Sekolah Islam Sabilillah Malang, Merdeka Belajar, Siswa Bebas Bereksplorasi

CANGGIH: Kabag Kurikulum dan Kesiswaan LPI Sabilillah Malang, Idi Rathomy Baisa, S.Pd., M.Pd menunjukkan fitur-fitur yang ada di aplikasi Smart Digital Learning

NewMalangPos, MALANG – Saat kebanyakan sekolah masih bingung cara menerapkan dan model belajar daring yang tepat, Sekolah Islam Sabilillah Malang (SISMA) sudah menata itu dengan sangat rapi. Sisma punya Smart Digital Learning yang hingga kini terbukti efektif sebagai piranti belajar berbasis digital. 

Siswa pun merasa nyaman karena dapat belajar dengan mandiri. Bimbingan guru secara virtual tidak menyulitkan mereka belajar di rumah.

Bahkan dalam sebuah sistem yang dirancang digital tersebut, SISMA mengkolaborasikan dengan sebuah konsep Merdeka Belajar yang apik. Di Smart Digital Learning siswa diberikan tawaran untuk memilih model dan media belajar yang mereka inginkan. Misalnya belajar dengan video, PPT, e-Book dan lain sebagainya.

Kabag Kurikulum dan Kesiswaan LPI Sabilillah Malang, Idi Rathomy Baisa, S.Pd., M.Pd menjelaskan, sistem ini dibentuk dengan sistem kontrak belajar. Disepakati antara guru dan siswa di awal pembelajaran. “Kontrak belajar memberikan ruang yang lebih bebas kepada siswa untuk cara dan media belajar yang disukai. Harapannya belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak merasa dipaksa,” katanya.

Baca Juga :  Pantang Menyerah dan Mandiri

Idi melanjutkan, kebebasan itu bahkan juga diterapkan untuk model penugasan. Siswa juga bebas memilih pola tugas yang diinginkan. Misalnya berupa video, gambar peta konsep, rangkuman atau yang lainnya. “Inilah yang dimaksud dengan Merdeka Belajar, anak diberikan kebebasan sesuai dengan passionnya. Artinya guru tidak memaksakan pada satu model tugas. Dengan begitu siswa semakin bebas bereksplorasi membuat proyek tugas dengan model yang disukai,” paparnya.

Dengan model Merdeka Belajar seperti ini, guru menyesuaikan dengan keinginan siswa. Media belajar yang disiapkan juga harus lebih variatif. Guru pun bebas membuat berbagai macam referensi untuk model pembelajaran. “Kalau siswanya merdeka, maka tentu gurunya pun harus merdeka. Maka kita bebaskan guru berkreasi,” tegasnya.

Baca Juga :  Padukan Komitmen Keislaman, Kebangsaan dan Kecendekiaan

Untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan guru LPI sabilillah memberikan bimbingan dan pelatihan secara berkala. Tentu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi informasi yang up to date. Dengan tetap menitik beratkan pada nilai-nilai karakter keislaman. “Yang terpenting guru tetap berkenan untuk mengeksplor penggunaan smart digital learning. Karena disini kaya akan referensi. Kalau guru tidak berani mencoba maka belajar menjadi monoton dan membosankan,” terangnya.

Sebagaimana diketahui sejak diterapkannya belajar daring karena pandemi covid-19, SISMA terus meningkatkan semua sistem layanan pendidikan berbasis digital. Selain layanan pembelajaran, rapor pun dapat diakses melalui Smart Digital Learning. Orang tua dapat memantau secara langsung dengan memakai username untuk melihat rapor akuntabilitas anaknya setiap bulan.

Di Smart Digital Learning juga ada fitur kumpulan media pembelajaran. Dan kedepannya juga akan dikembangkan ke layanan konseling secara daring, bahkan juga layanan kesehatan atau UKS.

Baca Juga :  7 Tablet Murah untuk Belajar Online di Rumah

Sehingga sekolah benar-benar terasa di rumah siswa. “Inilah tujuan kami mengembangkan program Sisma At Home,” kata Idi.

Hebatnya lagi, layanan berbasis digital tidak hanya untuk siswa, tetapi juga orang tua. Semua kegiatan yang selama ini melibatkan orang tua kini diterapkan dengan sistem daring atau virtual. Misalnya  pertemuan wali kelas dengan paguyuban orang tua yang digelar setiap bulan. “Karena ini penting, tujuan kami ingin menyampaikan informasi perkembangan belajar anak. Di pertemuan ini orang tua bisa sharing dan konsultasi,” jelasnya.

Ada juga kegiatan majelis zikir Bina Qolbu yang juga digelar setiap bulan. Selain itu juga kegiatan parenting dua kali dalam satu semester oleh setiap unit sekolah. Dan juga dua bulan sekali yang digelar lembaga. “Sehingga SISMA At Home tidak hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga untuk orang tua,” tutupnya.  (imm/adv)