Salam dari Swiss, Kehujanan dan Tersesat di Bern

KOTA NYAMAN: Okky Putri Prastuti ST MT, Omera Zirco Okfarizi dan Orion Zygmund Okfarizi foto berlatar belakang jam dinding Bern.

NewMalangPos – Weekend kali ini kami pertama kali pergi keluar kota. Naik kereta api ke Bern, Ibu Kota Switzerland.

Jarak dari Lausanne  ke  Bern sejauh 112 kilometer. Ditempuh menggunakan kereta selama 1 jam 26 menit.

Kami berangkat dari Lausanne Gare (Stasiun Lausanne) menggunakan kereta IC-1 dari lajur 1 pada pukul 7.20. Berangkat dari apartemen jam 07.00 membuat kami deg-degan ketinggalan kereta. Alhamdulillah 10 menit sebelum jadwal keberangkatan kami sudah tiba di stasiun.

Ya, jarak dari apartemen ke stasiun lumayan dekat, 900 meter, cuma sekali naik bus dan melewati lima pemberhentian bus. Kalau misalkan ketinggalan kereta bagaimana? Tenang saja 1 jam berikutnya juga masih tersedia jadwal pemberangkatan kereta IC-1.

Berbeda dengan di tanah air, saat kita membeli tiket kereta sudah disesuaikan dengan nama kereta, jam keberangkatan, dan juga nomor kursi. Apabila ketinggalan kereta maka tiket yang kita beli hangus. Sedangkan di sini, apabila sudah membeli tiket PP seharga 40 CHF per orang (1 CHF = Rp 15.700) bisa menggunakan tiket tersebut jam berapapun dan bebas pilih tempat duduk dimana saja. Dalam satu gerbong tersedia dua lantai (kereta tingkat). Kami memilih di lantai satu saja karena kalau ke lantai dua susah angkat strollernya. Selain itu tersedia juga kelas satu (kelas eksekutif) dan kelas dua (kelas ekonomi).

Kami membeli tiket kelas dua. Meskipun kelas dua tapi fasilitasnya sudah sangat baik. Kondisi dalam kereta sangat bersih, rapi  dan terawat. Ada berbagai macam tempat duduk, ada yang 2-2, 1-2, 1, saling berhadapan atau tidak. Disesuaikan dengan penumpang apakah berangkat sendirian atau bersama keluarga. Sangat fleksibel dan nyaman sekali.

Setelah sampai di Bern pukul 8.30, kami segera mencari tempat halte bus untuk menuju Old Town of Bern. Kami berjalan ke halte di tengah cuaca masih terasa dingin. Meskipun masih pagi, kotanya sangat ramai. Banyak bus dan kereta berlalu-lalang, perempatan atau bahkan perenaman penuh dengan pejalan kaki. Maklum, Lausanne seperti di Malang dan Bern seperti di Jakarta.

Untung kami berempat sudah memakai jaket semua, karena suhu menunjukkan 14C di pagi hari dan belum terlihat sinar matahari. Tangan, kaki dan badan rasanya bekuuu semua. Padahal ini masih belum winter, bagaimana kalau jalanan sudah dipenuhi salju nih. Tapi anehnya kami semua tidak pilek-pilek, padahal kalau kami di Malang dan di Batu pada suhu tersebut sudah pilek gak karuan. Apalagi saya dan suami yang memiliki riwayat alergi dingin. Mungkin karena udaranya sangat bersih ya, jadi hidung masih aman dan hanya terasa dingin. Alhamdulillah.

Baca Juga :  Kasus Positif Covid-19 di Singapura Melonjak Lagi, Tertinggi 10 Bulan Terakhir

Old Town of Bern atau Kota Tua Bern memiliki daya tarik tersendiri. Dengan bangunan rapi berjejer dan juga masih terawat memang terlihat eksotik. Kami menyempatkan berfoto terlebih dahulu dengan latar belakang Menara Jam (Zytylogge). Zytglogge atau sebuah menara jam yang sangat besar. Menara jam yang berusia 800 tahun ini adalah salah satu landmark Bern yang paling terkenal dan menjadi salah satu list untuk dikunjungi.

