RISK EQUAL WITH LUCK

Puguh Wiji Pamungkas - Founder dan Owner RSU Wajak Husada

MALANG, NewMalangPos – 1456 tahun yang lalu Rasulullah Muhammad SAW untuk pertama kalinya dilantik sebagai pembawa risalah sebagai Rasul, setelah melalui perjalanan menyendiri yang cukup lama di gua Hira akhirnya Nabi Muhammad mendapatkan mandat dari Allah untuk mengemban sebagai penyampai pesan wahyu ilahi.

          Menurut beberapa literatur, pada saat Nabi Muhammad menerima mandat sebagai seorang Rasul itu ada kurang lebih 100 juta manusia penduduk di bumi ini yang tersebar di tiga benua yakni benua Asia, Afrika dan Eropa.

          Sejak diangkat sebagai seorang Rasul dan beliau wafat pada tahun ke 10 Hijrah atau kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari, ada kurang lebih 100 ribu sampai 125 ribu umat manusia yang memeluk Islam dan jumlah ini mempresentasikan jumlah kaum muslimin yang ikut dalam Haji Wada’. Jika dibandingkan, pada tahun itu ada 100 juta manusia di seluruh dunia dan 125 ribu di antaranya adalah umat Islam.

          Hari ini,14 abad setelah peristiwa dilantiknya sang Nabi menjadi Rasul ada 1,9 miliar manusia yang memeluk Islam dari 7,8 miliar penduduk bumi. Perjuangan dan pengorbanan serta kesabaran sang Nabi dalam menjalankan perannya sebagai seorang Rasul berbuah pada pertumbuhan jumlah kaum muslimin dari 125 ribu kaum muslimin yang memeluk Islam pada saat haji Wada’, hari ini menjadi 1,9 miliar.

          Jawaban dari proses pertumbuhan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad tersebut adalah pengorbanan atas segala risiko yang dihadapi. Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi selama hampir 23 tahun tersebut menjadikan jumlah kaum muslimin menjadi 24 persen dari total jumlah penduduk bumi. Pengorbanan jugalah yang menjadi jawaban atas kemakmuran yang terjadi dalam seluruh perjalanan kaum muslimin sejak 14 abad yang lalu.

Baca Juga :  Matos Ajak Nikmati Senja di Twilight Zone

          Pertumbuhan, risiko dan pengorbanan adalah tiga hal yang saling berkaitan. Tidak akan ada pertumbuhan dan kemakmuran jika seseorang tidak pernah berjumpa dengan risiko dalam kehidupannya dan untuk menaklukan setiap risiko yang dihadapi, dibutuhkan pengorbanan yang memadai dan maksimal.

          Jadi, risiko itu ibarat jalan awal bagi seseorang untuk sampai pada puncak keberhasilannya. Dengan risiko seseorang dipaksa untuk berpikir secara keras, untuk menemukan cara bagaimana langkah dan strategi untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah yang dihadapai.

          Risiko itu seperti yang dialami oleh Rasulullah selama 23 tahun perjalanannya mengemban mandat ke Rasulan, bahwa setiap risiko yang dihadapai oleh beliau mampu menghantarkan pertumbuhan kaum muslimin dari satu orang saat Rasulullah di utus oleh Allah menjadi 125 ribu saat haji Wada’ di tahun ke 10 hijrah dan hari ini ada 1,9 miliar penduduk muslim di seluruh dunia.

          “Risk Equal With Luck,” mungkin kalimat ini adalah yang tepat untuk menggambarkan bahwa pilihan atau risiko yang kita ambil dalam kehidupan atau dalam bisnis sekalipun selalu linier dengan kesuksesan dan pertumbuhan yang akan kita raih.

          Dalam dunia entrepreunership, risiko itu juga bagian yang melekat dalam seluruh proses yang dijalankan, bahwa perihal yang melekat dalam bisnis pasti ada risiko yang menyertai, bahwa dalam seluruh proses scale-up bisnis pasti ada banyak risiko yang harus dihadapi dan ditaklukkan.

Baca Juga :  Kreatif Tak Terhalang Pandemi

          Jika kita berbicara tentang risiko, maka ada empat kompetensi yang harus harus dimiliki oleh seseorang agar bisa menjadikan setiap risiko yang dihadapi itu menjadi pintu awal bagi kemakmurannya. Empat kompetensi ini menjadi piranti mendasar yang harus dimiliki agar setiap risiko yang dihadapi dalam proses pertumbuhan itu menjadi alat yang bisa memecahkan permasalahan.

          Pertama, Oportunity Hunter. Mentalitas pencari peluang adalah kompetensi pertama yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam menaklukkan risiko. Mentalitas pencari peluang adalah mentalitas yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, seseorang yang memiliki mentalitas pencari peluang akan terus mencari cara untuk menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan yang hadir dala kehidupannya.

          Sikap mental oportunity hunter ini jugalah yang menyebabkan seseorang memiliki sikap Resiliency dan Tenacity untuk tetap berfokus menemukan jalan keluar dari setiap risiko pertumbuhan yang dihadapinya.

          Kedua, Memiliki ekosistem Pertumbuhan yang maksimal. Peluang tidak akan didapatkan jika seseorang tidak memiliki ekosistem pertumbuhan yang memadai dan maksimal. Eksosistem pertumbuhan ini ibarat kita sedang mengumpulkan banyak perlengkapan dan alat-alat yang disaat kita sedang membutuhkannya kita tinggal memakainya.

          Ekosistem pertumbuhan ini juga ibarat kita sedang memposisikan diri berada pada sebuah lingkungan yang semuanya mendukung dan memudahkan kita untuk menghadapi setiap risiko dan permasalahan yang muncul.

          Ketiga, Resources Allocation. Kemampuan seseorang untuk mengumpulkan sumber daya adalah menjadi jawaban terpenting dari kemampuannya untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap tantangan dari risiko yang dihadapinya. Seseorang akan dengan mudah dan cepat menghadapi risiko dan tantangan yang ada jika ia memiliki sumber daya yang memadai untuk menyelesaikannya. Resources itu bisa berupa SDM yang unggul, perlengkapan yang memadai, pendanaan yang cukup, mitra kerja yang loyal dan sportif, sistem dan organisasi yang bagus dan rapi. Dengan memiliki resources yang maksimal, maka setiap risiko yang muncul dalam tahapan kehidupan dan bisnis, pasti akan dengan mudah untuk diselesaikan.

Baca Juga :  Sinergi Anak Negeri Dukung TNI Polri Tegas

          Keempat, Performance. Sebagaimana konsep pertumbuhan dan kemakmuran yang disampaikan oleh Prof. Angela Lee Duckworth dalam istilah GRIT, bahwa kunci seseorang agar bisa berhasil hanya ada, yakni ia memiliki kinerja yang tekun dan ia selalu memiliki kinerja yang semangat dan bergairah.

          Sumber daya yang kita miliki jika tidak disupport dengan kinerja yang terbaik, kinerja yang tekun dan bersemangat, maka sumber daya itu tidak akan memberikan dampak apa-apa terhadap penyelesaian risiko dan tantangan yang kita hadapi.

          Risiko itu tanda dari pertumbuhan dan keberhasilan. Jika perjalanan hidup dan bisnis kita dihadapkan pada banyak risiko, itu artinya kita sudah dekat dengan kesuksesan, keberhasilan dan kemakmuran. Maka jangan takut dan jangan mundur dengan risiko serta tantangan yang datang kepada kita, sebagaimana Nabi yang telah mencontohkan dengan seksama, kemampuan beliau dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap risiko dalam perjalanan hidupnya.(*)

Pilihan Pembaca