Ribuan Orang Naik KA Masuk Keluar Malang

Suasana Stasiun Kota Baru Malang pada 5 Mei 2021. (NMP-Ipunk Purwanto)

Buruan Berangkat Sebelum Dicegat

NewMalangPos – Ribuan orang bergerak cepat sebelum semua akses di Malang Raya ditutup untuk pemudik, Kamis (6/5) hari ini. Mereka masuk keluar Kota Malang dari Stasiun KA Kotabaru dan Terminal Arjosari kemarin. (baca grafis di Koran New Malang Pos edisi 6 Mei 2021)

Di Stasiun KA Kotabaru tercatat 2.750 orang yang masuk dan tinggalkan Kota Malang hingga kemarin sore. Rinciannya penumpang yang datang atau tiba sebanyak 1.096 orang. Sedangkan yang pergi atau keluar kota tercatat 1.474 orang.

Mulai hari ini kereta api di Kota Malang tidak beroperasi. Hanya terdapat empat  KA saja yang bisa dioperasikan hanya untuk keperluan mendesak. Hal ini ditegaskan Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif, Rabu (5/5).

“Puncak keberangkatan sebenarnya terpantau di hari Minggu (2/5) lalu. Itu rata-rata di stasiun kereta api di bawah Daop 8 ada sekitar 13 ribu yang berangkat dan menuju ke daerah tujuan masing-masing. Kebanyakan pakai KA Lokal,” terang Luqman saat ditemui di Balai Kota Malang.

Tujuan pergerakan penumpang kereta api di wilayah Daop 8 ini terbanyak berada di kawasan Surabaya, Malang, Banyuwangi dan tujuan lokal Jawa Timur lainnya. Tidak banyak yang melakukan pergerakan jarak jauh seperti ke Jakarta atau Bandung.

Baca Juga :  SKB CPNS Pemkab Malang di 10 Kota

Ia menjelaskan hari terakhir sebelum masa larangan diberlakukan, jumlah penumpang yang bergerak di Stasiun Kota Malang tidak menunjukan angka yang besar. Karena hanya sekitar 2 ribuan orang.

Ia menjelaskan mayoritas penumpang KA lokal berasal dari Malang ke Surabaya dengan KA Penataran. Kemudian, ada juga yang menggunakan KA Dhoho menuju Jombang dan ada juga yang menuju Lamongan.

Dikatakannya penumpang kereta ini hanya bersifat singgah sebentar. Kemudian, sore harinya, kembali lagi ke daerah masing-masing.

“Untuk masa larangan mudik memang masih ada KA dari Malang yang dioperasikan. Hanya saja ya itu untuk urusan mendesak,” tegasnya.

 Seperti diberitakan sebelumnya, PT  KAI  menyediakan angkutan yang digunakan untuk perjalanan mendesak dan bukan untuk mudik.

Di Stasiun Malang ada empat KA yang akan beroperasi. Yakni terdiri dari dua KA jarak jauh dan menengah, KA Gajayana relasi Malang-Gambir dan KA Tawang Alun relasi Malang-Ketapang. Kemudian, dua KA lokal, yakni KA Penataran relasi Surabaya Kota-Malang Blitar PP dan KA Tumapel relasi Malang-Surabaya Kota.  

Baca Juga :  Isu Tsunami Pantai Sepi, 1 Menit 60 Mobil Wisatawan Melintas di Batu

Berbeda dengan Terminal Arjosari. Di terminal terbesar di Malang Raya ini sepi penumpang yang merupakan fenomena terminal selama ini. Staf Pengolah Data Terminal Arjosari Heri Subagyo mengatakan, berdasarkan data, jumlah bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) mengalami penurunan sebesar 4,8 persen. Terminal Arjosari yang merupakan terminal tipe A memiliki rata rata penumpang harian sebesar 235 penumpang datang dengan rata rata penumpang berangkat sebesar 650 penumpang.

“Tapi seperti yang bisa dilihat, saat ini sepi. Laporan atau rekap data biasanya bisa dilihat besok. Tapi mulai pagi sampai sore ini saja perkiraan yang berangkat hanya sekitar 200 sampai 300-an. Kalau yang datang tadi 185 penumpang,” ungkap Heri.

Ia mengatakan penurunan penumpang dipengaruhi banyak faktor. Selain pembatasan dan persyaratan ketat yang diberlakukan, masyarakat lebih memilih moda transportasi lain seperti kereta api atau menyewa kendaraan atau menggunakan kendaraan sendiri.

“Di terminal ini istilahnya alternatif terakhir. Yang pasti saat ini ada penurunan, kalau di agen (PO Bus) mestinya ada (penumpang) juga. Tapi kalau yang lewat sini terlihat menurun,” sebutnya.

Baca Juga :  Festival Gugur Gunung Bhumi Tridi

Meski demikian, kondisi tersebut menurut Heri sebenarnya sudah lebih baik bila dibandingkan tahun lalu pada momen serupa. Heri menyebut, tahun lalu penumpang dikatakannya hampir tidak ada. Bahkan ada armada bus yang tidak mendapatkan penumpang.

“Menurut data, rata rata mulai tanggal 17 Mei sampai 1 Juni tahun lalu saat momen mudik atau selama 16 hari pada tahun lalu, itu hanya ada empat  orang dari empat kedatangan bus. Sementara untuk keberangkatan ada 11 penumpang dari enam bus,” rinci Heri.

Sementara itu, berdasarkan perkembangan terbaru, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mulai mendistribusikan stiker akses operasional bus selama larangan mudik. Stiker didistribusikan melalui dua cara. Yakni dikirim Kemenhub atau diambil sendiri oleh PO Bus di Jakarta.

“Menurut informasi, ada 11 PO Bus yang sudah mendaftar secara online ke Kemenhub. Untuk berapa persisnya belum tahu karena dari pusat langsung ke PO,” tandasnya. (ica/ian/van)