Di sepanjang area Zytylogge juga terdapat air mancur. Air mancurnya lebih dari satu. Air mancur tersebut didirikan pada abad ke 16. Hingga sekarang masih terawat dengan baik. Di setiap hari mancur dihiasi  patung yang berbeda-beda. Ada patung dengan sosok pahlawan dan juga beruang dengan baju besi. Air mancur yang mancur dari patung-patung di kolam tersebut juga bisa diminum langsung. Tapi kami tidak mencoba meminumnya sih, gak kolu (Bahasa Jawa). He he he.

Yang membuat kami aneh adalah di kawasan ini bukan hanya bus yang melintas melainkan kereta api. Saat sedang foto-foto ternyata ada bunyi bel kereta yang mengisyaratkan akan lewat. Berbeda dengan di Kota Lausanne, di tengah kota tidak ada bus melintas, jadi hanya dipenuhi pejalan kaki. Dan kami teringat, oh ya sih ini kan di ibu kota sedangkan Lausanne hanya kota kecil berpenduduk 116 ribu jiwa.

Banyak sekali pertokoan di sepanjang area Zytylogge. Tapi karena masih terlalu pagi, toko belum buka. Rata-rata toko buka jam 10.00.

Kami juga menjumpai sejenis pasar kaget. Harganya benar-benar bikin kaget, hahaha. Masa daster bermotif bunga dijual dengan harga 55 CHF!!!! Made in Paris sih, mungkin itu yang membuat mahal. Ada juga topi rajut bambu yang khas untuk musim panas dijual seharga 80 CHF, gak jadi beli deh. Masa pingin gaya untuk property foto harus beli topi seharga Rp 1 juta lebiiih.

Selain Old Town of Bern, banyak sekali tempat wisata yang bisa dikunjungi, ada Gedung Parlemen Bundenhaus, Taman Beruang, Museum Einstein dan Museum Sejarah Bern, Rosengarten (Taman Mawar), Museum Komunikasi dan lainnya.

Tapi karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mengikuti acara 17 Agustus, maka wisata di Bern akan dilanjutkan siang hari. Semoga cuacanya cerah. Cerita keseruan mengikuti acara kemerdekaan di KBRI Bern yang bertempat di Wisma Duta KBRI (Kediaman Kedubes) sudah tayang dua pekan lalu ya. Jangan sampai terlewat.

Baca Juga :  Usai Dilantik, Biden Batalkan Sejumlah Kebijakan Trump

Oh ya, yang jadi lucu kami tidak sampai berpikir Kantor Kedutaan dan Wisma Duta RI itu beda alamat. Kami menuju ke kantor kedutaan yang terletak di Jalan Elfenauweg 51, 3006 Bern. Semakin dekat semakin bingung kok sepi dan tidak ada acara sama sekali. Kemudian cek email kembali, ternyata kami salah alamat acaranya di Wisma Duta RI. Harus segera cari bus dan ternyata cukup jauuuh dari Eldenauweg, masih harus jalan kaki 500 meter, naik bus kurang lebih 1 jam. Dari halte tempat pemberhentian terakhir juga masih harus jalan kaki ke wisma duta. Duuuh capeknya.

Acara di KBRI dipercepat karena hari sedang mendung takut hujan deras. Jam 13.00 setelah sudah kenyang kami meninggalkan tempat acara. Kembali melanjutkan acara wisata. Namun cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami, di tengah jalan gerimis datang dan tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang. Kami memutuskan untuk mengunjungi museum di tengah hujan seperti ini karena berharap di dalam museum akan hangat dan terhindar dari hujan. Namun rencana tak semulus itu ferguso. Ternyata stroller bayi pun basah, Zygmund (putra kedua kami,Orion Zygmund Okfarizi)harus digendong menggunakan gendongan hip seat yang sudah kami bawa. Hati seorang ibu sudah tidak tenang karena anak bayi berumur 11 bulan kehujanan. Padahal payung sudah saya taruh diatas stroller dan saya sudah rela hujan-hujan. Suami berkata, “Habis gini harus beli jas hujan dan penutup stroller kalau keluar-keluar sedang hujan gini.”  Saya hanya tertawa dan berkata “Sudah punya kok jas hujan dan pelindung stroller dari air, tapi ada di kontainer yang belum tahu kapan datangnya, hehe”. Oh kontaineer, kapankah engkau dataang. Kami telah menanti.

