Puasa di Jagat Konten

5
new malang pos
Sugeng Winarno - Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

NewMalangPos – Puasa itu sejatinya tak sekadar tak makan dan minum pasca sahur hingga jelang waktu Maghrib. Puasa esensinya adalah pengendalian diri, sikap dan perilaku.

Pengendalian diri itu tak hanya di dunia nyata saja namun juga di jagat maya. Banyak orang lulus menjalani puasa di dunia nyata tetapi tak sedikit yang gagal puasa dari dunia maya. Puasa di era maraknya jagat konten saat ini memang tak mudah.

          Tak jarang orang tergantung pada dunia digital. Aktivitas go online seperti searching dan bermain media sosial (medsos) menjadi aktivitas keseharian yang dapat membuat ketagihan (candu). Situasi pandemi Covid-19 yang belum seratus persen teratasi juga menuntut banyak orang melakukan aktivitas online. Kini sejumlah urusan pekerjaan, pendidikan, interaksi sosial, dan pemenuhan kebutuhan banyak dilakukan secara daring.

          Tak sedikit orang dalam melakoni aktivitas daring yang kebablasan. Berjam-jam waktunya dihabiskan di depan layar komputer, laptop, smartphone, atau aneka gadget. Tak semua produktif. Banyak orang menghabiskan waktunya hanya untuk mencipta konten demi eksistensi diri. Tak jarang orang rela berlama-lama berburu konten di medsos yang belum jelas kemanfaatannya.

Online Culture

          Situasi pandemi membuat banyak orang harus menghindari interaksi fisik dan menggantikannya melalui ranah online. Banyak aktivitas yang sebelumnya dilakoni secara tatap muka langsung (luring) kini telah terbiasa dilakukan secara online (daring). Seiring berjalannya waktu, aktivitas online telah menjadi hal yang biasa. Banyak urusan akhirnya dilakukan lewat daring. Aktivitas online kini telah membudaya (online culture).

          Sesungguhnya ada atau tak ada pandemi, kegiatan online seperti sudah menjadi tuntutan zaman. Berkat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dan lahirnya media baru (new media) berwujud internet serta munculnya aneka platform medsos, semakin mendukung lahirnya online culture. Tingginya penetrasi internet dan medsos telah merubah perilaku banyak orang termasuk saat menjalankan ibadah puasa.

          Tak jarang orang berpuasa namun aktivitas online-nya jalan terus. Bahkan tak sedikit saat puasa justru kegiatan bermedsos ria semakin meningkat. Bagi sejumlah orang bermedsos menjadi semacam pelampiasan (katarsis) untuk menghilangkan kejenuhan dan menunggu saat Maghrib tiba. Hingga tak jarang orang semakin aktif di medsos, unggah dan unduh konten demi eksistensi diri.

          Tak sedikit pengguna medsos yang mengunggah konten-konten seputar puasa. Aneka makanan saat santap sahur maupun berbuka bermunculan di medsos. Bahkan aktivitas ibadah salat tarawih, foto-fotonya banyak dijumpai di aneka laman medsos. Aktivitas ibadah yang sesungguhnya masuk wilayah privat justru menjadi konsumsi publik. Konten-konten terkait Ramadan dan puasa pun terus membanjiri lini masa.

          Masifnya konten-konten terkait puasa di medsos bisa membuktikan bagaimana banyak orang yang tak bisa lepas dari medsos. Smartphone yang selalu dalam genggaman semakin memudahkan orang memproduksi konten dan membagi-bagikannya pada orang lain. Masalahnya, tak semua konten tepat dan layak dikonsumsi saat puasa. Alih-alih mau berbagi konten positif justru tak jarang medsos telah menjadi ajang narsis, riya’, dan pamer ibadah.

          Online culture yang tak tepat justru sering menjerumuskan orang melakukan perilaku yang dapat mengurangi pahala ibadah puasa. Tak semua konten di medsos sejalan dengan spirit Ramadan. Pengguna medsos harus pandai-pandai memilih dan memilah konten-konten mana yang layak dikonsumsi dan konten mana yang harus dijauhi. Kalau dirasa belum cukup bijak bermedsos tentu puasa medsos bisa jadi pilihan tepat.  

Hiperrealitas Konten Puasa

          Dunia maya memang bukan dunia nyata. Realitas yang ditampilkan dunia maya bisa tak serupa dengan kenyataan. Dunia maya memungkinkan terjadinya realitas virtual (virtual reality). Sebuah realitas yang bisa menipu karena dunia maya memfasilitasi terjadinya rekayasa. Segala konten yang terkait puasa bisa mungkin tampil secara tipu-tipu. Realitas konten puasa di dunia maya tak jarang dimunculkan oleh para pengguna media digital secara hiper. 

          Informasi di dunia maya bisa datang dari sumber yang tak jelas (anonim). Sifat anonimitas pembuat konten inilah yang memungkinkan siapa saja bisa memproduksi konten apa saja. Orang bebas mengunggah narasi yang belum teruji kebenarannya. Bahkan sering informasi palsu yang tersaji di medsos dibuat menyerupai yang asli. Di medsos informasi abal-abal bercampur dengan yang asli hingga sulit dipilih dan dipilah. Tak jarang para konsumen media kebingungan dalam menemukan informasi yang benar.

          Realitas terkait puasa yang ditampilkan medsos banyak yang berupa realitas hiper dan semu. Faktanya terkadang dilebih-lebihkan, didramatisir hingga menjadi hiper. Hiperrealitas merupakan sebuah ungkapan yang awalnya dikonsepkan oleh pemikir asal Prancis, Jean Baudrillard (1994) dalam bukunya yang berjudul “Simulacra and Simulation.” Secara sederhana hiperrealitas bisa dimaknai sebagai sebuah kondisi yang melampaui realitas. Hiperrealitas sering dapat dijumpai dalam dunia maya, ketika pembeda antara kenyataan dan fiksi menjadi membaur dan kabur.

          Konsep hiperrealitas informasi yang terjadi di media menurut Baudrillard untuk menjelaskan terjadinya perekayasaan atas realitas oleh media. Hal ini bisa terjadi karena perkembangan teknologi telah memfasilitasi terjadinya simulasi. Simulasi merupakan penciptaan realitas media yang justru tak mengacu pada realitas di dunia nyata. Realitas yang muncul justru realitas kedua yang sumber rujukannya adalah diri sendiri yang dinamakan dengan simulacrum.

          Menurut Yasraf Amir Piliang (2003) dalam bukunya “Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna”, mengemukakan bahwa dalam hiperrealitas kepalsuan berbaur dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dan dusta bersenyawa dengan kebenaran. Dunia hiperrealitas sebagai sebuah dunia perekayasaan realitas lewat permainan tanda yang melampaui kenyataan sehingga tanda-tanda tersebut kehilangan kontak dengan realitas yang ditampilkan ulang.

          Puasa dengan mengendalikan jari dari mengunggah dan mengunduh konten yang tak sejalan dengan Ramadan menjadi penting dilakukan. Ramadan adalah bulan mulia guna meningkatkan iman dan takwa. Ibadah puasa di bulan ini bisa saja ternoda gara-gara kita tak mampu mengendalikan gadget kita.

          Mari barengi puasa mulut, puasa penglihatan, dan puasa tingkah laku buruk dengan puasa menjaga jemari dari memproduksi dan mengakses konten yang dapat mengurangi pahala puasa. (*)