Tentang Legenda Naga Baruklinting di Telaga Ngebel Ponorogo

Monumen Naga Baruklinting (Foto: Charolin Pebrianti/Detik News)

NewMalangPos – Telaga Ngebel yang berada di kaki Gunung Wilis lekat dengan legenda Naga Baruklinting. Telaga ini sekitar 30 kilometer ke arah timur dari pusat Kota Ponorogo.

Bahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ponorogo juga membangun Monumen Naga Baruklinting di sudut telaga, sebagai salah satu spot foto.

Budayawan Ponorogo, Gondo Puspito menjelaskan, legenda Naga Baruklinting memang ada di Ngebel. Salah satu buktinya yakni adanya petilasan dan makam Nyi Latung serta adanya lesung yang memfosil di daerah Kare, Madiun.

“Telaga Ngebel itu berawal dari sebuah legenda tentang seorang anak kecil perubahan wujud dari seekor ular besar atau naga,” tutur Gondo saat ditemui di rumahnya, Jalan Kiai Solihin, Dukuh Tawangsari, Kelurahan Paju, Kecamatan Kota, seperti diberitakan Detik News, Sabtu (13/2).

Ceritanya, lanjut Gondo, pada saat itu penduduk desa tengah mengadakan acara besar berupa selamatan atau kenduri. Kemudian masyarakat desa berburu di hutan ternyata sampai sore hari belum ditemukan binatang buruan.

“Lha setelah kelelahan mereka beristirahat di sebuah tempat, salah satu penduduk desa menancapkan parang atau goloknya di akar pohon,” jelas Gondo.

Saat diamati, getah akar pohon tadi merupakan darah dari seekor ular besar. Kemudian ular besar ini tadi dibunuh oleh masyarakat desa.

Tempat kejadian itu oleh warga Ngebel dinamakan Semampir. Hingga saat ini ada satu pohon yang dipercaya warga sebagai lokasi penemuan ular besar itu. Sebab, di batang pohon tampak guratan bekas kulit ular yang menempel di pohon yang dikeramatkan warga.

Baca Juga: Suara Gemuruh Terdengar Lagi di Langit Bandung

“Setelah dibunuh, daging ular itu pun dibawa ke desa untuk dimasak,” imbuh Gondo.

Sementara di lain lokasi, muncul seorang anak kecil yang meminta makan ke seorang nenek. Namanya Nyi Latung atau Mbok Rondo Latung. Di sini si anak dijamu dan diberi makan. Kemudian dia pun berpesan ke Nyi Latung jika terdengar teriakan warga desa dan suara air, Nyi Latung disuruh naik lesung dan membawa centong nasi.

“Si anak kecil tadi kemudian menuju ke pesta atau lokasi selamatan di sana, dia membuat sayembara dengan menancapkan lidi. Bila dicabut maka dia akan kalah. Kalau tidak bisa dicabut maka si anak tadi meminta makanan,” kata Gondo.

Ternyata setelah masyarakat berkerumun, tidak ada yang berhasil mencabut lidi tersebut. Si anak kemudian mencabut lidi hingga mengeluarkan air bah. Daging ular yang dimasak pun kemudian berubah menjadi keong.

“Tak berapa lama Nyi Latung pun mendengar teriakan dan suara air, dia pun langsung teringat pesan si anak tadi untuk naik lesung dan membawa centong nasi,” terang Gondo.

Nyi Latung pun terbawa arus ke arah barat laut hingga terdampar di batu besar yang saat ini dinamakan Bale Batur yang berada di Desa Ngebel. Di sini juga terdapat makam Nyi Latung. Hingga saat ini kondisinya pun masih terjaga.

“Sementara lesung Nyi Latung terbawa arus hingga ke sungai di Kare, Madiun yang saat ini memfosil,” papar Gondo.

Disinggung soal legenda Naga Baruklinting persis dengan yang terjadi di Rawa Pening Semarang, menurut Gondo, ini merupakan ‘nunggak asma’ atau persamaan nama. Sebab, naga merupakan hewan mitologi yang dianggap sebagai dewa di Jawa.

“Kenapa namanya Baruklinting karena sisiknya berbunyi klinting-klinting bukan lonceng,” pungkas Gondo.(sun/bdh/dtk/nmp)