TEROKA: Hakekok

27
new malang pos

NewMalangPosPolisi di Pandeglang, Jawa Barat, menangkap 16 orang laki-laki dan perempuan yang diduga menjadi pengikut aliran sesat yang dinamai “Hakekok Blakasuta.”

Ritual kelompok ini dinilai nyeleneh karena mereka mengadakan mandi bersama telanjang di kolam terbuka di tengah sawah. Aksi ini dipergoki oleh seseorang yang mengambil gambar ritual itu dan kemudian melaporkannya kepada polisi.

Kelompok ini berkumpul setiap Minggu Wage lalu mengadakan ritual semacam semedi dan kemudian ditutup dengan mandi bersama di alam terbuka dengan tujuan untuk pembersihan diri. Para pengikut ajaran diharuskan untuk menyucikan badan sebagai syarat untuk membersihkan jiwa.

Aliran ini juga mengajarkan pengikutnya supaya menjalankan prinsip “blakasuta” yang dalam bahasa Jawa adalah “blokosuto”, berbicara dan bersikap jujur, apa adanya, dan tidak berbohong.

Hakekok, dalam bahasa Sunda kurang lebih berarti hakikat, atau kebenaran. Para pengamal sufisme atau mistisisme Jawa mengenal tiga level pengamalan beragama, yaitu syariat, thariqat, dan haqiqat sebagai level tertinggi. Mereka yang bisa mencapai tingkat hakikat dianggap bisa mengenal dan memahami hakikat ketuhanan dan pada akhirnya mencapai makrifat dalam bentuk penyatuan dengan Tuhan.

Dalam tradisi sufisme makrifatullah, mengenal Allah, berarti memahami esensi ketuhanan dan menyatukan dirinya dengan Tuhan dalam bentuk “wihdatul wujud” atau penyatuan eksistensi manusia dengan Allah. Dalam tradisi mistisisme Jawa hal ini dikenal sebagai “manunggaling kawula gusti” menyatunya hamba dengan Tuhan sebagai puncak tertinggi pengamalan keberagamaan.

Mistisisme ini merupakan praktik yang diadopsi dari ajaran Hindu dan Budha yang sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-5. Ketika kemudian Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 ajaran-ajaran thariqat Islam yang berkembang luas di Asia Tengah ikut masuk ke Indonesia dan kemudian bercampur dengan mistisisme Jawa.

Islam masuk melalui dakwah kultural yang dilakukan para Wali Sanga yang tidak serta-merta menghapuskan praktik-praktik Hindu-Budha yang sudah mengakar kuat. Para Wali Sanga mengisi paham Hindu itu dengan nilai-nilai Islam. Sunan Kalijaga salah satu wali besar di Jawa mempergunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwah sehingga mudah dicerna dan diterima oleh kalangan bawah.

Dalam waktu singkat Jawa bisa diislamkan. Tetapi di lingkungan petani di pedalaman Islam dipraktikkan secara sinkretis, campuran seperti gado-gado, antara tradisi Islam dan Hindu. Para pemeluk Islam di Jawa kemudian oleh antropolog Clifford Geertz dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu abangan, priyayi, dan santri.

Abangan adalah para petani di daerah pedalaman yang memeluk Islam tanpa menjalankan syariat penuh seperti shalat dan puasa. Kalangan priyayi adalah para ambtenar sisa feodalisme yang bergaya hidup sekuler ala Barat sehingga disebut sebagai “landa ireng” atau Belanda berkulit hitam. Sedangkan santri adalah kalangan muslim urban atau saudagar yang tinggal di wilayah pesisir dan menjalankan agama sesuai syariat.

Kelompok abangan dan priyayi sering disebut sebagai “Islam KTP” atau muslim nominal karena mereka menjadikan Islam sebagai agama formalitas saja. Di antara kalangan petani abangan ini banyak penganut kejawen yang merupakan sisa pengaruh Hindu dan agama lokal paganisme dan animisme. Di Jawa Barat kalangan abangan ini banyak yang masih memraktikkan ajaran pagan dari kepercayaan Sunda Wiwitan yang mirip dengan kejawen.

Kelompok Hakekok ini mengamalkan ajaran sinkretis, campuran ajaran pagan Sunda Wiwitan dengan sufisme Islam dan mistisisme Jawa. Nama Hakekok diambil dari “hakikat” yang diadopsi dari sufisme Islam. Blakasuta adalah nilai moral lokal yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran dan keterbukaan sebagai bagian dari kearifan lokal.

Di Jawa Timur di daerah Blora, Tuban, Bojonegoro dan sekitarnya masih banyak komunitas Samin yang terkenal dengan cara hidup yang jujur. Dalam bicara sehari-hari orang Samin jujur, terbuka, apa adanya, dan tidak pernah berbohong, bahkan seandainya ditanya dimana menyimpan uang mereka menjawab dengan jujur. Sikap ini sering secara ironis dianggap sebagai kebodohan.

Ajaran ini dianut juga oleh aliran Hakekok Blakasuta. Dalam sikap dan pembicaraan sehari-hari mereka diharuskan jujur dan tidak boleh bohong untuk mencapai kebersihan jiwa yang sesungguhnya. Mandi bersama itu merupakan ritual untuk membersihkan badan agar bisa mendapatkan kebersihan jiwa secara sempurna.

Praktik semacam ini dianggap melenceng dan sesat dalam standar Islam. Meski demikian ada nilai-nilai moral dari kearifan lokal yang bisa diteladani dari para penganut Hakekok Blakasuta, terutama soal kejujuran yang semakin langka di negeri kita ini.(*)

* Oleh Dhimam Abror Djuraid