Puasa Spirit Keagamaan

14

NewMalangPos – Sebagai seorang mukmin, melaksanakan puasa wajib setahun sekali pada bulan ramadan, akan tetapi, tahukah kita semua mengapa perlu melaksanakan puasa? Sebagian dari kita mungkin akan menjawab, bahwa kita melaksanakan puasa karena memenuhi kewajiban, atau berpuasa karena berharap adanya pahala atau sebaliknya karena takut berdosa. Dalam bahasa yang lebih tegas, sebagian mukmin berpuasa karena takut pada ancaman neraka (pendapat Qurais Shihab, 2009).

Puasa ramadan merupakan kewajiban bagi seorang mukmin yang mukallaf, dalam Alquran dan Hadits terdapat penjelasan tentang kewajiban puasa ramadan adalah bagian dari rukun Islam yang wajib dilaksanakan, berarti melaksanakan puasa karena landasan kewajiban semata.

Pemahaman seperti ini akan membuatnya berpuasa semata-mata menggugurkan kewajiban, walauapun tidak sepenuhnya salah, tetapi jika berkutat hanya pada pemahaman dan kurang bisa memaknai ibadah puasa yang dilakukan.

Pemahaman terhadap puasa semata kewajiban membuat puasa yang dilakukan tidak pernah meningkat, dan meningkatkan pemahaman tentang puasa, tidaklah mudah. Maka dari itu, puasa harus dimaknai ibadah yang memiliki cakupan dimensi individual, sosial, dan vertikal, yang pada akhirnya melahirkan kebugaran jasmani dan rohani manusia.

Seorang muslim melaksanakan puasa adalah wujud keimanan dan ketundukannya pada Allah SWT; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Puasa adalah tanda keimanan seorang muslim. Pakar Tafsir Quraish Shihab mengatakan bahwa ayat ini adalah undangan bagi mereka yang beriman walau seberat apapun, di mana dengannya orang beriman menggapai ketakwaan.

Quraish Shihab mengisyaratkan bahwa apa yang diwajibkan sedemikian penting dan bermanfaat bagi setiap orang bahkan kelompok, sehingga seandainya bukan Allah yang mewajibkannya, niscaya manusia sendiri yang akan mewajibkan atas dirinya.

Sedangkan kata minqoblikum dalam ayat di atas menunjukkan bahwa ada banyak kelompok umat manusia yang melakukan puasa dengan berbagai cara. Misalnya orang-orang Mesir kuno, sebelum mereka mengenal agama samawi, sudah mengenal puasa. Begitu juga orang-orang Yunani, Romawi, penganut agama Nasrani, Yahudi, Budha, dan lain-lain.

Saat seseorang berpuasa berarti sedang melangkah mendekatkan diri dengan sifat Tuhan. Puasa adalah sebuah metode atau cara yang dilakukan manusia untuk menghayati apa yang dihayati oleh Allah. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT:”…padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?…” (QS. al-An’am: 14).

Allah tidak makan, tetapi memberi makan. Jika manusia sudah menghayati keadaan Allah, yang tidak makan, maka Ia diibaratkan besi yang dimasukkan ke dalam api. Ia akan memiliki sifat api, berubah warnanya menjadi merah, demikian pula dengan puasa. Puasa yang benar akan membuat pelakunya mendekat kepada sifat-sifat Tuhan.

Puasa adalah amalan yang sangat pribadi, saat seseorang berpuasa, tak seorang pun yang mengetahui, apakah ia benar-benar berpuasa atau sekadar pura-pura, yang mengetahui seseorang berpuasa hanya dirinya dan Tuhan. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap amalan anak Adam untuknya satu kebaikan dibalas dengan 10 sampai 700 kebaikan. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena dia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’(HR. Bukhari dan Muslim). Semoga semua dapat memaknai puasa dengan baik dan benar, sehingga meraih derajat takwa.(*)