SMPK Frateran Celaket 21; Semangat Berbagi, Siswa Rela Jalan Kaki

KOMPAK: Kepala SMPK Frateran Celaket 21, Fr. M. Yohanes Laga Payong, BHK, MP.d bersama guru dan para siswa sebelum kegiatan bakti sosial

Malang Posco Media, MALANG – Sejumlah tukang becak yang ada di sepanjang Jalan Pattimura hingga Trunojoyo, Sabtu (5/2) lalu, mendapat berkah. Mereka mendapat bingkisan berupa paket sembako dari siswa-siswi SMP Katolik Frateran Celaket 21. Belasan siswa turun ke jalan, didampingi oleh tiga guru.

Tidak hanya tukang becak, para pengemis dan kaum duafa juga mendapat bingkisan ini. Tentu saja mereka menerima dengan hati senang. Terlebih kondisi pandemi seperti saat ini pendapatan mereka menurun.

Koordinator Acara Anggi Oktaviani S.Pd mengatakan semangat berbagi yang digelorakan oleh siswanya tidak lepas dari rasa peduli mereka kepada sesama. Karena itu dengan dasar hati yang tulus, guru dan siswa menghimpun bahan-bahan sembako. Program ini juga didukung oleh orang tua. “Kegiatan sosial ini didasari rasa peduli kita kepada orang lain yang sedang membutuhkan,” katanya.

Ada puluhan paket yang berhasil dikumpulkan. Setiap paketnya terdiri dari beberapa jenis bahan sembako. Seperti gula, mie, beras dan minyak goreng. Ada juga peralatan mandi, seperti sabun, sikat dan pasta gigi.

Baca Juga :  Kejari Selamatkan 289 Bidang Tanah Aset Pemkot Malang, Kejar Mafia Tanah

Saat dijalan siswa juga membagi-bagikan masker. Mereka juga mengedukasi masyarakat yang ditemui untuk selalu menjalankan protokol kesehatan dengan benar. “Jadi kami tidak hanya berbagi sembako, tetapi juga berbagi masker dan mengingatkan masyarakat untuk taat prokes,” terang Anggi.

Selama kegiatan tersebut siswa tampak semangat. Mereka rela berjalan kaki untuk bertemu dan berbagi langsung pada masyarakat. Cuaca saat itu cukup mendukung. Karena habis hujan jadi tidak terlalu panas.

Mereka ini merupakan siswa-siswi hebat, perwakilan dari pengurus OSIS SMPK Frateran Celaket 21. Kepekaan mereka terhadap lingkungan juga ditunjukkan pada warga Kampung Putih. Seperti diketahui penduduk di kampung ini terkena imbas dari Banjir Bandang yang terjadi di Kota Batu beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga :  Begal Pantat Berkeliaran di Pakis

SMPK Frateran Celaket 21 juga melakukan aksi sosial disana. Dengan berbagi donasi berupa sembako. “Harapan kami anak-anak lebih peduli pada lingkungan. Saling berkasih sayang, tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga membantu orang lain,” terang Anggi.

Para siswa turun ke jalan juga didampingi empat guru. Mereka adalah Anggi Oktaviani S.Pd, selaku koordinator kegiatan. Dibantu Maria Atika S. Pd, Alexandria Nechita Sousa dan Dra. Soendawati AI.

Kepala SMPK Frateran Celaket 21, Fr. M. Yohanes Laga Payong, BHK, MP.d mengatakan bahwa ini merupakan kegiatan sosial pertama yang siswa langsung terjun ke jalan. Dan digagas langsung oleh pengurus OSIS.

Sebagai kepala sekolah, Frater Vincen sapaan akrabnya, merasa bangga. Karena sikap anak didiknya menunjukkan semangat kepedulian dan keprihatinan. Dari kegiatan tersebut akan tumbuh nilai solidaritas terhadap orang lain yang membutuhkan. “Kami kira ini merupakan pendidikan karakter yang harus disampaikan pada peserta didik. Ini menjadi motivasi pertama dari kegiatan ini,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sehari 23 Meninggal, Antre Pemakaman

Ia juga menyampaikan terimakasih kepada orang tua siswa yang antusias mendukung kegiatan bakti sosial tersebut. Karena sejatinya, sumbangan yang disalurkan siswa dari orang tua yang rela memberikan bantuan serta mendukung program sekolah. “Terimakasih atas kerjasama dan dukungan dari orang tua siswa,” imbuhnya.

Untuk menumbuhkan rasa empati dan karakter peduli pada orang lain,
SMPK Frateran membiasakan peserta didiknya untuk terbiasa dengan kegiatan sosial. Sehingga siswa tidak lagi enggan untuk berbagi dan menyisihkan uang sakunya untuk sekedar membantu temannya yang sedang kesusahan.

Misalnya untuk membantu teman yang anggota keluarganya ada yang sakit, meninggal dunia, atau dalam musibah lainnya. “Ini yang kami sebut karakter, karena hati yang peduli tidak bisa dibentuk tiba-tiba. Butuh pembiasaan dengan program-program yang sifatnya kontinu,” tandasnya. (adv/imm)

artikel Pilihan