Perilaku Ghosting pada Mahasiswa

19

NewMalangPos – Beberapa hari terakhir ini, istilah ghosting menjadi populer di media, khususnya media sosial setelah salah seorang ibu yang bernama Meilia Lau mengunggah curhatanya yang merasa kecewa atas perilaku Kaesang Pangarep, putra bungsu presiden Jokowi, kepada putrinya Felicia Tissue.

Kaesang dianggap sebagai seorang laki-laki yang “kejam” dan ingkar janji karena meninggalkan Felicia Tissue  yang sudah dipacarinya selama sekitar 5 tahun, tanpa memberi informasi apapun, alias menghilang begitu saja.        Perilaku Kaesang ini kemudian disebut sebagai perilaku ghosting. Sebenarnya fenomena perilaku ghosting bukanlah hal yang baru dalam relasi sosial, namun sudah berlangsung sejak lama.

Pengertian ghosting secara umum mengacu kepada situasi dan kondisi tatkala seseorang secara tiba-tiba memutuskan atau menarik diri (withdrawal) atas suatu hubungan dengan orang lain, dengan cara menghentikan atau memutuskan seluruh komunikasi dan relasi sosial  tanpa penjelasan. Ghosting dianggap sebagai sebuah perilaku anti sosial karena akan menimbulkan dampak psikologis pada korban ghosting.

Seperti perasaan sakit hati, kecewa, merasa tidak dihargai, hilang kepercayaan diri, dan sebagainya. Pelaku ghosting sendiri dianggap sebagai orang yang ambigu karena di satu sisi dia ingin menarik diri dari suatu hubungan, sementara di sisi lain dia merasa takut untuk menyatakan secara terus terang kepada pasangan hubungannya. Perilaku ghosting umumnya terjadi pada hubungan antar dua orang (dyadic), baik dalam konteks relasi pacaran (romance), pertemanan (friendship), atau bentuk relasi sosial lainnya.

Penulis melakukan survey tentang perilaku ghosting pada mahasiswa melalui penyebaran angket dalam bentuk google.form, yang terdiri dari 14 pertanyaan. Sebanyak 224 mahasiswa dari beberapa daerah di Indonesia seperti Malang, Jogjakarta, Bandung, Banda Aceh, dan sebagainya, secara sukarela ikut berpartisipasi dalam mengisi angket. Dari 224 partisipan mahasiswa tersebut, sebanyak 168 orang  (75 persen) adalah perempuan (mahasiswi) dan sebanyak 56 orang (25 persen) adalah laki-laki (mahasiswa).

Secara umum, survey ini ingin mengungkap bagaimana perilaku ghosting pada mahasiswa dalam dua hal, yakni sebagai inisiator atau pelaku ghosting (ghoster) dan sebagai korban ghosting (ghostee).

Dalam hal sebagai pelaku ghosting (ghoster), hasil survey menunjukkan bahwa sebesar 85,7 persen (192 mahasiswa) menyatakan bahwa mereka pernah melakukan ghosting (ghoster), sedangkan sebesar 14,3 persen (32 mahasiswa) menyatakan tidak pernah melakukan ghosting (tidak pernah menjadi ghoster).

Dari sebesar 85,7 persen mahasiswa yang pernah melakukan ghosting, sebesar 69,9 persen menyatakan mereka pernah melakukan ghosting sebanyak 1-2 kali saja, sebesar 15,8 persen sebanyak 3-5 kali, dan sebesar 14,4 persen melakukan ghosting lebih dari 5 kali.

Dalam konteks relasi apa mahasiswa melakukan ghosting? Sebesar 54 persen menyatakan mereka melakukan ghosting dalam konteks relasi pertemanan (friendship) dan sebesar 46 persen dalam konteks relasi pacaran (romance). Mengenai apa alasan mahasiswa melakukan ghosting, sebesar 40,6 persen menyatakan karena sudah tidak ada kecocokan (sering terjadi konflik) dalam menjalin relasi, sebesar 22,8 persen merasa bosan atau jenuh, sebesar 10,3 persen menginginkan adanya suasana baru, sebesar 8,5 persen menyatakan mereka melakukan ghosting sebagai bentuk balas dendam, sebesar 6,3 persen karena alasan adanya “orang ketiga” atau karena perselingkuhan. Dan sebesar 11,6 persen menyatakan karena faktor lain.

