Spirit Transformasi Pendidikan Abad 21

16

Oleh : Silvia Rachman

(Guru di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dan Aktivis Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kab. Malang)

Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh yang dikenal sebagai pahlawan pendidikan Indonesia. Kiprahnya dalam pendidikan, pengajaran dan kebudayaan telah menorehkan tinta emas bagi sejarah pendidikan di negeri ini. Kemajuan dan transformasi pendidikan Indonesia saat ini adalah tidak lepas dari peran tokoh Pendidikan yang membumikan pesan filosofis Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Nilai filosofis yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara telah menjadi ruh yang menghidupkan semangat para aktivis pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan sebagaimana yang termaktub dalam UU  No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Spirit Hardiknas dan Pendidikan Anak Bangsa

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei adalah menjadi tonggak sejarah peradaban bangsa Indonesia pada sisi pendidikan. Spirit yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara tidak cukup hanya ‘ditandai’ dengan peringatan serta upacara bendera, namun yang terpenting adalah semangat belajar yang tetap melekat dan menjadi habit sampai kapanpun.

Semangat belajar ini sejalan dengan konsep long life learning (belajar sepanjang hayat) yang diartikan sebagai pendidikan yang prosesnya tidak berbatas pada usia atau berakhirnya masa pendidikan sekolah. Proses belajar dalam konsep long life learning terus bertumbuh dalam keseluruhan waktu hidup seseorang hingga menjadi kebiasaan (IMTIMA, 2007).

Ki Hajar Dewantara (1962:14) mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya (Sukiyat 2020:38). Berdasarkan konsep pendidikan yang diterangkan di atas, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari keberadaan institusi pendidikan, yaitu sekolah.

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah berkewajiban memberi layanan pendidikan, dan bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar yang berfokus pada mendidik, melatih serta menciptakan kondisi yang memberi peluang bagi anak didik untuk mengembangkan potensi dirinya. Sekolah dapat juga disebut sebagai habitat belajar yang menjadi sarana utama untuk menyebar luaskan iklim positif serta membentuk karakter yang melekat (Imam Robandi, 2020).

Di abad ke 21 ini, pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills).

Pendidikan Era Digital

Perkembangan dan kemajuan teknologi yang semakin cepat saat ini, membawa kita pada era baru yang menuntut penyesuaian. Segala macam aktivitas dapat dilakukan dengan mudah dan cepat karena difasilitasi oleh teknologi yang serba digital. Perubahan sistem kerja dalam bidang ekonomi, transportasi, kesehatan, bahkan pendidikan tidak dapat dihindari karena pengaruh dari revolusi industri 4.0.

Beragam teknologi dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan konsep belajar berkemajuan. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sangat mungkin dilakukan dengan mudah, karena semua yang terkait dengan pemasangan, pengaturan hingga cara pengoperasian sudah tersedia dan dapat diakses melalui gadget.

Pembelajaran berbasis teknologi ini memungkinkan guru dan murid dapat berinteraksi secara sinkron (langsung) maupun asinkron (tidak langsung) dalam ruang belajar. Teknologi masa kini telah menciptakan kondisi belajar yang terkesan mudah dan fleksibel. Kondisi belajar yang fleksibel cenderung lebih mudah diterima oleh generasi zaman now.

Mereka dapat melakukan interaksi belajar dalam ruang virtual google classroom atau platform lain yang dapat diakses melalui gadget masing-masing. Gadget dengan fungsi utama sebagai alat komunikasi telah mengalami pergeseran fungsi menjadi media belajar yang memudahkan anak didik saat ini. Demikian adalah sebuah contoh kesederhanaan dalam belajar.

Peran Guru dalam Transformasi Pendidikan

Era globalisasi memberi dampak yang masif terhadap seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Pendidikan di era global dituntut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai zaman, yang dikenal dengan keterampilan abad 21. Dalam konteks pendidikan abad 21, guru menjadi fokus utama dan menjadi sosok yang paling diharapkan dapat mengubah tataran pendidikan berkemajuan.

Guru menjadi faktor penentu keberhasilan pengajaran yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang menjadi garda terdepan dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas. Di tangan guru, akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, moral serta spiritual (Darmadi, 2018).

Oleh sebab itu, guru dituntut untuk menyesuaikan diri dan responsif terhadap kebutuhan zaman. Kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran berbasis digital adalah  menjadi hal yang penting.  Guru dapat memanfaatkan beragam aplikasi berbasis android, aplikasi berbasis konten atau aplikasi lain yang dapat menjadi stimulus anak didik dalam belajar.  

Sebagai contoh, guru dapat membuat tutorial belajar dengan memanfaatkan aplikasi Youtube, TikTok, Snackvideo yang sekarang sedang booming. Untuk kegiatan penilaian, guru tidak lagi menyediakan kertas soal dan lembar jawaban, tetapi cukup dengan memanfaatkan aplikasi kahoot, quizizz atau aplikasi berbasis game lainnya. Pembelajaran dan evaluasi yang dikemas dalam aplikasi-aplikasi tersebut adalah sebagai respon konkrit oleh guru dalam menyikapi perubahan pola belajar saat ini.

Keberhasilan pendidikan lainnya, dapat diukur pada sisi soft skill (tutur kata, sikap mental, tingkah laku) anak didik. Tidak dapat dipungkiri, bahwa aspek afektif, dalam hal ini kemampuan soft skill juga dipandang sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan. Secara umum, keterampilan yang dibutuhkan pada abad 21 meliputi critical thingking, creativity, communication dan collaboration atau disingkat dengan 4C adalah juga bagian dari soft skill yang harus dimiliki anak didik.

Penguatan keterampilan 4C dan karakter anak 4C ini dapat dibentuk di lingkungan sekolah melalui proses pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler. Di samping itu, peran guru dalam memberikan keteladanan adalah sangat penting. Keteladanan dari guru dalam berbicara, bersikap, bertindak dalam konteks pembelajaran adalah sangat mendukung iklim sekolah dalam membentuk karakter dan soft skill anak didik di sekolah.(*)