Rekomendasi Pakar ITS untuk Hadapi Ancaman Puting Beliung Jelang Musim Hujan

Ilustrasi angin kencang/Foto: Dok. detikcom

Surabaya, NewMalangPos – Awal musim hujan di Jatim diprakirakan pada Oktober 2021. Masyarakat perlu mewaspadai ancaman angin puting beliung.

Salah satu yang bisa dilakukan yakni memeriksa kekuatan pohon. Agar tidak terjadi pohon tumbang yang memakan korban.

Peneliti Senior dari Pusat Penelitian dan Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Dr Amien Widodo mengatakan, musim hujan selalu bersamaan dengan diikuti angin kencang hingga puting beliung. Ini hampir selalu diikuti robohnya rumah-rumah, pohon hingga papan reklame.

Amien menyebut banyak ahli di dunia mengungkap dalam beberapa tahun ini, kondisi cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Ini berarti angin puting beliung juga banyak terjadi dan kekuatannya semakin besar.

Baca Juga :  Tolak Bala, Keranda Jenazah di Pasuruan Digotong Ibu-ibu

“Angin puting beliung sulit diprediksi kapan datangnya sehingga sementara ini dianggap anugerah atau given, karena itu suatu daerah yang pernah dilewati angin kencang maka harus waspada dan siap siaga mengantisipasi angin yang sama di musim berikutnya,” kata Amien di Surabaya, seperti dikutip dari detikcom, Jumat (17/9).

Tak hanya itu, Amien berpesan agar manusia jangan hanya menyalahkan angin. Karena, tidak semua bangunan roboh atau rusak karena angin. Dia mengatakan, biasanya pasti ada masalah ‘internal’ dengan bangunan atau pohon yang roboh tersebut.

Untuk itu, Amien merekomendasikan pemerintah hingga masyarakat memeriksa pohon. “Pohon yang ada di pinggir jalan, di taman-taman, di kantor, di sekolahan itu sengaja ditanam. Oleh karena posisinya berdekatan dengan manusia dan aktivitasnya, maka pohon itu diberlakukan seperti bangunan. Tapi kalau pohon itu ada di hutan atau di gunung yang tidak ada aktivitas manusianya dibiarkan saja,” papar Amien.

Baca Juga :  Sengketa Merk, NMP Mohon Hakim Tolak Gugatan MP

Amien juga menyarankan bagi pihak yang berwenang memelihara pohon, mulailah melakukan pemeriksaan terhadap pohon. Terutama yang berada di tempat umum dan membahayakan aktivitas manusia jika roboh.

Selain itu, dari kajian ITS menyebut beberapa kasus pohon tumbang disebabkan pohon sudah tua dan sudah tidak tumbuh lagi, keropos di bagian tengahnya, dimakan rayap dan batangnya mulai mengering.

“Lalu ada pula yang kanopinya terlalu lebar, penanaman awal bukan bibit tapi stek sehingga akar tunggang tidak ada. Atau yang kondisi tanahnya yang sangat lunak, atau yang air tanahnya dangkal dan airnya asin sehingga akar tidak tumbuh ke bawah tapi ke samping,” jelasnya.

Baca Juga :  25 Situs Sejarah di Lamongan Ditetapkan Jadi Benda Cagar Budaya

Amien pun mengimbau masyarakat yang bermukim di sekitar pohon, diharapkan ikut aktif mengamati. Lalu, segera melaporkan ke pihak yang berwenang sehingga bisa segera ditindaklanjuti.

“Kalau sekiranya kondisi pohon sudah rawan roboh dan membahayakan masyarakat di sekitarnya maka segera ditebang dan diganti yang baru,” pesannya.

(sun/bdh/dtk/mg7/jon/nmp)

artikel Pilihan