Politisi dari Partai Aung San Suu Kyi Tewas Setelah Ditahan Junta Militer

Ilustrasi: Kekerasan militer terhadap pendemo sebulan sejak kudeta Myanmar (foto: Reuters/Stringer/CNN Indonesia)

NewMalangPos- Situasi kudeta Myanmar makin hari kian mencekam. Seorang pejabat Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Khin Maung Latt dinyatakan meninggal saat menjadi tahanan junta militer Myanmar pada Minggu (7/3). Khin merupakan petinggi dari partai penasihat negara, Aung San Suu Kyi.


Melansir dari cnn Indonesia, Senin (8/3), rekan dan seorang pemimpin Partai NLD mencurigai Khin meninggal setelah disiksa selama dalam penahanan junta militer. Pasalnya, ketika ditangkap oleh kepolisian Myanmar Sabtu lalu kemarin kondisinya masih sehat-sehat saja.


Wakil ketua Partai NLD di Yangon, Khin San Myin mengatakan sebuah foto dari rumah sakit militer tempat Khin meninggal menunjukkan terdapat luka di bagian belakang kepala dan memar di punggunggnya.

Baca Juga :  Kim Jong-un Sebut Berkat Senjata Nuklir Tak Ada Lagi Perang


“Dokter mengatakan itu (luka-luka di tubuhnya) bukan penyebab kematian. Mereka bilang itu karena kondisi jantung,” katanya terkait penyebab kematian Khin.


Seorang pekerja amal yang menolak disebutkan namanya yang melihat jenazah Khin mengatakan ada luka Khin merupakan ketua Partai NLD lokal di Yangon, kota terbesar Myanmar. Seorang kerabat mengatakan bahwa ia ditangkap pada Sabtu sekitar pukul 9 malam.


Seorang petugas di kantor polisi distrik Pabedan, Yangon, daerah saat Khin ditangkap pada Sabtu (6/3) menolak mengomentari kabar kematiannya. Seorang juru bicara tentara (Tatmadaw) Myanmar pun menolak menjawab panggilan telepon untuk memberikan komentar mengenai kabar tersebut.

Baca Juga :  Isu Intel China, Trump Bakal Larang TikTok Beroperasi di AS


Ba Myo Thein, anggota NLD dari majelis tinggi parlemen, yang dibubarkan setelah kudeta, mengatakan temuan laporan luka di kepala dan tubuh Khin menimbulkan kecurigaan bahwa dia telah dianiaya selama dalam penahanan. “Sepertinya dia ditangkap pada malam hari dan disiksa dengan keja. Ini sama sekali tidak bisa diterima,” katanya.


Kelompok advokasi, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan lebih dari 50 pengunjuk rasa telah dibunuh oleh pasukan keamanan. Lebih dari 1.7000 orang sejak kudeta 1 Februari hingga saat ini telah ditahan oleh militer Myanmar.

Baca Juga :  Dideportasi, Kristen Gray Tak Boleh Masuk RI dalam 6 Bulan


Tentara selama ini menolak tuduhan menggunakan kekerasan secara berlebihan terhadap pengunjuk rasa. Militer Myanmar berdalih mengambil kekuasaan setelah komisi pemilihan umum menolak tuduhan adanya kecurangan dalam pemilu November lalu yang dimenangkan oleh NLD.


Sebulan sejak kudeta militer, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 50 orang telah tewas. Sekitar 38 orang tewas dalam unjuk rasa pada 3 Maret lalu, jumlah korban terbanyak dalam sehari selama kudeta berlangsung.


Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Burgener mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan dan memulihkan demokrasi di Myanmar. (evn/cnni/mg2/ley/nmp)