Tak Harus Benci Produk Luar Negeri

6

Oleh: Putri Hanifah, CHt., C.NNLP

Life Coach, Mahasiswi Universitas Negeri Malang

NewMalangPos – Sesaat setelah pencabutan izin miras, Presiden Indonesia Presiden Joko Widodo menyeru masyarakat untuk bangga menggunakan produk dalam negeri. Seruan tersebut disampaikan ketika Rapat Kerja Kementrian Perdagangan 2021. Dalam pidatonya beliau mengungkapkan “Cintai Produk dalam Negeri, Benci Produk Asing” sontak pembahasan itu menjadi ramai di media sosial.

Beberapa media asing seperti Reuters asal Inggris, Intellasia.net dari Asia Timur, kantor berita Singapura Channel News Asia, dan Mainichi.jp dari Jepang tak luput menyoroti pernyataan beliau. Riuh dan ramainya pernyataan tersebut tentu mengundang pro kontra.

Masyarakat yang pro tentu akan mendukung pernyataan beliau, mengingat banyak masyarakat Indonesia hari ini yang lebih bangga menggunakan produk luar negeri daripada produk sendiri. Sedangkan masyarakat yang kontra tentu akan menggarisbawahi diksi benci yang beliau ungkapkan.

Menurut KBBI benci bermakna tidak suka. Bisa jadi, satu hal yang terlintas di benak masyarakat adalah seruan untuk tidak menyukai produk asing. Padahal suka ataupun tidak suka adalah urusan hati yang semua orang memiliki pertimbangan sendiri mengapa membeli produk itu dan ini.

Pertanyaan selanjutnya, apakah pernyataan benci ini benar-benar sudah tertanam di negeri Indonesia atau hanya menjadi slogan semata? Jika kita mau menelisik lebih jauh, rasanya fakta benci ini masih jauh di lapangan. Bagaimana bisa benci produk luar negeri jika angka impor masih tinggi? Bulan Januari – Desember 2020 kemarin saja nilai impor Indonesia masih USD 141.568,8 juta menurut Badan Pusat Statistik.

Berbicara tentang membeli barang adalah berbicara soal kebutuhan, ada orang yang membeli rela membeli barang karena kualitasnya, barang elektronik misalnya seperti jam tangan, alat-alat masak untuk kesehatan dan lain-lain. Ada juga yang membeli barang karena mempertimbangkan soalan harganya. Oh, kalau mau membeli produk ini yang murah saja, yang penting bisa dipakai.

Semua disesuaikan dengan kebutuhan yang akan dibeli oleh konsumen. Jika masyarakat dibatasi untuk tidak boleh membeli produk luar negeri (khususnya dari China) dengan karakteristik murahnya, siapa memang yang akan mengganti subtitusi produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan harga yang selangit?

Jika dilihat dari sudut pandang Presiden, wajar jika beliau sampai menggaungkan benci produk luar negeri. Pasalnya produk luar negeri banyak sekali membanjiri pasar negeri ini. Bahkan marketplace favorit wanita Indonesia yakni Shopee, juga sudah lama menyediakan fitur beli langsung dari luar negeri.

Animo masyarakat yang besar terhadap barang-barang dari luar negeri (khususnya China)  tentu bukan tanpa sebab. Animo ini datang karena harga barang di China super murah, selain itu biaya ongkir dari China ke Indonesia bahkan lebih murah daripada harga ongkir di dalam negeri. Itu pun pembeli sudah tidak dibebani biaya beacukai lagi (jika membeli orderan lewat shopee). Tentu hal ini menjadi sesuatu hal yang menggiurkan bagi masyarakat.

Globalisasi hari ini meniscayakan Indonesia juga masuk dalam pusaran perdagangan internasional. Tentu kita masih ingat dengan dengan perjanjian perdagangan internasional seperti Asian Free Trade Area (AFTA), ASEAN-CHINA FTA, Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) belum dengan perjanjian perdagangan internasional yang sudah ditaken sampai hari ini.

Izinkanlah persaingan itu hadir secara alami, kalau perlu jejerkan produk kita dengan produk luar negeri. Misal mobil SMK di jejerkan dengan mobil Hyundai. Test pasar, mana yang masyarakat pilih? Kalau masyarakat memilih produk luar negeri berarti memang produk dalam negeri ada yang harus dibenahi, inovasi harus segera digencarkan. Kalau dariawal masyarakat sudah benci? Bagaimana masyarakat bisa mengamati, meniru dan memodifikasi produk mereka untuk mengembangkan produk sendiri di dalam negeri?

Sejatinya tidak ada masyarakat yang bodoh, yang ada hanya mereka kekurangan informasi terdahulu (ma’lumat as-sabiqoh) yang menjadikan mereka masih kesulitan mengaitkan fakta yang ia jumpai di lapangan dengan informasi yang dia miliki. Jangankan inovasi, bisa jadi kesulitan tersebut menjadikan masyarakat sibuk membeli produk luar negeri, tanpa memikirkan apa dampaknya bagi negeri.

Maka penting bagi pemerintah untuk mengedukasi masyarakat lebih lanjut supaya masyarakat bisa lebih semangat berinovasi memberikan kontribusi terbaik bagi negeri ini, dalam teori desain istilahnya amati, tiru, modifikasi. Di sisi lain pemerintah juga punya PR besar bagaimana mengatur regulasi produk luar negeri yang bisa mengakomodir banyak faktor supaya tidak terjadi ketimpangan ekonomi di negeri ini.

Indonesia mestinya mencontoh keberhasilan Korea yang berhasil menanamkan visi dan target besarnya kepada seluruh masyarakat hingga menjadikan negeri gingseng ini berhasil memajukan negerinya dalam kurun waktu kurang dari seperempat abad. Tak heran soalan teknologi Korea rajanya. Samsung, LG, Hyundai dan masih banyak lagi.                 Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia dengan karunia sumber daya alam yang tidak terkira jumlahnya. Islam mendorong ummatnya untuk memiliki cita-cita besar, berinovasi dan memberikan kontribusi besar. Ummar bin Khattab berkata “Janganlah engkau sekali-kali berobsesi rendah, sesungguhnya saya belum pernah melihat orang yang paling kerdil dari orang yang berobsesi rendah.”

Tak ada hal yang mustahil untuk memajukan Indonesia lewat berbagai Inovasi karya anak bangsa, hanya saja kesempatan itu akan kita ambil atau tidak?(*)