SERVANT LEADER ALA UMAR BIN ABDUL AZIZ

43

NewMalangPos – 1.304-an tahun yang lalu pernah ada seorang pemimpin yang lahir dari rahim keturunan sahabat yang bakal kelahirannya telah diimpikan oleh sabahat Nabi Umar Bin Khattab. Dialah pemimpin Umar Bin Abdul Aziz, seorang yang terlahir dari darah pemimpin yakni Abdul Aziz yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Mesir pada masa Bani Umayyah. Umar Bin Abdul Aziz ini adalah cicit Sabahat Nabi Umar Bin Khattab, kecerdasannya sejak kecil telah terlihat bahkan para ulama dan gurunya telah mengakuinya, kelak suatu hari dia akan menjadi seorang pemimpin yang ahli ilmu.

Tepatnya tahun 717, setelah terjadi gejolak di Madinah dan Makkah, sebuah gejolak tentang tampuk kepemimpinan, Umar Bin Abdul Aziz di angkat menjadi Khalifah (pemimpin). Yang menarik adalah, penunjukan ia menjadi pemimpin ini di saat usianya 34 tahun. Usia yang sangat muda, dan wajar jika cerita di kemudian hari banyak prestasi gemilang dan banyak perubahan tatanan masyarakat yang signifikan mampu ia torehkan selama masa kepemimpinannya, bahkan banyak ahli sejarah Islam menyebut ia sebagai Khulafaurrasyidin kelima.

Apa yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz selama kurang lebih 3 tahun dia menjabat, sampai terjadi perubahan tatanan sosiodemografi masyarakat yang begitu fundamental, bahkan bisa dikatakan sejarah kemakmuran umat Islam salah satunya terjadi pada era kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz ini;

  1. Umar Bin Abdul Aziz merombak ulang administrasi Provinsi-provinsi di kekhalifahannya. Wilayah administrasi dimekarkan, hal ini dilakukan agar lebih efektifnya sistem pemerintahan. Daerah dan masyarakat yang diurus oleh gubernur lebih sedikit, sehingga bisa maksimal.
  • Umar Bin Abdul Aziz mengganti semua Gubernurnya dengan Gubernur Baru. Tentu ini langkah yang sangat menarik, bahkan sejarawan Wellhausen mencatat bahwa “Umar tidak membiarkan para Gubernur mengatur wilayah mereka sendiri hanya karena sudah menyetorkan pendapatan daerah ke pusat, tetapi secara aktif mengawasi administrasi para gubernurnya”, Kalau bahasa ngetrendnya sekarang adalah agile leadership. Sebagaimana risetnya Jim Collins pada 1.435 perusahaan yang bertahan 50 tahun dan yang secara berturut-turut mengalami pertumbuhan 3 kali lipat saham selama 5 tahun, bahwa ternyata rahasia perusahaan tersebut bisa sukses dan bertahan lama adalah karena memiliki kepemimpinan level 5 di perusahaannya, Atau sebagaimana teori John C Maxwel tentang kepemimpinan level 5, bahwa pekerjaan pemimpin level 5 dan bintang 5 adalah mengempowering leader di bawahnya dan melahirkan leader-leader baru yang handal.
  • Melarang pejabat negara untuk berbisnis
  • Mendesak semua pejabat untuk mendengarkan keluhan masyarakat dan pada setiap kesempatan, diumumkan bahwa jika ada yang melihat petugas yang memperlakukan masyarakat tidak sebagaimana mestinya, dia harus melaporkannya dan sang pelapor akan diberikan hadiah mulai dari 100 hingga 300 dirham.
  • Dia berhasil mengumpulkan zakat secara masif dan begitu luar biasa, orang kaya dan pejabat wajib menyetorkan zakat dan dikumpulkan di Baitul Mal.

Jadi Umar Bin Abdul Aziz ini selain membuat sebuah tatanan pemerintahaan yang Good Governance, ia juga membuat sebuah tatanan pemerintahan dan negara dengan basic zakat dan harta di Baitul Mal sebagai daya dukung untuk menciptakan kemakmuran di negaranya. Dia memerintahkan ke bawahannya untuk memastikan bahwa:

  1. Semua orang fakir miskin diberikan harta sehingga dia tidak miskin,
  2. Semua ulama, guru pendidikan diberikan gaji yang tinggi,
  3. Memberikan gaji yang berlipat kepada seluruh pasukan militer,
  4. Semua orang yang punya utang di negaranya dibayarkan utangnya, agar tidak ada seorangpun di negerinya yang punya utang,
  5. Bahkan karena saking banyaknya harta yang terkumpul di Baitul Mal, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan bawahannya untuk memberikan bantuan uang untuk orang kafir yang sedang kesusahan.

Begitu mulianya Umar Bin Abdul Aziz, begitu makmurnya negara dan masyarakat yang ada saat itu, begitu bahagia dan damainya kehidupan saat itu. Bahkan menurut catatan sejarah, Raja Sriwijaya di Nusantata saat itu mengirimkan surat permohonan untuk dikirimkan seorang yang mengajarkan tentang Islam di saat masa kekhalifahan Umar Bin Abdul Aziz ini, Subhanallah…..

Kalau kita mau belajar dari sejarah, sebenarnya telah banyak “Model” atau teladan nyata yang bisa dijadikan rujukan untuk mengelola bangsa dan negara baik di skala nasional ataupun daerah.

Hari ini kita dihadapkan pada sebuah kondisi dimana tidak banyak pempimpin yang jiwa dan raganya tidak 100 persen sebagai seorang “Servant Leader Mindset”, Sebagaimana karakter dan DNA servant leadernya Umar Bin Abdul Aziz yang mampu membuat sebuah tatanan pemerintahan dengan Good Governance dan memaksimalkan potensi Zakat dan Baitul Mal sebagai daya dukung membangun kemakmuran di negaranya.

Seorang yang memiliki DNA “Servant Leader” tentunya akan menjadikan seluruh potensi dan Resources yang dia miliki untuk kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan masyarakatnya. Dia akan terus mencari cara bagaimana masyarakatnya agar tidak kelaparan, tidak kesusahan, tidak menderita, kehidupan berjalan dengan baik, ekonomi berputar tanpa ada dominasi oligarki, kesehatan masyarakat terjamin, pendidikan dan guru pengajar berkualitas derajatnya, petani terjamin aktivitas pertaniannya dan infrastruktur tertata dengan rapi dan berkualitas.

Semoga terlahir para pemimpin baru di masa yang akan datang, yang memiliki DNA Seorang servant Leader, yang pikirannya, hatinya, jiwa dan raganya adalah untuk kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan Indonesia.(*)