Super Agility

new malang pos

Oleh: Sugeng Winarno

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

Saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Perubahan terjadi tak mudah ditebak (unpredictable). Situasi pandemi Covid-19 juga menuntut perubahan baru di segala lini kehidupan. Dalam situasi seperti ini kita butuh ketangkasan, kegesitan, kelincahan, keluwesan, dan ketangguhan. Itulah kemampuan yang disebut dengan agility. Setiap orang perlu punya super agility hadapi perubahan agar tetap lincah mampu bertahan dan beradaptasi di era multi disrupsi saat ini.

Konsep super agility saya ketahui saat saya mengikuti kuliah umum oleh Dr. Ary Ginanjar Agustian selaku CEO ESQ Leadership Center, pada acara Pembukaan Student Day Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Minggu (14/3) lalu. Ary menyatakan bahwa kita sedang menghadapi era yang dinamakan VUCA. VUCA merupakan akronim dari volatility (perubahan yang sangat cepat), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas).

VUCA telah merobohkan sejumlah perusahaan besar dunia yang tak mampu beradaptasi. Dulu Kodak menyebut munculnya kamera digital hanyalah tren sesaat dan kamera produksi Kodak akan abadi. Kodak terjebak halusinasi dan tak mampu beradaptasi akibatnya perusahaan itu mati.

Kisah serupa juga dialami Nokia. Nokia dulu menyebut Android sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Arogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat Nokia sekarat dan terlibas iPhone. Di Indonesia, sejumlah stasiun televisi telah kehilangan penontonnya karena telah beralih ke YouTube.

Menjawab persoalan VUCA ini, Ary memberikan solusi dengan super agility. Ada lima super agility yang harus kita miliki. Pertama, change agility atau kemampuan beradaptasi dengan perubahan apapun. Kedua, mental agility atau kemampuan bertahan dalam kondisi apapun. Ketiga, people agility atau kemampuan bekerjasama dengan siapapun. Keempat, learning agility atau kemampuan mempelajari dan memahami hal baru dengan cepat. Kelima, result agility atau kemampuan untuk tetap berprestasi dalam kondisi apapun.

Baca Juga :  Resmi Dilantik, Darmadi Kebut RPJMD

Apa yang dikemukakan oleh Ary Ginanjar sebangun dengan apa yang pernah saya baca dalam tulisan Prof. Rhenald Kasali (2021) tentang era disrupsi ganda (double disruption). Munculnya teknologi internet telah merubah banyak hal. Adanya pandemi Covid-19 juga menuntut perubahan dalam berbagai hal. Menyikapi perubahan ini perlu sikap aktif dan kreatif agar tak tergilas oleh perubahan zaman dan situasi terkini.

Double Disruption

Rhenald Kasali menyebut saat ini telah terjadi era perubahan ganda (double disruption). Kemampuan adaptif sangat dibutuhkan dalam menghadapi perubahan ganda ini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat perilaku manusia maupun lingkungan berubah. Dinamika perubahan itu makin cepat ketika teknologi informasi merasuk dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Semua harus mampu cepat berubah di era disrupsi ganda.

Situasi disrupsi ganda menuntut kemampuan adaptif dan eksploratif siapa saja. Apakah itu pemimpin bisnis, pengambil kebijakan di pemerintah, bahkan orang tua yang harus mendampingi anaknya belajar secara online. Model berfikir dan bekerja dengan cara-cara lama harus ditinggalkan. Cara bertindak menghadapi persoalan menuntut cara di luar kebiasaan (out of the box). Ini butuh kecerdasan, kreativitas, dan keberanian mencoba hal baru.

Dalam situasi sesulit apapun, kehidupan harus terus berjalan. Roda perekonomian harus terus berputar. Pelayanan publik juga harus dijalankan. Sekolah-sekolah harus terus menjalankan proses belajar mengajar. Di kampus-kampus juga terus melakukan aktivitas pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Semua tak boleh terhenti gara-gara pandemi. Semua harus berubah agar bisa hidup berdampingan dengan pandemi.

Baca Juga :  Tugas Penyidikan Lima Polsek Dicabut

Era disrupsi ganda juga akan memunculkan kekagetan (shock). Untuk itu perlu upaya mitigasi untuk menghadapi perubahan ini. Perlu upaya eskplorasi atas segala potensi yang dimiliki. Terus mencari dan menciptakan kesempatan (opportunity) di masa pandemi guna menemukan peluang-peluang baru. Kini opportunity terbuka lebar di sektor-sektor yang mengadopsi cara kerja digital. Gelombang digitalisasi telah merambah hingga ke pelosok desa.

Move On

Kunci sukses dalam menghadapi situasi perubahan yang cepat dan terjadinya ketidakpastian adalah cepat berubah (move on). Situasi pandemi tak lantas terus diratapi. Situasi sulit ini akan semakin membawa keterpurukan kalau dihadapai hanya dengan diam tak melakukan perubahan. Segera menyesuaikan diri dalam situasi pandemi menjadi pilihan penting agar tak terpuruk oleh situasi sulit saat ini. Keputusan untuk berubah ini perlu diambil dengan cepat tanpa banyak menyalahkan situasi.

Apa yang telah dikemukakan oleh Dr. Ary Ginanjar Agustian dan Prof. Rhenald Kasali sesungguhnya nyata di depan mata. Munculnya VUCA yang menuntut adaptasi dengan super agility dan lahirnya double disruption menuntut semua orang untuk berubah. Perubahan mindset berfikir, cara kerja, dan cara mencari peluang. Kemampuan move on menuntut penyikapan yang tak hanya melanggengkan cara-cara lama yang cenderung hanya melakukan pengulangan dan rutinitas serta terbiasa dengan zona nyaman.

Baca Juga :  Gunung Sinabung Erupsi, Semburkan Awan Panas Sejauh 2.500 Meter

Tak bisa dimungkiri bahwa saat ini sejumlah sektor pekerjaan telah tergantikan oleh teknologi. Munculnya robot cerdas Sophia misalnya, juga lahirnya sejumlah teknologi lain yang dapat menggantikan peran manusia. Sejumlah disiplin ilmu juga telah tergantikan oleh aplikasi berbasis internet. Kalau situasinya sudah seperti ini maka tak ada gunanya menangisi masa lalu. Semua dituntut segara move on menghadapi masa kini dan masa depan.

Saat ini tak cukup hanya merasa bisa hidup di masa new normal, masih perlu super agility guna melampaui keterbatasan. Kunci menjadi super agility bisa diawali dari paradigma bertahan hidup. Bahwa malas, lalai, menyerah terhadap kondisi pandemi akan mengancam keberlangsungan kehidupan. Ketika akhir pandemi masih belum pasti dan cut off penyebaran virus Covid-19 belum berhasil, maka upaya melawan pandemi dengan beragam ikhtiar perlu terus dicoba.

Super agility menuntut siapa saja agar punya kemampuan agar dapat bekerja sama dengan siapapun menjadi kunci. Tak pandang perbedaan ras, budaya, agama, bahasa dan cara pandang. Kemampuan tetap survive bertahan dalam kondisi apapun, kemampuan mempelajari dan memahami hal baru dengan cepat, dan kemampuan tetap berprestasi dalam kondisi apapun menjadi solusi era VUCA dan double disruption saat ini. Saat ini orang yang mampu bertahan dan melampaui disrupsi dan pandemi adalah orang-orang yang memiliki agility yang kuat. (*)