Terkendala Covid-19, Temuan Pengidap TBC Menurun

Foto: Dinas Kesehatan Blitar (Foto: Erliana Riady/Detik News)

Blitar, NewMalangPos – Temuan kasus penyakit tuberculosis (TBC) mengalami penurunan dengan hanya berhasil menemukan 25 persen dari taget julmlah yang ditetapkan selama satu tahun karena terkendala pandemic Covid-19.

Melansir dari DetikNews, Rabu  (17/3),Plt Kabid Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) Dinkes Pemkab Blitar, Eko Wahyudi memaparkan bahwa jumlah temuan penderita TBC mencapai 847 orang sepanjang tahun 2019. Namun di tahun 2020, penemuan kasus TBC ini menurun, dan hanya terdapat 643 orang.

“Padahal target kita tahun 2020 itu 2.573 penderita. Jadi dengan temuan hanya 643 penderita itu, kami hanya mampu mencapai 25 persen dari target,” kata Eko kepada detikcom, Rabu (17/3).

Baca Juga :  Tak Ada Hujan, Jembatan di Situbondo Ini Tiba-tiba Putus

Menurut Eko, menurunnya angka temuan kasus TBC ini merupakan akibat dari dampak pandemi Covid-19. Kegiatan dinkes tidak bisa seproduktif biasanya karena masyarakat menjadi enggan untuk datang ke fasilitas kesehatan. Eko juga mengklaim bahwa layanan penanggulangan penyakit sangat terimbas dengan adanya pandemi.

Untuk mengatasi hal ini, Eko mengaku berkoordinasi dengan kader. Dalam prosesnya, hanya ada komunikasi melalui aplikasi alat percakapan saja. “Kita berkoordinasi dengan kader. Mereka datang berkunjung ke penderita biasanya begitu. Namun sejak pandemi kan tidak ada kunjungan. Hanya komunikasi melalui aplikasi percakapan saja,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bentuk Ikhtiar, Pemkab Banyuwangi Ajak Warga Istigasah dan Tahlil Online Agar Pandemi Dapat Berakhir

Jumlah yang dilaporkan sebanyak 643 itu merupakan laporan yang masuk dari faskes. Sementara yang klinik swasta maupun praktik dokter pribadi belum banyak yang melaporkan. Padahal, gejala klinis COVID-19 hampir sama dengan TBC.

“Dari 643 itu dilaporkan meninggal 59 orang. Lalu yang multi drug resistance (MDR) masih jalani pengobatan ada 6 orang. Karena TBC ini gejala klinisnya menyerupai COVID-19, maka pengobatannya harus disiplin dan tuntas. Ada yang selama enam atau bisa sampai delapan bulan,” imbuh Eko.

Mengingat pentingnya penanganan penyakit menular ini, Eko mengaku lebih masif lagi meminta para kader bergerak lebih aktif ke lingkungan. Karena tidak menutup kemungkinan, mereka yang masuk suspect COVID-19 juga menderita TBC yang bisa menularkan ke anggota keluarga lainnya.

Baca Juga :  Sakit Tak Kunjung Sembuh, Kakek ini Ditemukan Tewas Gantung Diri

“Kalau yang 2021 ini, yang sudah sistem aplikasi laporan sebanyak 66 orang terkonfirmasi TBC. Sementara ada 420 orang suspect TBC. Ini masih data awal ya, karena ada beberapa yang belum entry datanya,” pungkasnya. (iwd/iwd/dtk/mg3/ley /nmp)