Wala (akhirnya dalam Bahasa Perancis) kami tiba di salah satu museum. Mencari museum ini juga agak susah bagi kami. Mungkin karena sudah gupuh karena kehujanan dan bingung mau kemana. Kami masuk ke dalam museum seni.  Museumnya tidak terlalu besar tapi lumayan cukup menghangatkan dari dinginnya hujan.

Zirco (putra pertama kami, Omera Zirco Okfarizi) tak happy berteduh di museum seni ini. Tidak menikmatinya.  Kami memutuskan berhujan-hujan lagi menuju Zytglogge mencari tempat berlindung yang nyaman. Sekalian membeli baju untuk Zirco. Sebenarnya ingin langsung kembali ke Lausanne tapi tidak tega dengan Zirco yang basah kuyup hingga sepatu. Pilihan jatuh ke toko Jacadi – Toko asal Paris. Langsung bertanya ke penjaga toko celana jins panjang untuk anak umur 4,5 tahun, sepatu ukuran 31, dan kaos kaki. Belinya cepet-cepetan kayak dapat uang kaget yang harus habis dalam waktu satu jam. Alhamdulillah tiga item tersebut ada yang lagi diskon. Celana jins seharga 19 CHF, kaos kaki 3 CHF  dan sepatu putih gaul seharga 55 CHF. Kalau tidak ada diskon harus bayar tiga kali lipat kayaknya. Rezeki deh pokoknya. Si anak lanang tambah kelihatan mbois dengan pakaian made in Paris. Weleh-weleh, bukan ibuknya yang shopping, malah yang dapat anaknya duluan nih..

Baca Juga :  Mahasiswa ITN Dapat Bantuan Pemkot Malang

Mau belikan baju buat Zygmund tapi belum ada yang diskon, next month saja ya dek. Hehe.

Sambil nunggu hujan reda cari penghangat kopi ketemu Starbucks. Hujan enaknya makan indomie, tapi karena tidak ada coba beli kopi saja di Starbucks. Secangkir kopi panas dan coklat panas serta butter croissant menemani sore kami di Bern, numpang di kafe seberang Starbucks. Saya lupa namanya.

Sambil melihat rintikan hujan dari kaca. Tak terasa sudah hampir pukul 15.30 dan toko mau tutup. Beberapa lampu sudah dimatikan, seluruh dagangan rotinya sudah sold out.

Setelah ngopi badan agak segar lanjut lagi mengunjungi Museum Komunikasi. Lagi-lagi kami kesusahan mencari museum dan arah jalan di tengah hujan lebat ini. Pukul 16.25 kami tiba di museum, sehingga kami hanya punya waktu sedikit untuk menikmati keindahan museum karena tutupnya jam 17.00. Untungnya Zirco baik-baik saja dan memaklumi keadaan yang ada. Sebenarnya dia sedih tidak bisa ke Taman Beruang salah satu destinasi ikonik yang dikunjungi Bern terkenal dengan beruangnya. Tapi bagaimana lagi hujan tidak kunjung reda dan tidak mungkin wisata ke taman.

Cerita lucu menegangkan kembali terjadi saat pulang ke Lausanne dengan kereta jam 18.10. Kereta kali ini penuh.  Saat  memeriksa tiket yang kami beli, kondektur menyatakan tiket kami tidak valid. Tiket kami hanya berlaku dari Lausanne ke Bern tidak bolak balik PP. Suami langsung beragumen bahwa kami telah membeli tiket pulang pergi (PP) seharga 40 CHF per orang. Sambil menunjukkan aplikasi di HP pembelian tiket PP. Kondektur tidak menerima hal tersebut dan meminta kami membeli tiket kembali Bern – Lausanne. Dengan klik-klik di aplikasi SBB selama beberapa menit maka kami berdua membeli tiket kembali seharga 17 CHF per orang supaya tidak diturunkan dari kereta. Sudah deg-deg-an dan khawatir kalau harus diusir dari kereta dan kena denda karena naik kereta tanpa tiket. Tekor deh kami. Hu hu hu (OPP)

artikel Pilihan