Situasi Myanmar Semakin Memburuk, Korea Selatan Tunda Kerja Sama

7
ilustrasi: Warga Myanmar yang tinggal di Korea Selatan menggelar unjuk rasa memprotes kudeta militer Myanmar di Seoul, Korea Selatan, Jumat, 19 Februari 2021. (AP Photo / Ahn Young-joon/ CNA News)

NewMalangPos – Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan akan menangguhkan pertukaran pertahanan dengan Myanmar dan melarang ekspor senjata ke negara itu. Hal ini terjadi setelah kudeta militer dan penindasan dengan kekerasan terhadap protes pro demokrasi.

Kementerian itu juga mengatakan Seoul akan membatasi ekspor barang-barang strategis lainnya. Lalu mempertimbangkan kembali bantuan pembangunan dan memberikan pengecualian kemanusiaan bagi warga negara Myanmar untuk mengizinkan mereka tinggal di Korea Selatan sampai situasinya membaik.

“Meskipun ada tuntutan berulang dari masyarakat internasional, termasuk Korea Selatan, ada peningkatan jumlah korban di Myanmar karena tindakan kekerasan dari pihak berwenang militer dan polisi,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, Jumat (12/1).

Berdasarkan data yang dilansir dari cna, Jumat (12/3), ekspor pertahanan terakhir dari Korea Selatan ke Myanmar terjadi pada 2019. Tetapi Seoul masih menghabiskan jutaan dolar untuk proyek-proyek pembangunan di sana.

Pemerintah Korea Selatan akan mempertimbangkan kembali beberapa kerja sama pembangunan yang tidak ditentukan dengan Myanmar, tetapi akan melanjutkan proyek yang secara langsung terkait dengan mata pencaharian warga Myanmar dan bantuan kemanusiaan, kata pernyataan itu.

Aktivis Myanmar mengadakan lebih banyak aksi unjuk rasa pada hari Jumat, sehari setelah sebuah kelompok hak asasi mengatakan pasukan keamanan membunuh 12 pengunjuk rasa yang menyerukan kembali ke demokrasi.

Negara Asia Tenggara itu berada dalam krisis sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari, dan menahan dia dan pejabat lain dari partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). (cna/mg2/ley/nmp)