SINGO EDAN

NewMalangPos – Tamales Ngalu Nuhat ke 34 Arema FC! Hari ini, seluruh Malang Raya gembira. Bahkan Indonesia yang wilayahnya ada Aremanianya pasti ikut berbahagia.

Pasti ikut memasang atribut Arema untuk melampiaskan kegembiraan bersama-sama yang ada di Malang. Aremania Tidak kemana-mana, tapi Ada dimana-mana.

Tidak hanya Aremania, para pejabat di Malang Raya pun selalu mengenakan atribut Arema. Bahkan di Pemkot Malang, sudah menjadi tradisi seluruh ASN wajib memakai atribut Arema saat HUT Arema. Hampir semua lini kehidupan di Malang Raya ikut serta bergembira.

Lihat saja, di seluruh jalanan Malang Raya. Hampir tak ada sejengkal lokasi yang tanpa atribut Arema. Aremania memasang atribut beragam bentuknya di sepanjang jalanan. Di tempat apa saja yang bisa dipasang atribut, baik ukuran kecil maupun ukuran besar. Melihatnya membuat perasaan bangga menjadi warga Malang yang punya klub besar Arema FC dengan supporter yang fanatik.

Jujur, yang paling bikin bangga, kagum sekaligus ngeri adalah saat melihat atribut bergambar kepala Singa yang sangat besar. Saya merinding sendiri ketika melihat atribut besarnya itu. Apalagi beberapa hari sebelumnya, saya melihat sendiri mereka memasang atribut dengan segala caranya. Dan pemilik lokasi juga pasti akan memaklumi tempatnya ‘disewa’ sementara untuk memasang atribut Arema. Baik itu tulisan-tulisan keren atau gambar-gambar yang ekspresif penuh semangat. Hanya satu tujuannya, mereka ikut merayakan ultah Arema FC, klub kebanggaan Arek Malang ini.

Menariknya, semua mereka lakukan dengan kesadaran tinggi. Inisiatif sendiri dan rasa kebersamaan yang kuat dan solid. Mereka tak butuh pemimpin yang menyuruh mereka melakukan itu. Mereka tak butuh organisasi yang mengorganisir semua kegiatan itu. Justru karena itu mereka makin kuat. Tak bisa dipecah-pecah. Kondisi bagaimana pun, mereka tetap satu.

Baca Juga :  Indonesia Dalam Cengkeraman Jingo Pancasilaisme

Meski pandemi dan jadwal Liga 1 diundur sampai 4 kali, mereka tetap setiap menjadi Aremania. Mereka tetap setia dengan klub mereka Arema FC. Mereka tetap bangga dengan tim kebanggaan dengan julukan Singo Edan. Meski tidak boleh konvoi karena PPKM Level 4, tapi mereka tetap merayakan dengan ekspresif. Tak ada pesta tapi terasa semangat menggeloranya.

Di ulang tahun yang ke 34 ini, saya penasaran dengan julukan Singo Edan. Setelah saya mencari literasi dari berbagai sumber, ternyata tidak ada cerita khusus dan detail soal Singo Edan. Yang pasti semua terkait dengan salah satu pendiri Arema tahun 1987 yaitu Lucky Acub Zaenal (alm) dan awak media saat itu.

Seperti yang dilansir Kompas.com (20/4/2020), Singo Edan merupakan dua kata berbahasa Jawa. Singo  artinya singa dan Edan yang artinya beringas, gila, atau tidak waras. Banyak yang menyebut julukan Singo muncul dari logo kepala singa. Singo atau Singa dikenal sebagai raja hutan yang merepresentasikan kegagahan, keperkasaan, dan kharisma klub Arema.

Ada juga yang menyebut kata Singo ini terinspirasi dari zodiak Leo milik Arema yang lahir pada Agustus, inspirasi yang sama saat Arema membuat logo. Adapun Edan merujuk pada gaya permainan Arema yang keras, lugas, dan tanpa kompromi. Akan tetapi, pendapat ini tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah karena diksi dari Singo Edan tersendiri adalah demikian.

