Relawan Latih Disabilitas, Karyanya Tembus Pasar Internasional

new malang pos
Epie Sukadi memperlihatkan Boneka Vakikus karyanya yang menembus pasar internasional. (NMP/MUHAMMAD FIRMAN)

Epie Sukadi Pengerajin Boneka Vakikus

NewMalangPos – Hidup harus bermanfaat bagi orang sekitar. Itulah prinsip Epie Sukadi. Bermodal keterampilan yang dimiliki, ibu tiga anak asal Kota Batu ini rela menjadi volunter di Sekolah Luar Biasa (SLB) Eka Mandiri Kota Batu. Ia mengajarkan cara membuat boneka yang kini dijual di sejumlah negara.

Di ruang pamer rumahnya di Jalan Sudarno, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Epie menata rapi boneka yang dinamai vakikus di rak dinding yang terpaku. Beberapa boneka dipajang di ruang berukuran 2 x 2 meter itu menyambut tamu yang datang.

Epie menceritakan bagaimana mulai membuat boneka yang ia namai vakikus tersebut. “Saya sudah lama membuat boneka vakikus. Sekitar tahun 2010 lalu. Setelah saya tidak lagi mengajar sebagai dosen di UPN Veteran Surabaya,” cerita Epie kepada New Malang Pos.

Baca Juga :  Bos The Nine Siksa Karyawati

Alumnus ITS Surabaya ini memang memiliki hobi di bidang seni. Di antaranya melukis, menjahit, dan membuat beberapa kerajinan tangan seperti anyaman. Latar belakang tersebut akhirnya membawa Opie membuatkan sebuah boneka bagi anaknya. Kemudian boneka tersebut dinamainya vakikus.

“Kemudian banyak yang tertarik dan saya mulai memproduksi boneka sendiri. Banyak kerabat yang tertarik dengan boneka berbahan dasar kain yang saya buat,” beber perempuan kelahiran Batu, 30 Maret 1971 ini.

Seiring berjalannya waktu, pesanan semakin banyak. Ia tak bisa mengerjakan sendiri. Sehingga mengajak tiga orang ibu rumah tangga dekat rumahnya untuk ikut mengerjakan.  Tak hanya itu, dia juga mengajarkan anak-anak penyandang disabilitas yang tengah menuntut ilmu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Eka Mandiri Kota Batu. Ia mengajar sebagai volunter. 

Epie mengatakan awal mula mengajari anak-anak difabel melalui temannya yang mengenalkan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Lapas Wanita Sukun, Kota Malang. Namun karena merasa jauh, temannya menyarankan menjadi volunter di SLB Eka Mandiri.

Baca Juga :  LIMA KUNCI NAIK KELAS

“Saat itulah saya mulai mengajarkan anak-anak untuk membuat boneka vakikus. Saya mengajar seminggu sekali tiap hari Senin sebagai pengajar ekstrakurikuler dengan 10 murid,” papar ibu tiga anak ini.

Kehadiran alumnus SMAN 1 Batu ini bikin anak-anak SLB Eka Mandiri bersemangat. Mereka tertarik membuat boneka. Namun di SLB anak-anak tidak tahu mau dikemanakan hasil kerajinan boneka tersebut. 

“Saya tawarkan agar anak-anak bisa diberdayakan. Artinya mereka membuat kemudian dijual. Dengan barang bisa terjual artinya mereka bisa berkarya secara berkelanjutan. Selain itu juga punya pendapatan,” terangnya.

Boneka vakikus yang dikerjakan ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak difabel laris manis. Bahkan boneka tersebut telah mendapat label Standar Nasional Indonesia (SNI). Penjualannya pun menembus pasar hingga luar negeri.

Baca Juga :  Tetap Mawas, Penularan Korona Masih Tinggi

Beberapa pesanan datang dari Kanada, Australia, Amerika, Jepang, hingga Arab Saudi. Dalam sebulan, rata-rata membuat 40-100 boneka. Tiap boneka dihargai mulai Rp 75 ribu hingga Rp 300 ribu dari ukuran 23 cm, 35 cm dan 50 cm.

Diungkap Epie, kelebihan boneka yang dibuatnya memiliki konsep seperti boneka barbie. Sehingga mulai dari baju, sepatu, hingga asesori lainnya bisa gonta-ganti. Serta bisa menyesuaikan karakter fisik anak yang memesan.

Selain itu, kelebihan dari boneka yang digarapnya bersama ibu-ibu dan anak disabilitas ini pada goresan lukisan bagian wajah boneka. Ia melukis sendiri wajah boneka. Begitu juga goresan pada asesori lainnya. “Lebih dari itu. Apa yang saya lakukan saat ini karena saya ingin bermanfaat bagi orang sekitar,” pungkasnya. (kerisdianto/van)