TEROKA, Mudik Curi Start

10
new malang pos

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Mudik lebaran resmi dilarang. Tapi tidak berarti bahwa lebaran tahun ini tanpa aktivitas mudik sama sekali. Peraturan ketat boleh dibuat di atas kertas. Tapi di “bawah kertas” masyarakat lebih kreatif menyiasatinya.

Maling lebih pintar daripada polisi. Begitu kata orang. Sekeras apapun aturan masih banyak cara untuk menghindari. Pelanggar peraturan bisa main kucing-kucingan dengan petugas. Kalau di atas kertas ada aturan, di “bawah kertas” aturan itu bisa diselesaikan.

Pepatah Inggris mengatakan, “Rules are made to be broken”, aturan diciptakan untuk dilanggar. Selalu ada cara untuk melanggar peraturan. Selalu ada lubang untuk lolos dari aturan. Pemerintah sudah menetapkan 6 sampai 17 Mei sebagai hari haram mudik. Semua moda transportasi darat, laut, dan udara tidak boleh beroperasi pada hari-hari itu.

Ini artinya mobilitas nasional antar-kota dan antar-provinisi tidak diperbolehkan selama masa larangan mudik. Meski begitu mobilitas regional masih diizinkan. Pemerintah menetapkan sejumlah wilayah aglomerasi yang mendapatkan pengecualian pergerakan kendaraan.

Menyiasati larangan ini para pemudik tak kehilangan akal. Mereka menyiasati dengan curi start, mudik awal, sebelum deadline haram mudik tiba. Hari-hari ini terlihat peningkatan aktivitas mudik yang cukup tinggi di berbagai kota besar. Biasanya pemerintah menetapkan tuslah, pembatasan kenaikan harga tiket transportasi selama lebaran. Tapi karena tahun ini tidak ada mudik maka tidak ada aturan tuslah resmi. Harga tiket pun melambung sampai 100 persen.

Curi start mudik awal ini tentu harus diantisipasi di berbagai daerah. Ide awal larangan mudik adalah supaya tidak terjadi transmisi virus dari kota besar ke daerah. Kalau kemudian sekarang mudik terjadi lebih awal berarti tujuan untuk menghentikan atau mengurangi mobilitas tidak tercapai. Pemerintah tampaknya tidak mengantisipasi gelombang mudik awal ini.

Sudah hampir bisa dipastikan bahwa para pencuri start mudik ini tidak akan menaati protokol kesehatan, terutama melakukan karantina mandiri selama sedikitnya seminggu. Hal ini tentu meningkatkan risiko transmisi penularan dari kota ke desa yang menjadi tujuan utama larangan mudik nasional.

Ketika para pemudik itu sudah sampai di daerahnya tidak ada lagi yang bisa membatasi pergerakannya, karena umumnya mereka hanya melakukan pergerakan lokal atau regional. Dengan adanya pembolehan gerakan di wilayah aglomerasi dipastikan mobilitas masyarakat akan tetap padat selama libur lebaran.

Ketaatan terhadap prokes sangat tinggi di perkotaan karena ketatnya pengawasan dan penerapan sanksi yang cukup keras. Tapi, di daerah pedesaan penerapan prokes sangat longgar. Hampir jarang terlihat ada warga desa yang memakai masker atau melakukan social distancing.

Tempat wisata dan hiburan akan diizinkan untuk beroperasi, ini berarti potensi kerumunan akan terjadi dan risiko penularan akan cukup tinggi.

Dunia belum aman dari ancaman pandemi Covid-19 meskipun berbagai jenis vaksin sudah ditemukan dan proses vaksinasi sudah mulai berlangsung.

Ancaman terbaru muncul dalam bentuk gelombang ketiga, third wave, pandemi yang sekarang sudah terjadi di Eropa dan Asia. Di beberapa negara Eropa tingkat penularan meningkat lagi. Begitu juga di Amerika Serikat dan Amerika Selatan, seperti Chile dan Brazil. Beberapa negara di Asia juga mengalami peningkatan penularan yang tinggi. Di India terjadi peningkatan tajam dalam pekan ini, begitu juga di Filipina dan Papua Nugini.

Peningkatan penularan terjadi disebabkan beberapa hal, terutama karena virus yang bermutasi dengan cepat dengan kemampuan penularan yang lebih tinggi. Selain itu, varian virus baru itu lebih sulit dideteksi dengan berbagai tes konvensional yang selama ini sudah dipakai.

Proses vaksinasi di Indonesia yang sedang berjalan tampaknya membuat masyarakat semakin pede dan lebih berani meninggalkan rumah untuk beraktivitas. Hal ini terlihat dari aktivitas moda transportasi umum, terutama online, yang dalam sebulan terakhir menunjukkan tanda-tanda recovery.

Efek vaksinasi mungkin bisa membuat masyarakat mengalami euforia. Setelah hampir dua tahun terkungkung dan terkurung, rasanya sekarang sudah hampir bebas lepas. Bersamaan dengan euforia vaksinasi muncul momen Idul Fitri yang selalu disambut dengan euforia nasional setiap tahun.

Bertemunya dua euforia ini akan menyebabkan munculnya mobilitas massa yang besar. Momen libur lebaran kali ini bisa menimbulkan ledakan mobilitas. Pemerintah lupa mengantisipasi mudik curi start sehingga tujuan untuk mengurangi transmisi penularan bisa berantakan.

Mungkin belum terlalu terlambat, atau terlambat pun masih lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Pemerintah harus mengeluarkan peraturan yang keras terhadap pemudik yang balik ke kota setelah 17 Mei. Para pemudik itu wajib karantina seminggu atau sepuluh hari. Dengan begitu para pemudik yang masih belum curi start akan berpikir ulang.  Tapi, maling mungkin tetap lebih pintar daripada polisi. Selalu saja ada cara untuk mengakali peraturan. (*)