Pesan Cinta Korona

MALANG, NewMalangPos – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berlanjut ke PPKM Level 4 yang diperpanjang hingga 9 Agustus 2021 mendatang.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk semakin menekan laju virus Korona yang belakangan meningkat signifikan. Kegiatan di dunia pendidikan pun secara otomatis mengikuti aturan PPKM ini.

Apapun upaya yang telah dilakukan pemerintah dan setiap individu guna menekan penyebaran virus Korona harus pula disadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah atas izin dan kehendaNya. Korona mampu melumpuhkan segala dimensi kehidupan, termasuk pelaksanaan pendidikan. Melalui Korona ini Tuhan hendak menyampaikan pesanNya,  bahwa hakikat pelaksanaan pendidikan terletak di rumah. Keluarga merupakan komunitas terkecil dari masyarakat yang berperan sebagai tempat pendidikan pertama dan paling utama bagi anak-anak.

Dengan momentum pandemi ini orang tua dapat meningkatkan intensitas belajar bersama di rumah. Membangun kedekatan yang barangkali kurang terjalin bagi orang tua yang keduanya sibuk bekerja. Orang tua bisa menyulap rumah menjadi sekolah dan mereka adalah guru-guru terbaik bagi buah hatinya.    Peran orang tua dalam pendidikan anak, jelas dan tegas bahwa mereka adalah pendidik yang utama dan pertama. Dalam Pasal 26 ayat (1) UU 35/2014 dijelaskan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak, serta memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak. Tetap dampingi anak di rumah. Bukankah Korona telah mendidik kita untuk banyak tinggal di rumah bersama keluarga. Keluarga adalah tempat kembali terindah. Di luar sana banyak pejuang keluarga yang merindukan saat-saat terindah untuk bertemu keluarganya. Pesan cinta Korona ini, Allah sedang memuliakan para pejuang-pejuang keluarga.

Baca Juga :  MENAKAR HABITAT PEMUKIMAN RUSUN

Perhatikan sekeliling kita saat ini, penjual jamu menjadi pahlawan yang mungkin kini kehadirannya ditunggu. Minum jamu saat ini menjadi ritual banyak orang, sekadar untuk menjaga stamina atau meningkatkan imun. Para penjual masker laris manis daganganya.

Para pasukan biru, penjaga dan cleaning servise Ka’bah yang sempat viral di media sosial. Mereka yang mungkin dulu tidak pernah berpikir untuk bisa menikmati ibadah di depan ka’bah karena di seputar Ka’bah telah berjejal para jamaah dari seluruh penjuru dunia. Kini para pasukan berseragam biru tersebut sedang dimuliakan Allah bisa khusuk beribadah di depan Ka’bah tanpa terganggu siapa pun.

Teramat banyak pesan cinta Korona yang hendak disampaikanNya. Di antaranya, berpakaianlah yang tertutup dan bersih. Jaga ucapan, makanan, dan pendengaran. Bukankah masker Korona telah mendidik kita  menutup mulut, lidah, telinga dan hidung? Bukankah Korona telah memberikan pesan cintaNya  untuk sosial distancing dan physical distancing, jaga jarak, bahkan bersalaman pun tidak bersentuhan.

Pesan cinta Korona berikutnya, belajar bersabar. Hampir setiap hari terdengar berita duka. Satu persatu, kerabat, sahabat, keluarga, bahkan saudara kita berpulang. Bersabar dan ikhlaskan. Bukankah Korona telah memberikan pesan cintaNya bahwa tempat tinggal abadi adalah akherat. Perbanyak ibadah, meski di rumah. Kelak, jika Korona telah sirna jangan lagi malas ke rumah rumah Ibadah.

Baca Juga :  Pendidikan Agama Islam dan Society 5.0

Bukankah Korona telah mendidik kita, bagaimana sedih dan stresnya kita tanpa ada tempat memohon, berdoa, tak bisa beribadah berjamaah dan salat di masjid dalam suasan batin yang damai. Bagaimana sedihnya melepas saudara kita yang meninggal tanpa disalatkan di Masjid. Saat ini kita harus bersabar dalam kerinduan untuk dapat meluruskan shaf dan merapatkan barisan dalam salat.

Jangan lagi ada rasa angkuh, sombong, dan merasa serba bisa. Bukankah virus Korona yang kecil dan tak tampak mata itu telah mendidik kita, bahwa tidak ada yang mampu mencegahnya jika Korona ingin datang atau sekedar mampir saja. Korona tidak mengenal status sosial, miskin atau kaya, tua atau muda, pembesar atau rakyat biasa. Dekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Bukankan Corona telah mendidik kita, dalam suasana Korona aktif menyebar, semua orang ketakutan dan semua orang baru mendekat berdzikir dan berdoa, memohon perlindungan TuhanNya.

Jaga kebersihan dan ketertiban. Bukankah Korona telah memberikan pesan cintaNya agar selalu menjaga kebersihan badan, pakaian, barang dan lingkungan dengan rajin mandi, mencuci tangan, semprot antiseptik dan disinfektan, dan tidak sembarangan membuang sampah.

Jangan lagi abai dan masa bodoh pada anugerah Allah yang melimpah tak terbatas. Seperti sinar matahari, tumbuhan yang menyehatkan dan sejenisnya. Perbanyaklah bersyukur atas  karunia gratis itu semua. Bukankah Korona telah memberikan pesan cintaNya  agar rajin berjemur dan olahraga agar daya tahan tubuh kita lebih kuat.

Baca Juga :  Menanti Vaksin Ajaib

Tingkatkan semangat kebersamaan, solidaritas, saling tolong menolong. Jangan lagi semua dihitung berdasarkan kepentingan pribadi dan pamrih. Bukankah Korona telah memberikan pesan cintaNya  bahwa kita tidak mampu mengurus diri sendiri, kita butuh orang lain yang meski bukan saudara. Seperti dokter, perawat, dan tetangga.

Kalau tidak ada orang lain yang menolong, bisa mati mendadak di jalanan saat dihindari orang karena takut tertular. Perkuat iman, yakinilah pada hal hal ghaib yang tak tampak mata. Bukankah Korona telah berpesan pada kita bahwa meski virus Korona tidak tampak, tapi nyata adanya.

Selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan Akherat dengan perbanyak  kebaikan, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dan amal sholeh. Hidup di dunia ini hanya sementara saja, sewaktu waktu bisa mati. Bukankah Korona telah memberikan pesan cintaNya bahwa kematian bisa datang menjemput secara tiba-tiba, pada siapa saja dan di mana saja.

Apapun yang terjadi saat ini, semua adalah wujud cinta kasihNya. Kita harus senantiasa bersyukur dalam setiap situasi dan kondisi. Termasuk bersyukur telah diberi pemimpin yang bijaksana. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ini harus dipatuhi agar siklus meningkatnya penyebaran Korono tidak terjadi lagi.

Semoga kepatuhan kita dalam PPKM dengan tetap menjaga potokol kesehatan, jangan berkerumun, jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan, dan tetap di rumah saja, dapat segera memutus penyebaran Covid 19. Bukahkan Korona telah memberikan pesan cintaNya bahwa taat kepada ulil amri/ pemimpin adalah sebagian dari iman.(*)

artikel Pilihan