Selanjutnya penulis menanyakan terkait bagaimana perasaan mahasiswa ketika melakukan ghosting? Hasil survey menunjukkan bahwa sebesar 56,6 persen pelaku ghosting menyatakan perasaanya biasa saja saat melakukan ghosting, sebesar 18,1 persen menyatakan merasa kasihan, sebesar 15,3 persen menyatakan menyesal karena melakukan ghosting, sebesar 6,5 persen merasa puas dan senang karena telah melakukan ghosting, dan sebesar 4,6 persen tidak menjesakan perasaannya.

Penulis juga menanyakan tentang bagaimana respons orang atau pihak yang di-ghosting (ghostee).  Hasil survey menunjukkan sebesar 37 persen  menyebutkan tidak ada respons dari ghostee, sebesar 24,5 persen pihak ghostee meminta penjelasan kepada pihak ghoster, sebesar 14,4 persen  pihak ghostee menyatakan kekecewaanya, sebesar 9,7 persen pihak ghostee mengajak berbaikan dan akan memperbaiki hubungan, sebesar 4,6 persen pihak ghostee marah, sebesar 1,4 persen pihak ghostee mengancam balas dendam, dan sebesar 8,3 persen dalam bentuk respons lainnya.

Mengenai penilaian mahasiswa tentang perilaku ghosting, dari 224 partisipan mahasiswa sebesar 66,5 persen menyatakan bahwa perilaku ghosting sebenarnya merupakan perilaku yang tidak baik. Sebesar 28,5 persen menyatakan perilaku ghosting sebagai perilaku yang wajar, sebesar 1,4 persen menyatakan ghosting sebagai perilaku yang baik. Sedangkan sebesar 3,8 persen tidak berpendapat.

Sedangkan dalam hal sebagai korban ghosting (ghostee), sebesar 89,7 persen mahasiswa menyatakan bahwa mereka pernah menjadi korban ghosting, dan sebesar 10,3 persen menyatakan tidak pernah menjadi korban ghosting. Dari 89,7 persen mahasiswa yang pernah menjadi korban ghosting, sebesar 56,7 persen menjadi korban ghosting dalam konteks relasi pacaran (romance) dan sebesar 43,3 persen dalam konteks relasi pertemanan (friendships).

Bagaimana respons mahasiswa ketika di-ghosting? Sebesar 30,4 persen mereka melakukan instrospeksi diri. Sebesar 26,3 persen berusaha untuk meminta penjelasan kepada orang yang meng-ghosting, sebesar 29,9 persen mereka bersikap diam dan menerima atas tindakan ghosting, sebesar 7,1 persen berusaha mencari tahu alasanya melalui orang lain, sebesar 3,1 persen mereka menunjukkan sikap marah terhadap pelaku ghosting, sebesar 0,4 persen melakukan balas dendam, dan sebesar 2,2 persen memberikan respons dalam bentuk lainnya.

Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang tercermin dari kemampuanya untuk menjalin dan mempertahankan relasi sosial dengan orang lain, baik secara personal maupun secara kelompok. Beberapa kebutuhan dasar manusia (human basic need) bisa terpenuhi melalui jalinan relasi sosial.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Abraham Maslaw tentang Hierarki kebutuhan manusia yang meliputi: Kebutuhan fisiologis (physiological needs), Kebutuhan akan rasa aman (safety/ security needs), Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (social needs), Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), dan Kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualization needs).

Proses relasi sosial pada dasarnya adalah merupakan suatu proses pertukaran sosial (social exchange) dimana pihak-pihak yang melakukan relasi sosial akan mampu bertahan apabila di dalamnya ada proses take and gave yang simbang dan saling menguntungkan.(*)