Sepi di Zurich Airport, Lalu Biasakan Jalan Kaki dan Adaptasi Belanja

Suasana di Zurich Airport yang lengang.

Pindah Tugas ke Lausanne Switzerland di Tengah Pandemi (2)

Setelah melewati penerbangan setengah hari, tibalah di Zurich. Adaptasi dan kehidupan baru dimulai. Kontributor NMP Okky Putri Prastuti ST MT melanjutkan cerita boyongan dari Surabaya ke Lausanne Switzerland. Bagaimana perjalanannya dan apa yang harus dilewati pada hari-hari pertama di negeri orang.

MALANG, NewMalangPos – Zurich tempat pemberhentian pesawat kami dengan rute Surabaya (SUB) – Singapura (SIN) – Zurich (ZRH). Waktu tempuhnya 12 jam dari Singapura. Penerbangan kami memang sangat lama. Namun maskapai Singapore Airlines memberikan kenyamanan yang super pada fasilitas bussiness class. Pelayanannya sangat baik. Kedua anak kami, double Z (Zicro dan Zygmund) yang masih balita sangat senang dan menikmati penerbangan ini.

Sesampainya di Zurich Airport, kami sudah mempersiapkan dokumen tes PCR dari Indonesia. Juga dokumen izin tinggal di Swiss apabila nanti ditanyakan di pintu kedatangan. Alhasil, kedua dokumen tersebut sama sekali tidak ditanyakan petugas imigrasi. Beda halnya dengan di Indonesia, di Bandara Zurich proses imigrasi sangat cepat dan singkat. Hanya pertanyaan sederhana yang dilontarkan. Misalnya, “Tinggal di mana di Swiss? Berapa lama.” Setelah itu selesai. Hasil tes PCR pun tidak dipertanyakan. Berbeda dengan di Indonesia yang mana proses birokrasi cukup lama, tidak lebih dari lima menit proses pelaporan imigrasi kami di Zurich.

Padahal sebelumnya kami sudah deg-degan terkait pertanyaan vaksinasi, tes PCR, dan sebagai pendatang baru malah mereka tidak tanya sama sekali. Benar-benar looooos… langsung bisa keluar bandara.

Baca Juga :  KA Jarak Jauh dari Stasiun Malang Setop Operasi Mulai 6 Mei

Suasana bandara pun sangat sepiiii. Kami mengambil koper di bagasi. Kemudian segera melanjutkan perjalanan dari Zurich – Lausanne. Waktu tempuh tiga jam menggunakan mobil yang sudah dipersiapkan agen relokasi kami di Swiss.

Anak di bawah 5 tahun wajib menggunakan baby carsear. Ini merupakan hal pertama bagi Zygmund yang sebelumnya di Surabaya tidak pernah pakai karena kami tidak memilikinya, hehehe. Pikiran sudah melayang kemana-mana nih karena khawatir tiga jam bakal rewel.

Alhasil langsung tidur pulas dong kedua balita ini karena saking capeknya, mungkin ya terbang selama 12 jam. Meskipun telah menempuh 12 jam, tapi di Zurich masih menunjukkan pukul 08.00. Ingin rasanya nyusul tidur pulas di mobil tapi keinginan untuk melihat jalanan Swiss lebih menarik hati. Sepanjang perjalanan kami hanya melihat perkotaan Zurich, belum melihat keindahan pedesaan layaknya di internet atau Instagram. Jadi masih seperti kota pada umumnya. Tunggu cerita kami kalau berkunjung di tempat-tempat menarik di Swiss ya.

Begitu tiba di apartemen yang berlokasi di Avenue de Cour 51, Lausanne, Switzerland, kami disambut cuaca panas. Namun masih terasa sejuk dan segar. Apartemen kami terletak di lantai satu. Bersih, rapi  dan desain minimalis.

Di sekitar tempat tinggal kami sudah sangat lengkap, tersedia taman besar yang bernama Parc de Milan, Migros Supermarket, Coop Supermarket, Restoran Italia, India, kafe, toko roti, tempat perhentian bus, toko bunga dan juga Kantor Philip Morris International. Semua tempat itu bisa dijangkau dengan jalan kaki. Ya, tinggal di Eropa artinya harus siap kemana-mana jalan kaki.

Baca Juga :  Dua Pegawai Outsourcing PT KAI Kompak Mencuri, Libatkan Orang Dalam, Curi Rel Besi Baja

Suami saya, Papi Fariz yangbiasanya ke kantor harus naik bus dari Rungkut ke Pandaan atau naik mobil Surabaya-Pandaan sekarang harus jalan kaki. Jarak dari apartemen ke kantor cukup dekat.  Sekitar 800 meter atau 10 menit jalan kaki. Saya yang biasanya  belanja ke Indomaret naik sepeda motor atau mobil sekarang harus jalan kaki sambil membawa tas belanjaan.

Karena belum punya tas belanja yang ada rodanya jadi ya pakai tas belanjaan seadanya dulu.

FYI (For Your Information), di sini sudah tidak memakai tas plastik lagi ya. Hanya tersedia paper bagatau membawa tas kain sendiri.

Ada hal unik di sini yang bagi kami sangat berbeda dengan Indonesia. Yaitu seluruh supermarket, pertokoan, mall dan beberapa restoran akan tutup pada hari minggu. Whaaaat!!! Padahal setiap weekend biasanya kami menghabiskan waktu untuk ke mall atau belanja (sebelum Covid-19 melanda ya). Orang lokal sini akan menghabiskan waktu weekend-nya bersama keluarga untuk pergi ke danau, taman, gunung dan open space lainnya. Jadi kalau misal bahan makanan sudah menipis maka wajib hari sabtu adalah waktu untuk belanja. Pada hari Senin-Jumat pertokoan buka dari jam 08.00 – 18.00. Sedangkan hari Sabtu tutup lebih cepat yaitu jam 17.00.

Baca Juga :  Action Plan

Hari kedua kami langsung mencoba pergi ke Supermarket Migros. Letaknya hanya 200 meter dari apartemen. Begitu tercengang dengan harga-harga yang tertera. Kalau dirupiahkan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat harga di Indonesia. Contohnya harga pasta gigi yang bisa didapat dengan harganya Rp 15.000, di sini bisa 4 CHF (1 CHF = Rp 15.700) dan juga barang-barang yang lainnya.

Oke, mulai hari tersebut kami beradaptasi untuk tidak merupiahkan deh. Kalau barang dibawah 10 CHF berarti terjangkau. Ya, begitulah kalau merantau di negeri orang.

Lausanne merupakan kota kecil yang dulunya perbukitan. Sehingga warga sekitar sudah biasa dengan medan yang naik dan turun. Kalau jalannya turun sih enak, kalau pas naik waah… siap-siap olahraga deh. Dengan bahasa pengantar sehari-hari Bahasa Perancis. Lausanne dan Geneva menggunakan Bahasa Perancis, sedangkan Zurich Basel dan Bern menggunakan Bahasa Jerman. Ada beberapa kota lagi menggunakan Bahasa Italia dan ada lagi ysng menggunakan bahasa asli Swiss Romane.

Jadi di Negara Swiss yang luasnya masih kalah dengan luasnya Jawa Timur dan penduduknya kurang dari 10 juta itu menggunakan empat bahasa pengantar resmi. Repot sekali.

Ikuti cerita saya bersama suami, Fariz Hidayat ST MT serta dua putra kami  Omera Zirco Okfarizi dan Orion Zygmund Okfarizi  menyesuaikan siklus hidup baru di edisi selanjutnya. (bersambung/van)

Pilihan Pembaca