Strategi Investasi di Masa Pandemi

NewMalangPos – Penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Terbaru, pemerintah memutuskan untuk memperpanjang PPKM hingga 23 Agustus 2021. Meski kebijakan ini menuai polemik dari berbagai pihak, hal ini terpaksa dilakukan pemerintah untuk menekan angka penyebaran Covid-19 yang semakin melonjak tinggi.

Secara ekonomi kebijakan PPKM dianggap tidak berefek dibanding jika diberlakukannya lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di balik problematik dan polemik ini, sektor Usaha Mikro Kecil (UMK) paling terdampak atas kebijakan ini. Berdasarkan survey Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, terjadi penurunan pendapatan terhadap 84,20 persen UMK di Indonesia. Sebanyak 78,35 persen UMK mengalami penurunan permintaan, sebesar 62,21 persen mengalami kendala keuangan terkait operasional dan biaya pegawai, hingga berujung 33,23 persen UMK mengurangi jumlah pegawainya.

Banyaknya pengurangan jumlah pegawai dari skala UMK beriringan dengan meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia. BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia tembus 9,77 juta orang pada Agustus 2020. Angka itu naik 2,67 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Akhmad Akbar Susanto memprediksi Tingkat Pengganguran Terbuka (TPT) Agustus 2021 akan meningkat 7,07 persen.

Kondisi ini membuat pentingnya pengelolaan uang yang baik untuk bertahan di saat kondisi ekonomi tidak menentu akibat pandemi. Masing-masing dari kita memerlukan alokasi dana darurat yang harus diperhitungkan secara matang. Dana darurat sendiri adalah alokasi anggaran tertentu di luar pos-pos pengeluaran dan tabungan, yang disimpan, yang dapat digunakan ketika keadaan darurat.

Baca Juga :  Juragan 99

Bagi per orangan, kondisi darurat bisa berupa kecelakaan, kerusakan rumah, hingga ketika terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie menyatakan bahwa idealnya dana darurat saat pandemi setara dengan 3-6 kali pengeluaran bagi yang masih lanjang, dan 12 kali pengeluaran bulanan bagi yang sudah menikah.

Ternyata tidak hanya bagi per orangan, bisnis pun perlu menyiapkan dana darurat. Bagi pengusaha Usaha Mikro Kecil, dana darurat penting dialokasikan untuk meng-cover biaya operasional usaha ketika terjadi penurunan penjualan akibat pandemi. Menurut Kantor Keternagakerjaan Amerika Serikat (AS), sepertiga bisnis UMK gulung tikar karena buruknya pengelolaan kas, termasuk tidak cukupnya anggaran cadangan untuk operasional usaha.

Dana darurat yang disediakan pengusaha dapat digunakan untuk membeli bahan baku penjualan bagi UMK di sektor perdagangan, atau membayar gaji karyawan hingga biaya operasional rutin lainnya. Idealnya dana darurat bisnis setidaknya 3 hingga 6 kali pengeluaran operasional usaha.

Sayangnya, pandemi yang melanda ini tak kunjung mereda bahkan tidak terasa sudah hampir berjalan 1,5 tahun lamanya. Tentunya dana darurat ideal yang sudah disimpan tidak cukup untuk bertahan. Belum lagi pemberlakuan PPKM dan pembatasan mobilitas manusia yang terus diperpanjang, dan diperpanjang lagi. Lantas, apalagi yang harus dilakukan untuk bertahan di tengah pandemi ini?

          Investasi bisa menjadi salah satu solusinya. Jika alokasi dana darurat hanya bisa untuk bertahan, diperlukan formula lain untuk berkembang, tidak hanya sekadar bertahan. Kegiatan investasi ini tentu saja memiliki arti yang luas.

Baca Juga :  RUU PKS: JANJI NEGARA KEPADA PARA PUAN

          Nuzula dan Nurlaily dalam bukunya Dasar-Dasar Manajemen Investasi menyebutkan bahwa pengertian investasi secara umum adalah kemauan untuk melepaskan atau mengorbankan sumber daya yang bernilai di masa sekarang, dengan maksud untuk menerima pendapatan yang secara ekonomis di masa datang.

          Salah satu yang bisa menjadi sarana investasi adalah pasar modal. Di tahun 2021 ini, telah terjadi peningkatan jumlah investor di pasar modal. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fauzi mengatakan total investor pasar modal, baik itu saham, surat utang maupun reksadana hingga Februari 2021 mencapai 4,4 juta investor. Jumlah ini meningkat hampir 13 persen dibanding jumlah di periode yang sama tahun lalu. Peningkatan jumlah investor ini didorong oleh semakin banyaknya platform digital yang memudahkan semua pihak untuk berinvestasi. Tentunya lebih bijak jika berinvestasi di pasar modal menggunakan uang idle, atau dana menganggur di luar dana darurat.

          Namun, menyediakan dana darurat saja sudah berat, bagaimana mau berinvestasi terlebih harus di luar dana darurat? Bagi yang masih belum memiliki kecukupan dana, belum terbiasa untuk berinvestasi di pasar modal, atau takut karena risiko besar investasi pasar modal yang membayangi, bisa berinvestasi dalam bentuk yang lain.

Baca Juga :  Gerakan Sempalan (2)

          Warren Buffett, seorang pengusaha dan investor dari Amerika Serikat menyatakan bahwa “The Best Investment you can make, is an investment in yourself. The more you learn, the more you earn.” Ya, investasi terbaik yang bisa kita lakukan adalah investasi pada diri sendiri. Semakin banyak kita belajar, akan semakin banyak keuntungan yang kita peroleh.

          Kita bisa mengikuti kursus-kursus online baik yang berbayar maupun yang tersedia secara gratis. Investasi ini dapat meningkatkan skill yang kita miliki. Bisa juga kita mengikuti sertifikasi terhadap bidang minat yang fokus kita geluti. Beberapa platform online yang menyediakan sertifikasi gratis seperti LinkedIn Learning hingga Grow with Google. Ada banyak pembelajaran yang tersedia di platform tersebut, seperti: kursus bisnis, teknologi hingga creative courses for design, production and engineering professionals.

          Kondisi pandemi yang berkepanjangan dan tidak diketahui kapan berakhirnya ini memaksa kita untuk memotar otak, terus berinovasi dan melakukan terobosan untuk bertahan hidup. Beberapa hal tidak biasa perlu kita lakukan di masa ini.

          Jika melihat dari kacamata positif, bisa jadi pandemi ini justru membawa dampak baik pada diri kita karena menjadikan kita manusia yang terus belajar, berproses dan memperbaiki diri. Kita dipaksa mulai mengalokasikan dana darurat, dan berani mulai berinvestasi. Investasi ini bisa menjadi solusi, tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi terus berkembang di masa pandemi ini.(*)

Pilihan Pembaca