Tinggal di Rumah, di Rumah Sakit, atau Tinggal Kenangan?

new malang pos

NewMalangPos – Tinggal di rumah, tinggal di rumah sakit, atau tinggal kenangan? Begitu ungkapan yang viral di berbagai platform media sosial (medsos) pekan ini. Ini tentu pilihan yang tak gampang. Serba sulit dan simalakama. Semua orang tentu tak menghendaki saat lebaran hanya berdiam diri di rumah saja. Demikian halnya dengan tinggal di rumah sakit. Siapa orangnya yang mau sakit, apalagi mati hingga hanya tinggal kenangan.

          Pesan viral ini muncul sebagai salah satu bentuk kampanye (campaign) untuk mencegah orang mudik lebaran. Pemerintah memang telah melakukan pelarangan mudik mulai 6 hingga 17 Mei 2021. Sejumlah ruas jalan tol di banyak daerah dijaga dan disekat. Di jalan-jalan tikus juga telah disiagakan petugas yang siap memutar balik pengguna jalan yang tak mematuhi aturan.

          Situasinya memang serba sulit. Di satu sisi, mudik lebaran bagi kebanyakan orang sudah menjadi ritual tahunan yang punya dimensi sosial, kultural, dan spiritual yang kental. Sementara itu, dengan beramai-ramai mudik lebaran sangat berpotensi menimbulkan pergerakan manusia dalam jumlah masif yang dapat memicu terjadinya penularan virus Covid-19.

Belajar dari India

          India yang awalnya dipuji banyak negara karena telah berhasil meredam lonjakan angka kasus positif Covid-19 kini justru menghadapi situasi yang sangat buruk. Karena teledor dan lengah, angka kematian akibat Covid-19 melonjak drastis di India. Seperti diberitakan banyak media, semua rumah sakit di India sudah tak sanggup menangani pasien. Korban terus berjatuhan tak tertolong karena kekurangan oksigen dan minimnya ruang layanan pengobatan.

Baca Juga :  Gempa Magnitudo 7,2 Guncang Nias Sumatera Utara

          Melambungnya angka kematian di India menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Lonjakan orang yang terinfeksi virus yang berasal dari klaster kerumunan warga saat ritual mandi bersama di sungai Gangga harus menjadi pelajaran. Pulang mudik lebaran di Indonesia juga merupakan peristiwa ritual yang sangat sulit dicegah. Untuk itu kasus di India yang memicu munculnya klaster dari acara ritual keagamaan jangan sampai terjadi di Indonesia.

          Euforia sejumlah orang setelah divaksin juga menjadi peluang munculnya gelombang kedua penularan virus Covid-19. Seperti bukti yang terjadi di India bahwa orang yang sudah divaksin tak ada jaminan akan terbebas dari virus. Faktor keampuhan (evikasi) vaksin tak ada yang 100 persen. Kondisi inilah yang memungkinkan orang yang telah divaksin tetap akan terkena virus.

          Situasi ini semakin diperburuk karena saat ini telah muncul varian virus baru seperti B117, D164G, dan N439K. Di beberapa daerah, kasus mutasi virus baru B117, B1351, dan B1617 telah muncul di DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur dan Papua. Varian baru virus yang lebih cepat menular dan mematikan itu tentu harus diantisipasi penyebarannya. Melarang mudik merupakan salah satu upaya agar persebaran virus Covid-19, termasuk varian barunya tak menjalar lebih luas. Kasus yang terjadi di India jangan sampai terulang di Indonesia. 

Lebaran Daring

          Ketika mudik lebaran dilarang, tak ada pilihan lain kecuali lebaran daring. Lebaran daring lewat beragam aplikasi komunikasi online menjadi pilihan yang tepat. Tradisi selebrasi lebaran memang telah banyak berubah dengan hadirnya internet. Kalau dulu kita perlu datang sungkem dan memohon maaf kepada orang tua. Yang muda datang dan berjabat tangan, bersilaturahmi dengan yang lebih tua. Para sanak saudara, handai tolan, kerabat, teman akrab berkumpul saling lepas kangen sambil bermaaf-maafan.

Baca Juga :  Ngopi Bareng, Bos Pro EM.1 Rayakan Ultah Chairman New Malang Pos

          Kehadiran internet telah menjadikan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat. Melalui internet, komunikasi tata muka (face to face) langsung secara fisik telah tergantikan. Antara komunikator dan komunikan kini dapat berinteraksi tanpa dibatasi wilayah geografis, jarak dan waktu. Dunia kini telah menjadi global, tak ada lagi batas wilayah negara. Sekat pembatas wilayah kini telah mencair, menjadi satu wilayah global.

          Kondisi ini persis dengan apa yang pernah dikatakan Marshall McLuhan (1964) tentang “Global Village.” Prediksi McLuhan telah terbukti bahwa masyarakat dunia sekarang telah menjadi sebuah wilayah desa yang global karena terkoneksi internet. Kondisi ini bisa kita buktikan seperti saat perayaan lebaran Idul Fitri kali ini. Selebrasi lebaran di Indonesia bisa mendunia. Melalui konten lebaran di medsos yang dibuat oleh kreator konten Indonesia bisa menjadi trending topic dunia.

          Kini silaturahmi dan permohonan maaf banyak dilakukan dengan berkirim pesansingkat. Grup-grup di medsos semacam Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp banyak dipadati ucapan berupa gambar dan grafis menarik yang berisi doa dan permohonan maaf lebaran. Beberapa orang yang terpisah jauh dari sanak saudaranya juga bisa bertatap muka secara audio visual melalui beragam media online chatting.

          Aplikasi pertemuan online semacam Zoom, Google Meet, Skype, Yahoo Messenger, dan beragamaplikasi lain banyak digunakan orang dalam berkomunikasi real time secara audio, visual maupun audio visual. Walaupun di antara mereka yang berinteraksi tak mampu bersentuhan secara fisik, tetapi mereka bisa ngobrol dan saling pandang. Bahkan dalam waktu bersamaan, mereka dapat berinteraksi dengan banyak orang yang tersambung secara daring.

Baca Juga :  Kompetisi Ideal Mulai Juli

          Sesungguhnya ada sejumlah nilai spiritual dari aktivitas mudik lebaran yang tak bisa tergantikan oleh teknologi. Ziarah kubur saat lebaran, reuni ketemu teman lama, berkunjung ke tempat-tempat rekreasi, dan menikmati kuliner lokal menjadi aktivitas wajib kebanyakan pemudik. Mudik lebaran juga sebagai sarana menunjukkan kesuksesan pada lingkungan di kampung. Bagi sekelompok orang, pulang kampung dijadikan sebagai sarana show off atas kesuksesan yang telah diraihnya.

          Kini demi alasan kesehatan bersama, menahan mudik dan berlebaran daring menjadi pilihan yang realistis. Daripada akhirnya harus tinggal di rumah sakit, apalagi tinggal kenangan karena dinyatakan meninggal karena Covid, tentu lebih bijak kalau lebaran kali ini kita di rumah saja. Silaturahmi lebaran dengan pertemuan fisik banyak orang bisa diganti daring.

          Selamat menikmati lebaran di rumah saja, makan opor ayam dan aneka kue lebaran sambil online di depan gadget bersilaturahmi dengan keluarga nun jauh di sana. (*)