Putri Kartini Malang 2021, Gali Aspek Brain dan Behaviour

7
PANTAU: Para penanya, Noer Adinda Zaeni (kiri), Arrum Ajeng Gandina (tengah), dan Stenly Rehardson (kanan) memantau sesi deep interview para grand finalis Putri Kartini 2021 Malang secara virtual.

MALANG – Sesi deep interview secara virtual grand finalis menjadi rangkaian lanjutan gelaran Putri Kartini Malang 2021, Selasa (6/4/2021).

Dalam sesi ini diulas aspek-aspek yang diperlukan menjadi Putri Kartini Malang 2021, di antaranya behaviour dan brain.

“Deep interview ini tujuannya untuk mengetahui karakter lebih dalam dari para peserta. Mereka ditanya tentang kegiatan apa saja yang dilakukan selama pandemi. Lalu ada pertanyaan-pertanyaaan tentang pribadi finalis yang tentunya ingin diketahui,” ungkap Penanggung Jawab Putri Kartini Malang 2021 Stenly Rehardson.

Melalui deep interview, kata Stenly, juri berupaya mengetahui aspek penting selain beauty (kecantikan) para peserta. Di sesi tersebut, juri akan memetakan aspek behaviour (perilaku) dan brain (kepintaran) lewat sesi tanya jawab secara pribadi.

Sebelumnya, mereka tidak diberi tahu kisi-kisi pertanyaannya seputar apa saja. Jawaban dari setiap grand finalis sifatnya spontan saat itu juga, sesuai dengan apa yang ditanyakan, sekaligus mengukur wawasan. Sementara aspek behaviour, Stenly menyebutkan, tetap ada aspek yang bisa diperhatikan sekalipun diselenggarakan secara virtual.

“Tetap bisa diperhatikan. Misalnya dari cara mereka berbicara, berkomunikasi juga. Bahkan penampilan mereka, sekalipun hanya virtual,” paparnya. Untuk penampilan, Stenly menjelaskan, pakaian peserta dibebaskan asalkan rapi dan berselempang.

Stenly mengapresiasi antusiasme grand finalis pada deep interview yang pertama. Menurutnya, kesiapan mereka sudah sangat baik menjelang malam puncak Putri Kartini Malang 2021, Jumat (9/4) mendatang. Kesiapan itu juga terlihat dari kesesuaian peserta dengan tema ajang tersebut, yaitu Cerdas Bermedsos Kini dan Nanti.

“Menurut panitia, sebagian besar sudah prepare banget untuk ajang ini. Sudah sesuai tema juga,” jelas Stenly.

Dia menegaskan, pertanyaan antara satu peserta dengan lainnya relatif tidak sama. Hanya ada satu pertanyaan saja yang sama. Sisanya, pertanyaan dikembangkan sesuai kebutuhan yang perlu digali lebih dalam oleh penanya.

“Kalau detail apa saja yang ditanya, tidak bisa disampaikan. Karena masih ada separo lagi,” jelas dia. Dengan begitu, setiap peserta harus menyiapkan diri sebaik mungkin, ketimbang harus memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan para juri keesokan harinya.

Para peserta hanya diberikan sejumlah pemberitahuan terkait dengan penampilan mereka besok. Misalnya, penggunaan tautan untuk sesi deep interview. Kemudian aturan soal berpakaian. Lalu juga ada batas waktu deep interview. Terakhir soal pemberitahuan oleh panitia jika peserta  akan diundang masuk ke tautan ruangan yang sudah dikirim.

Stenly juga menjadi satu di antara tiga juri penanya pada sesi deep interview. Dua juri lainnya Noor Adinda Zaeni dan Arrum Ajeng Gandina. Ketiga juri sudah melakukan sesi tanya jawab terhadap 15 grand finalis dari total 30 grand finalis. Setiap peserta diberikan waktu kurang lebih tujuh menit. Jadi hanya ada satu grand finalis yang berhadapan langsung dengan tiga penanya tersebut.

“Ada 15 grand finalis yang diwawancarai mendalam satu per satu secara zoom. Awalnya hanya ada 14, tetapi satu anak karena besok ada kegiatan, mintanya hari ini,” ungkap dia. (abr/van)