Sengketa Lahan Apartemen Taman Melati, Ingin Hakim Adil, Harusnya Putusan Ne Bis In Idem

9
DITOLAK: Advokat Yayan Riyanto menunjukkan bukti PK yang ditolak saat diajukan oleh Meriyati dalam perkara lahan untuk Apartemen Taman Melati.(MARGA/NEW MALANG POS)

MALANG, NewMalangPos – Sidang perlawanan terhadap permohonan eksekusi lahan 5.035 m2 yang seharusnya digunakan untuk Apartemen Taman Melati mulai ramai. Dipimpin hakim Juanto, SH, sidang diundur minggu depan. Ia meminta agar para kuasa hukum Meriati, yakni pemohon eksekusi dan termohon eksekusi menunjukkan bukti-bukti.

“Intinya kami minta keadilan kepada Ketua PN Malang, Ketua PT Surabaya, juga pada Mahkamah Agung,” tegas DR. Yayan Riyanto, SH, MH, kuasa hukum Eko Budi Siswanto, termohon eksekusi. Diberitakan sebelumnya, Yayan, panggilannya berang setelah lahan yang sedianya dibangun untuk Apartemen Taman Melati hendak dieksekusi PN Malang.

Padahal, lahan tersebut dibeli oleh Eko Budi, warga Jalan Indragiri, Surabaya, bulan Agustus 2013 lalu. Eko Budi adalah pembeli lelang eksekusi setelah lahan itu dijual oleh PN Malang tahun 2013 lalu, melalui KPKNL Malang. Nilai saat itu sekitar Rp 6 miliar. Mantan Ketua DPC Peradi RBA Malang itu mengaku banyak putusan yang saling bertentangan.

“Contohnya, tahun 2016. Peninjauan Kembali (PK) Meriyati, pemilik lahan dahulu jelas-jelas dikalahkan. Eko Budi dimenangkan. Tapi kenapa sekarang diksasi yang perkara terakhir tahun 2017, klien kami dikalahkan. Bahkan Meriyati bisa mengajukan permohonan eksekusi. Kami minta PN Malang bertanggungjawab atas lelang yang dulu pernah dilakukan tahun 2013,” urainya.

Dalam sidang perlawanan terhadap permohonan eksekusi, ditegaskannya bila Eko Budi, kliennya adalah pembeli lelang dari PN Malang tahun 2013. “Ini kami buktikan dengan membawa selembaran pengumuman lelang yang berbuntut pembelian dari klien kami. Bahkan objek itu, sudah kami eksekusi tahun 2014 lalu. Tapi Meriyati selalu mengganggu klien kami,” tegas mantan Ketua DPC Peradi RBA Malang itu.

“Kenapa bisa yang sudah diajukan eksekusi, malah mengajukan eksekusi kembali kepada klien kami?. Barang dibeli dari pengadilan, dan pernah dieksekusi oleh pengadilan, sekarang diajukan eksekusi balik oleh orang yang sudah kita eksekusi. Harusnya putusan nanti ne bis in idem. Putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Terhadap kasus dan pihak yang sama, tidak boleh diajukan untuk kedua kalinya,” pungkas pria ini. (mar)