong bemo. Tukul menyebut dirinya ‘’Koper Boy’’ untuk memelesetkan istilah ‘’Cover Boy’’. Bahkan, sang istri, Susiana, juga dijadikan bahan guyonan dengan menyebutnya ‘’Susi Simlikithi’’.

Empat Mata sempat ditegur KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) karena menampilkan Sumanto, eks narapidana yang dihukum karena kasus kanibalisme. Dalam acara itu Sumanto menceritakan– dan seolah mempraktikkan—cara dia memakan mayat manusia.

Episode lain yang disemprit KPI adalah ketika Empat Mata menampilkan bintang tamu yang memamerkan kebiasaannya makan daging kodok hidup-hidup. Karena pelanggaran-pelanggaran ini Empat Mata kemudian kena kartu merah dan harus keluar dari lapangan.

Baca Juga :  Idea, Cara Nge-hits Melalui TripleN-nes

Tukul tidak kurang akal. GPL, gak pakai lama, acara baru muncul, dinamai ‘’Bukan Empat Mata.’’ Format dan tampilan tidak banyak berubah dari Empat Mata. Tukul masih bisa mempertahankan kreativitas yang menjadi ciri khas Empat Mata.

Tapi, lagi-lagi Tukul kesandung kasus yang sama dengan kasus sebelumnya. KPI kembali menyemprit dan mengeluarkan kartu merah untuk acara Tukul. KPI menilai Bukan Empat Mata tidak beda dengan Empat Mata. KPI memergoki acara itu menampilkan seorang bintang tamu yang berbicara tidak senonoh dan membuat asosiasi dengan alat vital.

Tukul tidak menyerah. Ia berusaha merevitalisasi acaranya dengan membuat edisi Bukan Empat Mata Reborn. Acara itu dinamai ‘’Ini Baru Empat Mata’’ yang mulai tayang lagi pada 2019. Upaya Tukul untuk meraih kembali kemasyhuran masa lampau kurang sukses. Ini Baru Empat Mata tidak bisa mengulangi kehebatan Empat Mata.

Kini, Tukul berbaring di rumah sakit karena pendarahan otak. Ia sudah terlebih dahulu ditinggal mati oleh istrinya pada 2016. Kisah Tukul menjadi bagian dari bukti kerasnya dunia hiburan komedi di Indonesia. Komedian yang orisinal seperti Tukul harus tersisih oleh perubahan zaman yang cepat.

Baca Juga :  Semangat Grow and Glow

Sekarang bermunculan komedian baru yang hanya bermodal imitasi. Sebuah grup lawak terang-terangan menjiplak gaya dan penampilan Warkop DKI. Grup baru itu malah tanpa risih menyebut dirinya ‘’Warkopi’’ supaya mirip dengan Warkop DKI.
Tiga personel Warkopi sengaja menjiplak gaya dan tampilan Dono, Kasino, dan Indro. Ada yang gemuk dan chubby seperti Indro, ada yang bermulut bemo seperti Dono, dan ada yang meniru gaya bossy Kasino.

Gaya lawakan Warkop Kawe ini tidak ada yang baru, hanya sekadar menampilkan lawakan-lawakan slapstick. Tidak terlihat kecerdasan dan kebaruan ide yang muncul dalam lawakan mereka. Tidak ada orisinalitas dalam lawakan mereka.

Kemunculan Warkopi yang tanpa izin ini membuat Indro meradang. Sebagai satu-satunya penyintas Warkop DKI, Indro pantas marah karena grup ini muncul tanpa meminta izin darinya dan keluarga almarhum Dono dan Kasino.

Tapi, akhirnya anak-anak itu insaf dan sadar juga. Mereka sekarang sudah minta maaf secara terbuka melalui jumpa pers. Belum diketahui apakah mereka akan bubar, atau akan jalan terus dengan memberi kompensasi kepada pemegang waris Warkop DKI.

Banyak grup-grup lawak legendaris yang berguguran, lalu muncul grup baru yang sekadar mengekor dan tidak menampilkan orisinalitas. Grup lawak Srimulat di Surabaya yang melegenda akhirnya gulung tikar, dan personelnya satu-satu persatu menghilang.

Kata almarhum Gus Dur, para pelawak dan grup-grup legendaris itu kehilangan penggemar karena kalah lucu dari para politisi. Para politisi sering membuat komentar yang lucu mengalahkan para pelawak top.

Baca Juga :  Kekerasan Seksual Marak, Kapan RUU PKS Disahkan?

Berbagai tingkah polah pejabat dan politisi sekarang ini sebenarnya bisa menjadi sumber parodi dan bahan lawakan yang bisa membuat terpingkal-pingkal sampai menangis. Ketika rakyat makin miskin karena pandemi, para menteri malah makin kaya raya sampai seribu persen. Ini bisa menjadi bahan lawakan yang bisa membuat ketawa sampai menangis, atau bisa membuat menangis sambil tertawa.

Sayangnya sense of humor sekarang menjadi hal yang mahal dan tabu di Indonesia. Sujiwo Tejo, Presiden Jancukers yang lucu itu, sekarang jarang melawak, malah lebih sering marah-marah di talkshow televisi. Pak Presiden Jancukers tidak berani lagi leluasa membuat parodi kritik, karena dia sebel kalau harus digeruduk oleh para buzzer.
Hanya Presiden Gus Dur yang tidak takut bercanda. Menghadapi protes anggota-anggota DPR yang garang Gus Dur malah ketawa-ketawa. Gus Dur menganggap DPR sama dengan TK (taman kanak-kanak) yang dihuni oleh anak-anak yang belum akil balig.

Anggota DPR marah memprotes Gus Dur karena disamakan dengan anak TK. Gus Dur tenang-tenang saja menghadapi protes itu. Menurut Gus Dur, harusnya yang lebih pantas marah adalah anak-anak TK. Mereka pantas tersinggung dan malu karena disamakan dengan anggota DPR. Gitu saja kok repot..(*)

artikel Pilihan