Sekolah Islam Sabilillah Malang (SISMA); Orang Tua Terkesan, Belajar Daring Tetap Berkualitas

13
TEKUN: Para siswa SMA Islam Sabilillah Boarding School setiap hari juga disibukkan dengan aktivitas mengaji Alquran di Ma’had Sabilillah

NewMalangPos– Inovasi yang terus diciptakan Sekolah Islam Sabilillah Malang (SISMA) benar-benar menjadi solusi saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Karena belajar secara daring butuh kreativitas yang lebih dari biasanya. Dan itu sudah diterapkan dalam satu tahun terakhir.

Orang tua siswa menilai Sekolah Islam Sabilillah telah menyajikan pembelajaran virtual terbaik. Metode dan model belajar daring terus dikembangkan. Yang terkini, Sisma punya Smart Digital Learning. Pengembangan dari e-Learning yang diaplikasikan semester lalu.

Smart Digital Learning merupakan piranti pembelajaran berbasis web dengan menggunakan Learning Manajemen System (LMS). Aplikasinya sangat memudahkan siswa belajar dari rumah. Belajar seakan-akan didampingi guru dari dekat. Inilah yang dinamakan Sisma At Home. Sebuah program pendidikan berbasis digital yang berbeda dari yang lain.

Orang tua pun merasa terbantu dengan program ini. Bahkan di jenjang TK pun, anak-anak bisa belajar mandiri. Sehingga tidak merepotkan orang tua meskipun belajar secara daring.

Hal itu yang diungkapkan oleh Ashes Whyndita Dewi, SE orang tua siswa TK Islam Sabililah Malang. Hadirnya Smart Digital Learning yang dikemas dalam program Sisma At Home memberikan warna tersendiri. Belajar virtual menjadi semakin menarik. “Mudah sekali, anak saya cukup diberi penjelasan sekali dan selanjutnya dia bisa jalan sendiri,” ucapnya.

KREATIF: Salah satu kegiatan sentra di TK Islam Sabilillah melatih anak menjadi kreatif dan kritis

Meski dalam kondisi pandemi TK Islam Sabilillah melaksanakan kegiatan pembelajaran tetap enam hari dalam seminggu. Tidak ada fasilitas maupun program belajar yang berkurang. Hanya polanya yang berubah. Yang biasanya luring menjadi daring. Itu tidak lain untuk menjaga mutu dan kualitas belajar peserta didik. “Saya melihat sekolah lain belajar hanya tiga atau empat hari dalam seminggu. Itupun lebih banyak penugasan. Sangat berbeda dengan Sabilillah, belajar tetap enam hari dalam pendampingan yang optimal,” ungkapnya. 

Orang tua dari Rahmandhiyo Affan Mayantara ini juga terkesan dengan upaya dan inovasi guru Sisma. Para guru terus berupaya mencarikan solusi dalam setiap kesulitan belajar daring. “Yang paling berkesan di kami, mereka sangat sabar mendidik dan membina anak-anak dari jarak jauh. Kami tahu itu tidak mudah. Tapi guru terus berupaya maksimal,” imbuhnya.

Dewi menambahkan perhatian SISMA tidak cukup disitu. Tidak hanya untuk siswa saja. Orang tua pun tidak berhenti mendapat asupan ilmu dan motivasi. Meski dengan cara virtual, kegiatan semacam parenting tetap berjalan dengan rutin. Termasuk bina qolbu yang digelar setiap bulan oleh LPI Sabilillah. “Kami orang tua pun sangat antusias dengan program motivasi ini. Dengan daring tempatnya bisa lebih fleksibel. Di perjalanan pun kami tetap bisa bergabung,” tukasnya.

Hal sama disampaikan oleh Fanita Cahyaning Arie selaku orang tua siswa SMA Islam Sabilillah (SMAIS). Ia bahkan melihat aktivitas belajar anaknya lebih padat di kala daring. Karena di SMAIS menerapkan program ma’had.

Saat masih luring bisa dibilang hampir 24 jam siswa berada dalam pemantauan dan bimbingan guru. Usai dari program reguler sekolah dilanjut ke program ma’had.

Pun demikian saat daring. Aktivitas Ma’had Sabilillah dimulai sore hingga petang. Dengan ta’lim dan kajian Islam. Tentu dilaksanakan secara virtual dari rumah masing-masing. “Saya melihat aktivitas belajar anak itu padat. Hampir tidak ada kesempatan untuk keluar rumah,” katanya.

Wali dari Rosydah Aribah Putri Amasya ini juga mengaku salut akan sistem dan mekanisme belajar mengajar SISMA selama belajar daring. Tidak ada pengurangan materi. Semua terkontrol dengan rapi.

Ditambah dengan aplikasi Smart Digital Learning. Membuat belajar virtual makin efektif dan sistematis. “Sistemnya benar-benar smart. Kami orang tua merasa salut dan terkesan,” ujar Dosen Universitas Terbuka ini.

Fanita menyampaikan penjelasan itu bukan karena semata-mata orang tua siswa Sabilillah. Tapi kemudahan dan kualitas belajar yang diterapkan SISMA benar-benar berbeda. Ia dapat membandingkan karena tiga putra dan putrinya belajar di tiga sekolah yang berbeda. “Sabilillah paling bagus, saya tidak salah memilih Sabilillah untuk anak-anak,” tandasnya.

Untuk diketahui Sekolah Islam Sabilillah membuka pendaftaran peserta didik baru. Kuota yang masih tersedia untuk jenjang TK dan SMA Islam Sabilillah. Informasi pendaftaran bisa diakses di www.sekolahsabilillah.sch.id.  (imm/sir)