Seimbang Akademik dan Atlet

Faizzatus Shoimah pebasket nasional asal Kota Malang

NEW MALANG POS – JADI atlet profesional Faizzatus Shoimah tetap mengutamakan pendidikan. Apalagi
mendapatkan beasiswa uang kuliah selama empat tahun di Jurusan Administasi Publik Universirtas Airlangga (Unair) Surabaya. Beasiswa itu ia dapat dari KONI Jatim atas raihan prestasi selama menjadi atlet basket junior.

“Ini saya dapat lewat jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), jadi ikut tes tulis dulu. Dari dua pilihan, Alhamdulillah saya masuk di Jurusan Administasi Publik, dan gratis uang kuliah selama empat tahun,” ungkapnya.

Meskipun mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk bermain basket, wanita yang akrab disapa Ais itu tidak meninggalkan pendidikanya. “Waktu sekolah harus mengejar guru-guru untuk ulangan susulan, kemudian menyalin catatan yang jumlahnya berlembar-lembar dan juga tetap harus tepat waktu saat mengumpulkan tugas,” cerita Ais.

Baca Juga :  Takut ke RSSA, Volume Pasien Reguler Turun Drastis

Semangatnya itu tidak terlepas dari restu dan doa orangtuanya. Hingga akhirnya berhasil melewati rintangan dan terjalnya jalan yang ditempuhnya. Saat menjadi seorang atlet, Ais sempat diterpa keadaan yang cukup berat. Usai pengumuman membahagiakan atas terpilihnya sebagai punggawa Timnas Basket Putri U18 di ajang FIBA U18 Asian Championship di India, kabar duka menerpanya.

Pada tahun 2018, sang ibu harus meninggalkannya untuk selama-lamanya tepat seminggu sebelum Ais berangkat pemusatan latihan. Tentu bukan perkara mudah, apalagi saat itu usianya baru menginjak 18 tahun.

Baca Juga :  Program Sahabat UMI, ACT Malang Santuni Para Perempuan Tulang Punggung Keluarga

“Setelah ibu meninggal itu, tidak sampai satu minggu harus sudah ke Cirebon untuk pemusatan latihan agenda FIBA U18 India. Saat berangkat itu suasana hati sama pikiran masih goyah, bahkan saat latihan seperti pikiran itu kosong,” kenang Ais.

Ia bisa kelola situasi tersebut sehingga menjadi penjaga semangat dan asa yang diwariskan mendiang ibunya. Dirinya tidak menyerah baik akademik maupun di dunia basket.

Perjuangan Ais belum berhenti. Ia masih harus melakukan sinkronisasi antara dunia atlet dan akademik. Agar keduanya bisa berjalan seiringan, apalagi sejak tahun 2019 ia juga tergabung dalam Generasi Muda Cirebon (GMC) dalam karier profesionalnya.
Mengandalkan kemajuan teknologi dan sistem pendidikan yang didominasi kegiatan dalam jaringan (daring), membuat akademik Ais masih bisa terkejar dengan baik. Karena harus selalu mendapatkan nilai yang baik di perkuliahan, agar beasiswa yang didapatkannya tidak hangus atau gugur.

Baca Juga :  Pengusaha Keluhkan Rokok Ilegal, Kinerja Wilayah Lain Diminta Seperti Kanwil DJBC Jatim II

“Alhamdulillah sudah terbiasa sejak sekolah, jadi untuk kendala bisa diminimalisir. Dan yang terpenting saat Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) hasilnya tidak boleh sampai jelek,” katanya. Saat ini dirinya masih terus fokus dalam dua sisi yang dijalaninya itu.

“Untuk cita-cita sebetulnya belum ada gambaran yang benar-benar matang. Tapi yang jelas sekarang saya tetap bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik, baik sebagai atlet basket dan sebagai seorang mahasiswi,” pungkasnya. (rex/van)

artikel Pilihan