Puasa Online Menyehatkan Mental

Bayu Dharmala Universitas Muhammadiyah Malang

NewMalangPos – Damai dan penuh sukacita dirasakan oleh masyarakat Indonesia di Bulan Ramadan tahun ini. Namun ada baiknya melihat progress baik apa saja yang sudah kita tingkatkan selama bulan suci ini. Menahan haus dan lapar? Menahan amarah dan segala jenis hawa nafsu? Sepertinya ada yang kurang jika tidak melakukan puasa online.

          Mengingat kini sebagian besar orang menghabiskan waktu di dunia digital, baik anak anak, remaja atau yang sekarang dikenal dengan Gen Z, hingga orang dewasa. Mereka berseluncur di dunia maya dengan berbagai motif: berbelanja online, belajar online, berkomunikasi online, hingga bermain game online.  

          Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 hingga 2019 tentang prosentase penduduk pengguna internet menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada 2017, prosentase penduduk pengguna internet dengan usia di atas 25 tahun adalah 50,14 persen, jumlah ini meningkat pada 2018 sejumlah 54, 15 persen, dan prosentase tersebut konsisten naik di tahun berikutnya sejumlah 55, 84 persen.

          Ini berarti lebih dari setengah penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Trend tersebut berbanding lurus dengan kejahatan siber yang kian marak terjadi. Menurut data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang bulan Januari hingga Agustus 2020, terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia, naik lebih dari empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat di kisaran 39 juta.

          Oleh karena itu, Bulan Suci Ramadan ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan puasa online dalam upaya mengurangi kejahatan siber dan mendekatkan diri kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Lalu mengapa puasa online menjadi urgent untuk dilakukan?

Baca Juga :  Persoalan Covid-19 Adalah Pengetahuan

          Tentu kita sadari bahwa aktivitas online membawa banyak manfaat, namun tidak dipungkiri juga membawa beragam malapetaka karena aktivitas online juga menjadi sumber hawa nafsu manusia. Menyelam di beragam platform ternama seperti Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, Twitter dan semacamnya memiliki risiko tinggi berkonflik dengan sesama netizen, mengapa? Perbedaan pendapat, kurangnya empati, atau bahkan pembuat postingan yang tidak beretika sangat mungkin memicu emosi warganet.  

          Menjaga diri agar tidak menyulut dan tersulut adalah dengan membatasi penggunaan sosial media. Tidak meninggalkan jejak digital berupa komentar pedas atau menjadi “kompor” di postingan orang lain. Tak hanya tentang bermain media sosial, tetapi juga menghindari transaksi-transaksi online yang berlebihan seperti belanja di e-commerce.

          Godaannya adalah diskon besar-besaran, bebas ongkir, dan tawaran promo lain. Bukankah esensi dari puasa itu menahan diri? Salah satunya menahan diri dari belanja hal-hal yang tidak dibutuhkan. Tetapi masih banyak orang yang berdalih dengan kalimat-kalimat afirmatif “siapa tau butuh”, “mumpung murah”, “selagi masa promo”, “pas diskon besar besaran”, dan sebagainya.

          Dengan mengikhtiarkan puasa online tentu akan menjadi rem terhadap kebiasaan kebiasaan boros tersebut. Hal serupa yang perlu di-puasa-kan ialah penggunaan aplikasi online berbasis on demand. Kok bisa? Keinstanan dari penggunaan aplikasi on-demand membuat konsumen mudah sekali membuang uang digitalnya.

Baca Juga :  Maklumat Kapolri dan Posisi Media

          Biasanya m-banking, penyedia jasa ojek online, aplikasi penjualan tiket dan semacamnya. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan sifat konsumtif masyarakat yang bila tidak dikontrol tentu akan bermuara pada pemborosan. Di lain sisi,  jika dilihat dari sisi keamanannya, aplikasi online berbasis on-demand memiliki risiko peretasan yang cukup tinggi.        Banyak kasus peretasan aplikasi yang merugikan penggunanya. Dilansir dari CNBC Indonesia, salah satu kasus pembobolan rekening melalui m-banking menggunakan kode OTP telah terjadi tahun lalu,  Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus dan dikutip Senin (7/9/2020) menjelaskan bahwa “Setelah e-mail terbuka keluarlah data Bank BNI dan Commonwealth yang dilaporkan Ilham Bintang kalau dua rekening beliau habis terkuras. Kerugian total dari Commonwealth Rp 200 juta lebih, BNI Rp 83 juta.” Ketika kita bisa menahan diri dan lebih berhati hati saat berseluncur di dunia maya tentu dapat meminimalisir kejahatan online.

          Puasa online sangat penting sebagai upaya mengurangi kedaruratan moral. Kita tahu bahwa kini banyak orang mudah sekali meninggalkan jejak tulisan yang tak pantas dan mudah menghakimi. Selain itu, karena Kita diwajibkan menahan diri, artinya juga menahan untuk tidak menyebarkan hal-hal yang negatif maupun informasi kontroversial yang belum tentu kebenarannya. Hal yang sering kita temui adalah broadcast di grup keluarga yang asal share tanpa ber-tabayun.           Manfaat lain yang tidak kalah penting dari puasa online ialah menjaga kestabilan mental, dari buku berjudul The Fast Diet, Michael Mosley mengatakan puasa dapat menyebabkan pelepasan produksi protein ke otak yang dinamakan BDNF (Brain-derived neurotrophic factor). Protein otak yang dilepaskan ini memiliki efek yang mirip dengan efek obat-obatan antidepresan sehingga tingkat kecemasan, stres, dan depresi ringan bisa menurun.     

Baca Juga :  TEROKA: Hakekok

          Bagaimana cara menerapkan puasa online di masa pandemi ini? Hal pertama yang bisa dilakukan ialah meningkatkan kesadaran diri atas apa yang dibutuhkan dan hal apa saja yang patut dilakukan. Kedua ialah dengan membatasi penggunaan media sosial. Instagram memiliki fitur untuk membatasi penggunaan, Kita bisa setting sehari berapa menit untuk mengunjungi media sosial tersebut.

          Ketiga adalah “me-replace” penggunaan media sosial dengan aplikasi-aplikasi islami yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mengganti playlist You Tube dengan kajian-kajian bernuansa islami. Pastikan melakukan cara-cara ini secara mindfulness sehingga makna ramadan tidak sekadar menjadi “tobat” sesaat namun bisa berkelanjutan.         

          Dari seluruh paparan di atas, kita jadi tahu keutamaan berpuasa yang tidak hanya menahan haus dan lapar. Ternyata puasa online mempengaruhi keseluruhan hidup kita agar menjadi hamba Tuhan sekaligus netizen yang lebih baik. Baiknya di bulan suci ini menjadi langkah awal untuk menjadi hamba-Nya yang lebih taat dan agamis. Tak hanya tentang menahan nafsu, tetapi menghindari kemudhorotan, mencegah kejahatan berbasis online dan menyehatkan mental serta pikiran.(*)