Warning Surabaya Utara! Sungai Tambak Wedi di Surabaya Dapat Memicu Kanker

new malang pos
Ilustrasi: Sejumlah aktivis lingkungan dari Mupalas, Komunitas Tolak Plastik, dan Ecoton memprotes pencemaran yang membuat Sungai Tambak Wedi, Surabaya, penuh buih bak salju, Kamis (18/3). (Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono/CNN Indonesia)

Surabaya, NewMalangpos – Dampak pencemaran deterjen yang mengandung fosfat dan klorin yang menimbulkan busa di permukaan air sungai Tambak Wedi, Kota Surabaya, dinilai bisa mematikan ekosistem sungai dan memicu kanker.

Hal itu terungkap dalam temuan peneliti, mahasiswa dan aktivis lingkungan di Surabaya, yang terdiri dari Komunitas Tolak Plastik Sekali Pakai (KTP), Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Surabaya (Mupalas), dan peneliti Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Dari foto yang didapat CNNIndonesia.com, para aktivis tengah menggelar aksi damai dari atas perahu di tengah Sungai Tambak Wedi yang ditutupi oleh hamparan buih putih yang menyerupai salju.

Baca Juga :  Begini Tanggapan Gubernur Khofifah Terkait Wali Kota Blitar Langgar Prokes saat Pesta Tasyakuran

“Dua tahun lagi ekosistem Sungai Tambak Wedi buyar,” kata pengurus harian Mupalas, Faisol Mardiono, Kamis (18/3).

Melansir dari CNN Indonesia, Jumat (19/3), kandungan fosfat dan klorin itu diketahui saat Mupalas, KTP, dan Ecoton melakukan penelitian mikroplastik dan uji kualitas air, di Sungai Tambak Wedi.

Sampel air diambil di tiga lokasi di muara sungai Tambak Wedi dengan menggunakan alat TDS (Total dissolved Solid/kandungan ion terlarut dalam air), pengukur phospat, amonium, pH meter, klorin dan plankton net untuk mengambil sampel mikroplastik.

Peneliti KTP, Miftachul Rohmah, mengatakan kandungan fosfat dan TDS yang ditemukan di tiga lokasi itu telah melebihi ambang batas baku mutu air.

Baca Juga :  2.600 Pengendara Diswab Antigen Massal di Suramadu, 24 Orang Diketahui Positif Covid-19 PCR

“Kandungan fosfat yang ditemukan yakni sebesar 45 ppm (part per million), sedangkan TDS mencapai 4015 hingga 5012 ppm. Padahal untuk baku mutu air sungai parameter TDS harus lebih kecil 1500 ppm dan kadar fosfat tidak boleh lebih dari 5 ppm,” ucapnya.

Hasil uji di tiga lokasi menunjukkan TDS 4015 ppm hingga 5012 ppm, melebihin baku mutu 1500 ppm. Phospat, 45 ppm, itu melebihi baku mutu sungai kelas empat PP 82/2001, sebesar 5 ppm.

Kemudian pH atau tingkat keasaman yang ditemukan yakni pH 8,6 yang menunjukkan air kondisi basa. pH tinggi dan fosfat jauh di atas baku mutu itu, kata dia, menunjukkan bahwa sungai Tambak Wedi mengandung deterjen.

Baca Juga :  Pasca Gempa Malang, Waspada Hujan Disertai Petir Selama 3 Hari di Jatim

“Dalam deterjen mengandung senyawa karsinogenik yang tidak dapat terurai di alam. Kondisi ini dipastikan menghancurkan ekosistem sungai Tambah Wedi dan Selat Madura,” katanya.

Efek fosfat, kata dia, akan menghambat penguraian bahan organik di perairan, menyebabkan eutrofikasi atau penyuburan perairan sehingga terjadi ledakan populasi alga yang akan menurunkan oksigen terlarut.

Busa yang timbul di permukaan juga menghalangi penetrasi matahari ke kolom air sehingga menghambat fotosintesis dan mengganggu mobilitas biota perairan, menyebabkan pH air menjadi basa dan bisa membahayakan kehidupan biota air.

“Akibatnya bisa menyebabkan kematian biota air dan ikan,” ucap dia. (frd/arh/cnni/mg2/ggs/nmp)