Sukseskan Kampus Merdeka Dengan Konsep Out Of The Box

new malang pos
Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si mendampingi Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indarparawansa, M.Si saat peresmian Pusat Studi Jawa Timur di Unisma, Jumat (13/11)

NEW MALANG POS, MALANG-Universitas Islam Malang (Unisma) telah membuktikan diri sebagai kampus kreatif dengan pola pikir yang out of the box. Gagasan dan ide-ide hebat yang dimunculkan selalu dengan cara yang tidak biasa. Hasilnya pun mengagumkan dengan pencapain berbagai prestasi. Kepercayaan pun terus mengalir ke Kampus Hijau Nahdlatul Ulama ini. 

Termasuk juga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Unisma mendapat kepercayaan berupa hibah untuk pelaksanaan porgram Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka. Hibah ini bertujuan untuk memberikan stimulasi pada perguruan tinggi agar segera melakukan perombakan kurikulum. Dan juga membangun mitra kerja sama dengan industri, perguruan tinggi yang lain, balai-balai atau institusi yang terkait dengan prodi yang ada. Baik di dalam maupun luar negeri.

Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si mengatakan perombakan kurikulum dilakukan sebagai upaya mewujudkan konsep pembelajaran yang tidak sekedar pengkajian teori. Tetapi juga memberikan porsi untuk praktek melaui program pemagangan dan research and development.

Demikian juga melakukan eksperimen di industri atau masyarkat yang terkait dengan prodi. Bahkan porsinya lebih besar dari belajar secara teori di dalam kampus. Perbandingannya 40-60. Sebanyak 60 persen diterapkan melakukan pemagangan. Tetapi pemagangan yang disertai dengan riset atau research and development (RnD).

Baca Juga :  UB Menangkan Hibah Riset Covid-19 UKRI

“Ini yang kami terapkan di Unisma dalam memberikan nuansa kurikulum baru untuk merdeka belajar atau kampus merdeka,” katanya kepada New Malang Pos.

Saat ini Unisma telah uji coba di semua program studi untuk menerapkan konsep tersebut. Edaran sudah dikeluarkan rektor kepada semua fakultas dan prodi untuk menyusun program-program strategis di bidang masing-masing.

“Sebagian sudah berjalan. Walaupun kami akan lakukan secara formal dan menyeluruh nanti di tahun 2021,” ujarnya.

Seiring dengan persiapan tersebut kurikulum juga sedang dilakukan perombakan. Bukan lagi rekonstruksi tetapi perombakan total. Masing-masing prodi juga memiliki distingsi atau keunggulan dari kampus lain.

Misalnya dengan menggunakan model pembelajaran berbasis multimedia. Atau mata kuliah yang menjadi nilai kekhasan prodi tertentu. Seperti Pendidikan Islam Multikultural.

Sehingga lulusan unisma mempunyai jiwa moderat, harmoni dan toleransi yang tinggi di tengah perbedaan. “Jiwa ini pula yang bisa ditularkan kepada anak didik kalau nanti mereka menjadi seorang guru,” terang Prof  Maskuri.

Baca Juga :  Manfaatkan Batok Kelapa Limbah IPAL Jadi Jernih

Hibah kampus merdeka tentu saja tidak diberikan kepada sembarang perguruan tinggi. Ada beberapa syarat yang harus dicapai. Salah satunya kampus dengan pola pokir yang jauh ke depan dan out of the box. Konsep yang tidak semata-mata mempertahankan tradisi lama. Tetapi menawarkan model baru yang membawa semangat tentang merdeka belajar.

Unisma punya konsep belajar dan metodenya memiliki keunggulan. Bahkan nama mata kuliahnya pun tidak biasa. Banyak menggunakan nama yang marketable sehingga menarik minat mahasiswa. Rasa ingin tahu mahasiswa makin tinggi. Hanya dengan penggunaan nama misalnya international statistik digital.

Tentu saja tidak sekadar nama. Tapi nama yang menginterpretasikan mutu dan bobot materi di dalamnya. “Statistik itu dipakai oleh masyarakat global. Makanya kita pakai kata internasional. Dan mengolah data tidak lagi dengan metode yang lama tapi sudah harus berbasis digital,” jelasnya.

Disamping memiliki konsep out of the box, untuk mendapat hibah Kurikulum Kampus Merdeka Unisma juga memiliki desain pembelajaran. Yakni dikemas dengan mengembangkan project kemasyarakatan, Termasuk research and development.

Baca Juga :  SMK Widyagama Malang Launching Kelas Sepak Bola

Dan Unisma kini telah memiliki konsep baru dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam hal ini bidang pengabdian pada masyarakat. Program yang biasanya bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN), tahun depan akan berganti nama menjadi Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM).  Dengan embel-embel kandidat sarjana, performa mahasiswa akan berbeda.

Akan ada nilai keseriusan dan tanggung jawab yang lebih besar. Termasuk juga untuk mahasiswa Program Pascasarjana. Nantinya ada Kandidat Magister Mengabdi (KMM) dan Kandidat Doktor Mengabdi (KDM).

Nama keren juga harus diiringi dengan kualitas yang juga keren. KSM tidak sekedar kegiatan pengabdian. Tetapi menghasilkan luaran yang bisa dipublikasikan berupa jurnal yang bereputasi.

“Misalnya terindex di Science and Technology Index (SINTA) dengan bereputasi internasional. Dan hasilnya bisa dipubilkasi di media. Jadi bukan sekedar kegiatan. Itu taget-terget kita dengan pola pikir yang tidak biasa,” tukas Prof Maskuri. (imm/adv/jon)

Pilihan Pembaca