Serangan Udara di Suriah Kembali Terjadi

ilustrasi (Foto: REUTERS/Ammar Awad)

Jakarta, NewMalangPos – Serangan udara di Suriah kembali terjadi. Israel kembali melancarkan serangan udara tersebut. Media pemerintah Suriah dan kelompok pemantau perang mengkonfirmasi bahwa serangan udara terjadi di provinsi Quneitra, Suriah Selatan. Tidak ada korban yang dilaporkan pada serangan udara tersebut.

Serangan itu kembali terjadi sehari setelah satu warga sipil Suriah tewas dan enam orang lainnya luka-luka di wilayah Latakia, wilayah asal keluarga leluhur Presiden Suriah Bashar al-Assad pada serangan serupa.

Seperti dilansir Detik News, Kamis (6/5), kantor berita resmi Suriah, SANA melaporkan telah terjadi “serangan Israel yang dipimpin oleh sebuah helikopter di salah satu zona Quneitra” tidak jauh dari perbatasan dengan Israel.

Baca Juga :  Polisi AS Tembak Remaja Kulit Hitam hingga Tewas

Kelompok pemantau perang Suriah, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia juga melaporkan telah terjadi “serangan Israel”.

Pemantau perang yang berbasis di Inggris, yang mengandalkan jaringan sumber yang luas di lapangan tersebut, mengatakan serangan itu menargetkan Brigade ke-90 Angkatan Darat Suriah dan posisi militer rezim di Quneitra utara, dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Israel jarang mengkonfirmasi serangan tertentu di Suriah. Tetapi sejak awal konflik di sana pada tahun 2011, Israel telah melancarkan ratusan serangan melintasi perbatasannya. Militer Israel mengatakan telah mencapai sekitar 50 target pada tahun 2020 saja.

Baca Juga :  Presiden Joko Widodo Dijadikan Nama Jalan di Abu Dhabi

Israel mengatakan sedang mencoba untuk mencegah Iran, yang telah menjadi salah satu sekutu utama pemerintah Suriah dalam perang saudara selama satu dekade, mendapatkan pijakan militer permanen di depan pintu masuknya.

Ribuan milisi Syiah, yang direkrut dari berbagai negara tetapi kesetiaan utamanya adalah kepada Iran, telah dikerahkan di seluruh Suriah untuk mendukung pemerintah.

Perang di Suriah, yang dimulai ketika pemerintah menindas aksi demonstrasi pro-demokrasi 10 tahun lalu, sejauh ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 388.000 orang. (ita/ita/dtk/mg1/ley/nmp)

Baca Juga :  AS Tuntut tiga Warga Korea Utara Atas Pencurian Rp 18 Triliun