Tarif Retribusi Air Bakal Naik

4
PENGHARGAAN: Direktur Utama Perumdam Among Tirto Edi Sunaedi beri penghargaan bagi karyawan inovatif setiap tahunnya. (NMP/MUHAMMAD FIRMAN)

KOTA BATU, NEW MALANG POS – Perumdam Among Tirto Kota Batu akan mengkaji kenaikan air. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Perumdam Among Tirto Edi Sunaedi.

Menurutnya kenaikan tarif perlu diberlakukan karena sudah sejak tahun 2002 tarif air bagi pelanggan masih tetap sama.
“Rencananya kami akan mengkaji kenaikan tarif retribusi pemakaian air Perumdam Among Tirto Kota Batu. Ini karema selama 19 tahun berjalan besaran tarif yang dikenakan kepada pelanggan kategori rumah tangga sebesar Rp 880 per meter kubik,” ujar Edi kepada New Malang Pos, Senin (5/4).

Ia menerangkan wacana tersebut kembali mengalir setelah pihaknya pada bulan Maret lalu melaporkan LPJ tahunan ke Wali Kota Batu. Salah satu usulan dalam pembahasan adalah rencana kenaikan tarif retribusi air.
“Yang utama kami tegaskan bahwa kenaikan retribusi air yang diambil oleh Kota dan Kabupaten Malang agar ada penyesuaian tarif. Kemudian kenaikan tarif pelanggan dengan catatan menaikkan kategori kelas pelanggan,” bebernya.

Ia menerangkan, kenaikan kelas pelanggan saat ini untuk rumah tangga 1-4 ke depan akan ditambah 5-6. Kategori baru ini yang masuk kategori masyarakat mampu atau elit. Selanjutnya kenaikan tarif industri ke niaga juga wajib ditambah yang awalnya masih niaga 1-2 ditambah jadi niaga 3-4.

Lebih lanjut, untuk kenaikan tarif akan dikenakan kepada kategori pelanggan rumah tangga golongan tiga hingga golongan enam yang notabene kelompok keluarga mampu. Serta pada kategori niaga industri.
“Kenaikan tarif ini juga sebagai bentuk relevansi dengan kebutuhan biaya operasional dan perawatan. Dasar hukum yang dijadikan acuan untuk menaikkan tarif yakni PP 122 tahun 2015 tentang sistem penyediaan air minum,” terangnya.

Dalam aturan itu, menjelaskan bahwa besaran tarif tidak boleh lebih dari besaran UMK Kota Batu. Di tahun ini UMK Kota Batu ditetapkan senilai Rp 2.819.801. Maka dengan melihat formulasi perhitungan seperti itu, diketahui nilainya berkisar Rp 112 ribu.

Untuk saat ini, di Kota Batu rata-rata pelanggan membayar masih berkisar Rp 40 ribu. Atau bisa dibilang masih jauh dari angka Rp 100 ribu.
“Kami tegaskan ini masih rencana dan perlu dilakukan kajian cukup panjang. Kemudian butuh persetujuan eksekutif maupun legislatif. Kenaikan ini tujuannya untuk keadilan, artinya masyarakat mampu harus memberikan sumbangsih masyarakat kurang mampu atau subsidi silang,” tegasnya.

Perlu diketahui, selama berjalan 19 tahun besaran tarif yang dikenakan kepada pelanggan kategori rumah tangga sebesar Rp 880 per meter kubik. Selain rumah tangga, kategori lainnya yakni niaga maupun industri sebesar Rp 1100 dan Rp 1200 meter per kubik.

Dalam penyampaian LPJ selama tahun 2020 kepada wali kota dan wawali (12/3) lalu, Sokek sapaan akrabnya menyampaikan bahwa selama tahun 2020 pihaknya melaporkan adanya peningkatan laba mencapai 40 persen.
“Secara total untuk LPJ yang saya sampaikan ke Bu Wali dan Wawali dari pendapatan laba meningkat hampir rata-rata 38-40 persen. Untuk laba tahun 2020 ada kenaikan Rp 2,1 miliar dari tahun 2019 senilai Rp 1,7 miliar,” ungkapnya.

Wacana kenaikan tarif retribusi air tersebut ditanggapi oleh Anggota Komisi A DPRD Kota Batu Ludi Tanarto bahwa pada prinsipnya untuk wacana retribusi harus didasarkan pada studi kelayakan. Kemudian perlu dilakukan kajian yang sifatnya strategis dan tidak membebani masyarakat.
“Boleh saja naikkan tarif retribusi yang penting harus ada studi kelayakan dan kajian. Serta tidak membebani masyarakat dengan kondisi masyarakat di tegah pandemi ini. Itu suatu hal yang penting dipertimbangkan. Jangan sampai terburu-buru,” tegasnya.

Lebih lanjut, wacana kenaikan retribusi juga harus dilihat dari sisi biaya penyaluran dan perawatan jaringan apakah selama ini sudah tercover biayanya. Selain itu harus ada keterbukaan terhadap masyarakat oleh Perumdam.
“Misal biaya penyaluran air per meter kibik sekian, reribusi selama ini sekian. Apakah rugi atau untung. Jadi perlu keterbukaan melalui sosialisasi pada masyarakat dari hasil kajian untuk menaikkan tarif retribusi air,” imbuh ketua Fraksi PKS Kota Batu ini.

Terpenting diungkap Ludi, sebelum menaikkan retribusi air bagi pelanggan perlu adanya peningkatan pelayanan. Meski diakuinya di beberapa titik pelayanan air telah berjalan baik. Namun tak dipungkirinya, di titik lainnya perlu adanya diperbaikan karena air mati di jam tertentu dan debit air kecil.
“Harapannya Perumdam perlu terbuka, berbenah dengan pelayana oke. Kemudian masyarakat puas dan harus memberikan keuntungan bagi pemerintah kota,” pungkasnya. (eri/jon)