Sulitnya Tanpa Aremania

NewMalangPos – Ada beberapa pelatih yang saya kenal di Indonesia. Termasuk ada juga pelatih asing. Terutama pelatih yang dulu pernah menangani Arema.

Saya bisa kenal baik, karena memang sehari-sehari mendapingi tim Singo Edan. Dulu, waktu aktif meliput Arema. Hampir semua gerak gerik Arema saya rekam. Saya beritakan jika itu menarik dan Aremania perlu mengetahuinya.

Begitu baiknya hubungan dengan pelatih, sering makan pun satu meja. Bahkan ada pelatih yang menjadikan saya sebagai ‘mata-mata’ tim lawan. Terutama saat Arema melakoni laga away.
Itu dilakukan seorang pelatih asing. Kebetulan saya juga perlu mengambil foto latihan tim lawan, sekaligus wawancara pemain kunci dan pelatihnya. Ya, sedikit banyak saya bisa membaca taktik dan strategi sepakbola. Setidaknya melihat formasi pemain yang akan diturunkan.

Meski tak selalu berhasil, karena ada pelatih yang sudah menyembunyikan latihan taktik dan strateginya pada H-1 pertandingan. Bahkan ada pelatih yang sengaja mengacak formasi latihan terakhi, termasuk dengan mengacak kostum latihannya.

Tapi saya tidak kalah akal. Pada liputan H-1, saya sudah punya data prakiraan formasi pemain yang akan diturunkan. Termasuk prediksi formasi tim lawan Arema. Ini penting bagi kami dalam menyajikan berita pada hari H pertandingan. Kami tidak ngawur.

Baca Juga :  Breaking News! Liga 1 Ditunda Lagi Sampai Akhir Juli

Data ini saya kumpulkan dari berbagai informasi, termasuk dari hasil laga sebelumnya. Terkait pemain yang cedera dan mungkin absen, serta pemain yang terkena hukuman kartu. Saya bisa cek di situs Liga Indonesia.

Lalu saya update di lapangan pada latihan terakhir itu. Formasi pemain ini penting dalam saya membuat analisa. Dan tentunya menjadi kebanggaan saat prediksi yang kami muat di koran, sama persis dengan yang dimainkan pada hari H.

Lebih dari itu, analisa saya bisa detil menjelaskan pemain lawan yang layak diwaspadai Singo Edan. Termasuk peluang gol lawan dari bola mati pun, saya jelaskan. Inilah yang kemudian dibutuhkan pelatih asing Arema kala itu.

Kalau boleh membanggakan diri, mungkin saya juga bagian sejarah dari sukses Arema saat juara Liga Indonesia, tahun 2009/2010 silam. Lantaran tiap usai liputan tim lawan, saya sering dipanggil pelatih Arema. Diskusi taktik/strategi lawan, yang sebenarnya saya menceritakan bahan berita saya lebih awal.

Intinya, jika ada wartawan yang bisa membaca atau mengulas tentang taktik dan strategi sebenarnya bukan hal yang aneh. Siapa saja bisa. Misal dengan sering melihat kebiasaan main sebuah tim dengan sosok pelatihnya, kita akan tahu gaya mainnya.

Baca Juga :  Haji Itu Rezeki

Bukan berarti kita sok tahu, sok pintar atau ingin menggurui si pelatih. Kalau sekedar memberi saran dan masukan, apa salahnya. Apalagi itu untuk perbaikan tim. Meski saya bisa memahami, tidak semua pelatih mau menerima kritik.

Bahkan pada suatu hari, pelatih Arema, juga pelatih asing, pernah marah luar biasa saat saya kritik usai dua kali Arema raih hasil imbang di kandang. Dia minta saya saja yang jadi pelatihnya.
Menurut hemat saya, beginilah situasi dan kondisi saat bergabung dengan Arema.

Bahwa tim ini tak akan lepas dari saran dan kritik saat tak sesuai harapan. Jika media relatif lebih sopan, aksi Aremania dalam memberi presure jauh lebih menakutkan. Bisa selesai pertandingan, langsung dihujat.

Apalagi di era medsos seperti sekarang ini. Saya sudah melihat dan membaca, hadirnya tekanan pada pelatih Arema FC Eduardo Almeida. Termasuk pada beberapa pemain yang dinilai minim kontribusi atau tak bisa diharapkan.

Padahal ini baru dua laga pembuka dengan hasil imbang dua kali. Arema belum kalah. Namun ekspetasi Aremania dengan target Arema sebagai juara musim ini cukup tinggi. Hasil imbang pun dianggap sebagai sebuah kekalahan.

Baca Juga :  Terbatas Rombak Pemain

Saya lihat hampir tiga ribu komentar di akun instagram Arema FC. Hampir semuanya memberi komentar miring, memberi kritik dan saran. Begitu juga di akun sang Presiden Arema, Juragan 99, juga hampir tiga ribu komentar kritik dari hasil imbang Arema FC lawan Bhayangkara Solo FC.

Inilah situasinya. Memang tidak mudah bagi skuad Arema musim ini. Bendera target juara sudah dikibarkan. Menyusul Alfarizi dkk sekarang dinilai sebagai klub mentereng sejak masuknya Juragan 99. Tentu tidak ringan memikul beban ini.

Satu sisi, Arema tidak bisa mengharapkan dukungan langsung dari Aremania. Padahal selama ini, Aremania menjadi kekuatan besar bagi Arema, dimana pun berlaga. Terutama saat tim Singo Edan mulai mlempem, ada Aremania sebagai pemain ke-12 yang membangkitkan semangat Arema.

Rasanya sulit bagi Arema dengan kondisi tanpa dukungan Aremania. Sementara tim lawan, saat ini berlomba-lomba ingin mengalahkan Arema yang sudah kaya dengan target juara.
Jadi, apa mungkin perlu revisi target ya? (*)

Pilihan Pembaca