Pudarnya Karakter Wajah Kota

9
Ir. Budi Fathony, MTA Arsitektur ITN Malang

NewMalangPos – Pada setiap kota masalah penampilan wajah tidak boleh dianggap sepele. Karena wajah kota yang pertama kali hadir dan melekat dalam benak pengamatnya. Wajah kota mempunyai penampilan elemen pelengkap kota seperti bangunan dan taman maupun rekaman suasana yang tercipta dari paduan elemen-elemen tersebut. Paduan tersebut akan membentuk karakter yang khas.

Kota Malang,  yang berdiri dan berkembang sejak 100 tahun lebih, memiliki karakter khas tertentu, yang dalam perjalanan telah mengalami banyak perubahan. Perubahan terjadi akibat dampak kemajuan zaman untuk memenuhi kebutuhan manusia, seperti lahan, fasilitas, dan elemen pendukung lainnya.

Dalam perubahan ini terlIhat kawasan kota Malang memiliki  mempunyai potensi lokal yang luar biasa untuk digali menjadi kekuatan ekonomi. Perkembangan kota Malang yang begitu cepat mengakibatkan banyak bangunan yang menjadi ciri khas kota sudah dipugar dan menjadi beralih fungsi menjadi bangunan komersial.

Beberapa kawasan dan gedung lama yang perlu dilestarikan ternyata akhirnya dibongkar. Peraturan Daerah No.1 tahun 2018 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan Cagar Budaya masih belum sepenuhnya dipatuhi dan terkesan sebagai “macan kertas” saja. Kekhawatiran yang sedang dialami bangunan lama ini berarti juga mengancam terhadap hilangnya karakter suatu kota atau kawasan. Karena karakter dan nilai suatu kota yang pernah ada perlu dipertahankan dengan baik agar tidak terdesak oleh perkembangan kebutuhan kota yang tidak mempunyai identitas.

Ketika karya arsitektur tengah mendapat perhatian masyarakat, maka saat itulah peran arsitek ditantang lebih teliti dan serius dalam melangkah untuk mewujudkan hasil akhir desainnya. Pertumbuhan arsitektur tidak dapat disamakan dengan kehidupan manusia dari mulai lahir hingga meninggal dan tidak begitu saja. Dunia arsitektur harus melahirkan suatu ide tertentu, syukur-syukur ide spektakular.

Bidang arsitektur marupakan suatu proses dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan suatu ide-ide yang terbaik. Selama kehidupan manusia masih berlangsung, maka arsitektur-pun selalu ada dalam proses perkembangannya. Bagaimanapun proses tersebut tidak sekedar membalikkan telapak tangan, atau hasil dari mimpi di siang bolong namun perlu mempelajari perkembangan arsitektur yang pernah ada sebelumnya.

Munculnya aliran-aliran baru arsitektur di Malang Raya saat ini menjadi fenomena yang perlu dicermati dan perlu kajian yang lebih teliti, mengapa demikian? Perkembangan ini ternyata sejalan dengan pertumbuhan akan kebutuhan manusia. Pesatnya informasi dan komunikasi telah melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru, termasuk kebutuhan berarsitektur.

Hampir saja sulit untuk membedakan mana karya arsitektur yang baik dan cocok pada suatu tempat. Apalagi jika karya arsitektur tercipta akibat dipaksakan oleh kepentingan dan kekuatan tertentu (uang dan kekuasaan). Akibatnya perkembangan arsitektur saat ini cenderung pada gaya yang tidak jelas masuk di aliran arsitektur-nya.

Wabah virus ini telah terjadi di belahan bumi tercinta Indonesia sehingga lebih cenderung gaya popular alias berdasarkan pesanan sesaat yang tidak mempunyai jatidiri yang kuat. Gaya arsitektur lebih seperti gado-gado dan terlihat semrawut, dan bukan sebagai  produk suatu pembangunan yang tidak terpikirkan secara terpadu.

Perubahan-perubahan yang terjadi merupakan hasil dari tuntutan kebutuhan kota akan fasilitas-fasilitas penunjang kota, yang tidak mungkin untuk dihalangi.

Seharusnya, penentuan fungsi yang akan menggantikan fungsi lama sesuai dengan rencana kota menurut (RTRW dan RDTRK).  Namun di Malang, sering terjadi proses yang tidak demikian, di mana pentingnya pemeliharaan peninggalan sejarah menjadi terabaikan, seperti:

Renovasi Wajah Balaikota Malang, dengan alasan tidak jelas, terjadi tahun 2002 lalu.

Kawasan Bumi Tanjung menjadi kawasan perumahan mewah, terjadi tahun 2004. APP Jalan Veteran menjadi Malang Town Square, terjadi tahun 2005. Alun-alun Pusat Kota Malang nyaris jadi Alun-alun Junction terjadi tahun 2006. Stadion Gajahyana menjadi Malang Olympic Garden, terjadi tahun 2006 dan Taman Kunir di Munir menjadi Kantor Kelurahan, terjadi tahun 2006.

Banyak bangunan dirancang oleh para arsitek profesional untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tertentu. Sering kepentingan tersebut kurang memperhatikan aspek lingkungan, termasuk lingkungan sosial budayanya. Di lain pihak, tradisi lokal dibuat justru untuk mempertahankan aspek-aspek tradisional yang menjadi ciri khas kota dan lingkungan serta jatidiri masyarakatnya. Dari sinilah gagasan untuk melakukan revitalisasi terhadap momumen karya arsitektur kota Malang.(*)