SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School, Perdalam Makna Isra Mi’raj

PENUH MAKNA: Rektor Universitas Islam Malang Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si didampingi Pengasuh Ma'had Sabilillah, Anwar Fatah, memaparkan makna Isra Mi'raj kepada siswa-siswi SMAIS // FOTO : Imam/NMP

MALANG, NewMalangPos – Isra Mi’raj adalah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. Mengajarkan banyak hal tentang hakikat kehambaan. Bermuara pada iman atau tidaknya seseorang kepada Allah.

Karena di dalam Isra Mi’raj dijelaskan peristiwa agung yang bisa dibilang bertentangan dengan akal. Atau tidak masuk akal. Sehingga menyikapi ini harus dengan dimensi keimanan.

Pelajaran itulah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si kepada siswa-siswi SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School. Yaitu pada saat peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad, beberapa waktu lalu.

Prof Maskuri mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah rihlah ilahiyyah. Perjalanan nabi ke langit ketujuh dengan jasad dan ruh. Perjalanan suci ini sebagai “hiburan” bagi nabi  setelah diterpa berbagai macam ujian yang berat.

Isra Mi’raj merupakan kejadian yang di luar akal sehat. Sehingga pada saat itu ditentang oleh kebanyakan umat manusia. Tidak sedikit yang tadinya beriman menjadi murtad. Karena Nabi Muhammad dianggap mengada-ada. “Ini menjadi bagian dari keimanan kita. Untuk percaya atau tidak,” kata Maskuri.

Baca Juga :  PGRI Kabupaten Malang; Rayakan Ulang Tahun, Menanti Kado SK Guru

Kepada siswa SMAIS Ia menjelaskan, dalam beragama ada hal yang bisa dirasionalkan dan ada yang tidak. Iman tidak hanya pada yang tampak tapi juga pada yang ghaib. “Ada hal-hal yang bersifat dogmatis dalam agama,” ujarnya.

Salah satu contohnya, kata dia, Isra Mi’raj. Bagi orang islam wajib percaya. Karena ini perintah. Dan Allah menegaskan itu, bahwa kejadian Isra Mi’raj bukan kehendak nabi. Tetapi kehendak Allah.

Sehingga rasionalitas pemahamannya menjadi jelas. Bahwa perjalanan nabi dari Mekkah ke Palestina, lalu ke langit ke tujuh hingga sidratul muntaha, itu Allah yang memberangkatkan. Bukan kehendak dan kemampuan Nabi Muhammad. “Kalau Allah yang berbuat apa yang tidak mungkin,” tegasnya.

Baca Juga :  Ajak Siswa Virtual Trip ke Jepang

Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) ini memaparkan, ada tiga hal yang perlu dipelajari dalam Isra Mi’raj. Yaitu meneguhkan keimanan pada Allah, menjalankan perintah salat dan

Menyempurnakan akhlak ummat manusia.

Kejadian Isra Mi’raj selalu berkaitan erat dengan perintah salat. Karena saat itulah Nabi Muhammad menerima perintah ibadah yang menjadi tiang agama itu.

Menurut pria asal Tuban tersebut, dalam hidup dan kehidupan manusia seringkali dihadapkan dengan persoalan. Maka salat menjadi kesempatan agar manusia bisa berzikir.

Salat yang tumakninah adalah salat yang bisa menghadirkan Allah dalam hati. Sehingga menjadi media komunikasi dengan sang pencipta dunia dan kehidupan. “Karena dengan zikrullah hati menjadi lebih tenang dari waktu waktu. Dan bisa  membangun peradaban namun tidak tercabut dari nilai-nilai ilahiyyah,” terangnya.

Baca Juga :  Siswa SMK PGRI 3 Optimis Juara LKS Nasional

Sementara itu, Direktur LPI Sabilillah Malang, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd menilai Isra Mi’raj merupakan sebuah peristiwa monumemtal. Yakni  perjalan isra dari mekah ke palestina. Lalu dilanjutkan Mi’raj ke langit hingga sudratul muntaha. “Saat itu Rasulullah diberi pertunjukan yang amat dahsyat. Berupa kaledeskop kehidupan dunia dan akhirat. Yang tidak diberikan pada kenabian sebelumnya,” katanya.

Wakil Rektor IV Universitas Negeri Malang ini turut mengapresiasi kegiatan Isra Mi’raj yang diprakarsai SMAIS Boarding School. Para siswa bisa diajak untuk virtual trip ke Masjid Haram hingga ke Masjid Aqsa di Palestina. Untuk melihat dan menapaki jejak perjalan rasul sehingga menambah kebermaknaan iman. “Tujuannya dalam rangka memperkuat karakter pada anak didik. Yakni cinta Allah dan Rasul. Sebagaimana visi misi LPI Sabilillah dalam mewujudkan siswa Sabilillah penuh cinta,” tandasnya. (imm/)