Baca Juga :  Gelar Coffee Morning, Kanwil DJBC Jatim II Undang Pengusaha Jasa Pengiriman Barang

Julukan Singo Edan merupakan hasil diskusi ringan antara Sam Ikul dengan awak media saat perjalanan ke Stadion Brantas Batu karena Stadion Gajayana direnovasi. Dalam perjalanannya julukan Singo Edan yang spontan diucapkan tersebut menemukan jalannya sendiri. Sejak saat itu, julukan Singo Edan digunakan oleh Arema. Julukan yang merepresentasikan bagaimana Arema berdiri gagah melawan semua rintangan yang menghadang tanpa batasan logika.  

Ya, ketika berpikir betapa cinta dan fanatiknya Aremania ini terhadap klub kebanggaan Arema FC, kadang tidak bisa di logika. Cinta mereka tidak menghitung untung rugi. Cinta mereka sudah menjadi kesadaran bersama. Harapan bersama. Dan mereka menjaga sangat kuat tradisi Cinta ini selamanya.

Maka jangan heran, meski kompetisi belum bergulir karena PPKM, namun dukungan mereka tidak kendor. Ketika orang-orang sedih, takut, khawatir dan was-was soal Covid-19, mereka justru keluar semua untuk menebarkan semangat. Ya semangat untuk terus Cinta dan Mendukung tim kebanggaan mereka.

Atribut yang mereka pasang di sepanjang jalan merupakan virus yang menebarkan kebahagiaan pada masyarakat Malang Raya. Ketika semua berjalan sepi sepi saja, landai, mereka hadir untuk menyalakan api semangat. Atribut mereka yang berkibar kibar bisa dimaknai sebagai protes pada pemerintah untuk segera mengakhiri PPKM. Apapun jenisnya

Ibaratnya, momen Ultah Arema FC hari ini adalah ‘siap perang’. Siap perang ke medan laga Liga 1 yang bakal digelar 27 Agustus mendatang (bila tidak diundur lagi). Itu ditandai dengan isyarat berkibarnya atribut Arema di seantero Malang Raya. Sekaligus ‘Siap Perang’ terhadap virus Covid-19 dengan jalan gencar vaksinasi di semua lini. 

Baca Juga :  Buktikan Fortes!

Jujur, diakui atau tidak, masyarakat sudah jenuh PPKM. Masyarakat sudah jenuh dengan beragam istilah, yang substansinya tidak ada perbedaan pada kenyataan di lapangannya. Kenapa jenuh? Karena masyarakat sudah berusaha prokes, sudah berusaha ikut dan antusias vaksinasi. Tapi yang terjadi, tak semua bisa langsung divaksinasi.

Di sisi lain, kehidupan ekonomi dibatasi, pendidikan dibatasi, wisata dibatasi, beribadah dibatasi. Hampir semuanya dibatasi. Padahal masker sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Prokes sudah menjadi budaya saat ini. Dan rasa takut sudah lebih berbahaya dari Covid-19 itu sendiri. Maka tak ada pilihan, momen ultah Arema FC ini menjadi awal kebahagiaan bagi Malang Raya.

Saatnya perlahan semua dibuka. Liga 1 dibuka, sekolah dibuka, kampus dibuka, mall dibuka, wisata dibuka. Semua yang masih dibatasi dengan peraturan PPKM dibuka. Tentu semua dibuka dengan prokes sangat ketat. Karena ibarat perang, sudah saatnya kita ‘menyerang’. Sudah terlalu lama kita bertahan dan malah lemah sendiri.

Bila pilihannya herd immunity, maka pertanyaannya, sampai kapan pemerintah di daerah bisa memastikan 70 persen warganya sudah vaksinasi? Bila tidak bisa, berapa lama lagi kita menjalani PPKM yang tak turun turun dari Level 4? Istilah apa lagi yang akan disiapkan untuk masyarakat yang sudah jenuh.

Arema FC punya jargon: One Tim One Dream. Satu Tim Satu Mimpi. Dan mimpinya Arema FC Liga 1 ini adalah juara. Maka masyarakat Malang Raya juga punya mimpi yang sama. Mimpi bisa hidup kembali normal dengan prokes ketat. Jangan sampai Singo Makin Edan. Karena terus ditekan PPKM.(*)      

artikel Pilihan