Semula Tak Bisa Jahit, Kini Karyanya Terkenal di Negara Lain

TANGAN KREATIF: Produk jahitan tangan menggunakan jahit jelujur lurus House of Diamond yang didirikan o Noor Fadillah (kiri) dan Nur Cholidah (kanan) diminati pasar luar negeri.

Pengalaman Kakak Beradik Merintis Produk Jahit Jelujur Lurus

NewMalangPosNur Cholidah dan Noor Fadillah, kakak beradik yang sukses merintis usaha produk jahitan dengan melibatkan sejumlah kaum perempuan. Awalnya bantu sang ibu sebagai asisten penjahit sembari belajar kemudian membagi skill. Kini poduk warga Jalan Simpang Mega Mendung Kota Malang ini tersebar di sejumlah negara.

Bekerja di pabrik garmen menyita waktu Nur Cholidah. Jam kerjanya banyak tapi penghasilan yang didapat tak seberapa. Padahal bekerja mengejar target produksi tidak mengenal lelah. Ia akhirnya mundur dari tempat kerja.

“Saya memilih menjadi asisten ibu saya. Kebetulan ibu saya punya usaha jahit tetapi tidak berkembang,” kata Ida, sapaan akrab Nur Cholidah. Ia pun belajar menjahit, juga belajar mengembankan usaha. “Kami diajarin kemudian jalan sendiri hingga punya  klien sendiri,” sambungnya.

Ida dan adiknya Noor Fadillah pun mulai melayani klien. Mereka bahkan punya klien yang jumlahnya tak sedikit. Kini tercatat 1.500 orang yang rutin memesan jahitan. Kondisi itu bikin Ida dan adiknya Lila, sapaan akrab Noor Fadillah kewalahan menangani pesanan. Mereka pun mencari karyawan. Calon pegawai yang melamar tidak memiliki keterampilan menjahit sama sekali. Akhirnya Ida melatih dua orang pegawai yang mulai dipekerjakan pada tahun 2012.

Baca Juga :  One Anniversary, NusaDaily.com Songsong Tantangan dengan Karya

Namun karena skill mereka kurang, pendapatan dua pekerja itu tak tinggi. Sementara pesanan di usaha jahitnya merupakan pakaian custome seperti gaun pengantin.  Ida lantas memutar otak agar para pekerjanya memiliki pendapatan yang layak.

Ida kemudian membentuk sebuah space. Ia mengajak para perempuan untuk belajar bersama. Produk awal yang diproduksi baju bayi. Namun karena kurangnya produk knowledge dan peralatan,  produk tersebut pun tidak mengalami perkembangan.

Masih di tahun 2021, Ida membentuk House of Diamond namun belum memiliki konsep yang pas untuk produknya. Setelah banyak belajar, tahun 2015 lahirlah konsep baru. Yakni mengutamakan para karyawan bisa mengerjakan produk serta dapat dipasarkan dengan sasaran yang tepat.

Sedangkan produk yang dihasilkan berupa selimut, sarung bantal, kimono, taplak meja, syal dan saat ini merambah ke produk home ware. Ciri khas yang dimiliki House of Diamond terdapat sentuhan jahitan tangan menggunakan jahit jelujur lurus.  

Baca Juga :  Chinara Nabila, Jagoan Menggambar dengan Ratusan Prestasi

Masih di tahun 2015, ketemulah market yang tepatberdasarkan riset yang dilakukan. “Produk kami ternyata lebih diminati orang-orang di luar Indonesia. Agar produk ini sampai ke sasaran, kami mendatangi kedutaan negara asing yang memiliki komunitas wanitanya agar produk kami bisa di bawa ke luar negeri,” urainya.

Untuk pertama kalinya Ida dan Lila mendapat kesempatan presentasi di The ANZA, yakni asosiasi wanita dari New Zealand dan Australia di Jakarta. Ternyata saat mengenalkan produknya inilah banyak yang tertarik, sejak saat itu produk House of Diamond banyak dipasarkan ke grosir di Taiwan, Skotlandia, Finlandia, Australia dan Amerika Serikat. Produk mereka juga menembus pasar Singapura dan Kanada.

Setidaknya dalam satu tahun Ida dan Lila mengirim produk jahit jelujur sebanyak tiga kali pada awal tahun, pertengahan dan mendekati Natal. Total omzet yang diraih mencapai Rp 500 juta dalam satu tahun.

Baca Juga :  Puasa, Seluruh Tempat Hiburan Tutup, Kafe dan Resto Dibatasi

“Dalam satu tahun kami sampai tujuh kali menggelar bazar di Jakarta. Karena di sini market kami untuk produk yang tidak hanya care terhadap produknya melainkan orang dan lingkungannya,” terang Ida.

Menurut dia, produk yang diproduksi banyak diminati pasar luar negeri lantaran bukan hasil produk perusahaan besar. Tetapi produk yang unik, kuat dan indah dengan sentuhan jahitan lembut jahit jelujur.

Hasil produksi mereka juga disesuaikan dengan karakter warga negara pemesan. Bahan yang digunakan tidak melulu batik sebab menyesuaikan market.”Mereka suka batik tetapi tidak untuk dikenakan sehari-hari, karena budaya berbeda. Warna pun menyesuaikan  negara tujuan termasuk teksturnya seperti apa,” kata dia.

Sejak 2015 hingga sekarang House of Diamond memiliki pangsa pasar di luar negeri. Namun sejak pertengahan tahun 2020 sudah mulai merambah ke pasar Indonesia meskipun pembelinya hanya dari kalangan tertentu. Sebab produk yang dijualnya lebih menarik sebagai home interior. (Linda Epariyani/van)