Terseret Komentar Negatif

new malang pos

NewMalangPos – Hati-hati membuat komentar di media sosial (medsos). Bisa jadi kita terseret urusan hukum gara-gara komentar kita mengandung unsur penghinaan, fitnah, dan ujaran kebencian.

Tak sedikit pengguna medsos yang membuat komentar demi kontennya viral yang ujung-ujungnya justru terjerat pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE).

          Ada pelajaran berharga dari ditangkapnya sejumlah orang akibat telah mengunggah komentar negatif di medsos terkait musibah KRI Nanggala 402. Seperti telah diberitakan sejumlah media, Polres Kudus menangkap Nurhadi yang mengunggah komentar negatif dan seronok yang dapat melukai TNI AL dan keluarga korban.

          Kepolisian juga menangkap seorang pria di Medan, Sumatera Utara, karena unggahan di akun Facebook Aliansi Kuli Seluruh Indonesia yang menghina keluarga besar awak kapal selam KRI Nanggala 402.

          Seorang anggota Polsek Kalasan, Kabupaten Sleman, Aipda FI, juga akhirnya harus diperiksa secara maraton oleh Propam dan Reskrimsus Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terkait ujaran kebencian atas tragedi KRI Nanggala 402. Walaupun beberapa pengunggah komentar negatif tersebut sudah meminta maaf, namun komentar yang sembrono diunggah di medsos itu sudah terlanjur viral dan meresahkan masyarakat. Tak sedikit netizen yang geram dan meminta aparat keamanan menyeret pelaku dengan jerat UU ITE.

Jangan Asal Viral

          Demi viral banyak yang berkomentar negatif dan membuat sensasi. Demi viral, segala cara ditempuh sekelompok orang. Demi terkenal dan eksis, sejumlah orang rela melakukan ulah aneh. Demi viral, aksi membahayakan dan berpotensi merugikan banyak orang dilakukan oleh pengguna akun medsos. Melalui beragam platform medsos tak sedikit orang mencari perhatian, berebut pengikut (followers), mengemis subscriber, berharap dapat like, comment, dan beragam respon baik dari khalayak.

Baca Juga :  Giliran BNPB dan MBLC Support Tim Pemakaman

          Kunci sukses di medsos adalah mampu membuat konten yang bisa menarik perhatian banyak orang. Konten dapat berupa video, visual, audio, meme, teks, dan aneka rupa materi yang dibutuhkan khalayak. Dalam mengemas konten ini tak jarang sejumlah pengguna medsos hanya mencari sensasi agar orang lain penasaran dan tertarik melihat. Rekayasa konten banyak dipilih dengan clickbait dan bentuk manipulasi konten yang lain.

          Bagi orang-orang yang kreatif, mereka mampu membuat konten-konten menarik dan bermanfaat. Konten berupa tutorial, pengajian, pendidikan, dan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain banyak di medsos. Beragam konten positif tersebut mampu melambungkan nama pemilik konten hingga jumlah pengikutnya sangat banyak. Sejumlah pengikutnya tak jarang selalu menanti konten-konten selanjutnya setiap saat.

          Namun bagi mereka yang tak cukup kreatif, tak jarang membuat konten medsos dengan rekayasa dan menonjolkan sensasi. Tak peduli konten yang diunggah itu merugikan orang dan bernilai negatif. Bagi kelompok ini, yang penting konten itu viral. Sekelompok pengunggah konten jenis ini mau menghalalkan segala cara, termasuk membuat konten kebohongan (hoaks) dan memviralkannya.

          Rekayasa konten dilakukan sejumlah pengguna medsos demi mendapatkan konten yang unik, aneh, atau ekstrem. Demi viral, tak jarang orang mengunggah konten yang tak etis, berbau fitnah, adu domba, dan ujaran kebencian. Konten-konten palsu dan rekayasa cukup meresahkan masyarakat. Sementara tak semua masyarakat mampu memilih, memilah, dan menilai mana konten di medsos yang berdasarkan realita dan mana pula yang rekayasa.

Baca Juga :  Terancam Gagal Datangkan Pemaing Asing

Ilusi Terkenal

          Tak sedikit orang ingin terkenal dan popular di medsos dalam waktu singkat. Segala cara ditempuh demi terkenal dan memiliki banyak pengikut. Memang benar melalui medsos sejumlah orang bisa terkenal dan mendapatkan banyak uang dari popularitasnya tersebut. Namun pembuat konten medsos yang materinya bagus dan bermanfaat hingga mampu mendongkrak popularitas pemiliknya jumlahnya tak banyak.

          Di Indonesia memang bermunculan para selebritis medsos yang followers dan pengaruhnya sangat kuat. Pembuat konten (content creator) seperti Atta Halilintar, Ria Ricis, dan sejumlah nama lain memang telah menjadi terkenal dan kaya dari konten YouTube-nya. Namun tak semua pembuat konten medsos bisa meng-copy paste atas apa yang dilakukan oleh beberapa pembuat konten sukses itu dengan gampang.

          Karena minim kreativitas, tak sedikit pengguna medsos yang membuat konten rekayasa. Tak jarang pembuat konten akhirnya meresahkan masyarakat dan berurusan dengan hukum. Banyak pengguna medsos berilusi bisa menjadi terkenal secara instan. Medsos itu media di dunia maya, bukan di alam nyata. Karena maya, maka sifatnya semu, atau ilusi semata. Dunia maya sejatinya tak serupa dengan alam nyata. Ilusi popularitas yang dicipta medsos inilah yang menjadikan banyak orang tertipu.

          Medsos telah menyajikan konten yang melebihi dari realitas yang sesungguhnya (hiperrealitas). Inilah yang tak disadari banyak orang. Apa yang tersaji di medsos itu sejatinya realitas yang direkayasa. Artinya, interaksi di medsos telah mendukung dan menciptakan situasi ketidakjujuran. Kebohongan yang sudah terlanjur viral di medsos bisa jadi justru diyakini sebagai sesuatu yang benar.

Baca Juga :  Breaking News! Pujon-Kediri kembali ditutup

          Cara-cara rekayasa mungkin mampu membawa si pembuatnya jadi terkenal, namun terkenal karena melanggar hukum. Lewat beragam sensasi yang dibuat beberapa pengguna medsos penebar sensasi justru akan menjadikan masyarakat menjauhi pemilik medsos. Medsos Indonesia butuh para kreator konten yang kreatif, jujur, dan bukan rekayasa. Mari bermedsos yang sehat, dengan terus menebar kebaikan bukan kejahatan.

          Jangan lupa bahwa interaksi di dunia maya bisa berimbas pada dunia nyata. Banyak pelanggaran hukum berangkat dari interaksi digital yang akhirnya membawa pelaku dijebloskan ke penjara. Interaksi di dunia nyata dan maya perlu menjunjung sopan santun dan etika.

          Berdasarkan riset Microsoft yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Hasilnya Indonesia berada di urutan ke 29 dari 32 negara yang disurvei. Ini artinya Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara.

          Pelajaran penting dari kasus komentar yang tak sensitif terkait musibah tenggelamnya KRI Nanggala 402 bahwa sebelum berkomentar dan membuat konten perlu dipikirkan dengan matang. Jangan pernah membuat lelucon pada peristiwa yang sensitif seperti musibah dan bencana. Saat ini apapun memang bisa menjadi konten medsos. Namun konten yang diunggah haruslah tetap menjunjung sopan santun dan etika serta mematuhi aturan hukum yang berlaku. (*)